Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Mengenang Aceh ‘Pungo’

Admin1 by Admin1
25/01/2022
in Kolom
0
Saat Belanda Cemburu Hubungan Aceh-Portugis

Oleh Muhammad YS. Penulis adalah pemerhati sosial dan penikmat sanger di Cekmin Kupi Sigli

Bagi pihak Belanda, fenomena ini menjadi suatu hal yang tidak biasa. Mereka menyebutnya Atjeh Moorden atau ‘pembunuhan Aceh’. Selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungoe (Bahasa Aceh), atau Aceh Gila. Penyematan kata ‘gila’ merujuk pada anggapan awal pihak Belanda mengenai sikap orang Aceh yang bisa tiba-tiba menghunus rencongnya dan menyasar orang Belanda. Oleh orang Belanda, ini dianggap sebagai gejala psikologis.

Perbuatan nekat itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh orang waras. Maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo.

Suatu ketika, puas usai memantau anak buahnya, Schmid (Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon) beranjak pulang. Baru beberapa langkah ia meninggalkan lapangan, tiba-tiba seorang Aceh lewat di hadapannya. Orang itu berhenti lalu memberi ‘tabik’ atau salam penghormatan. Schmid mengangkat tangannya untuk membalas salam penghormatan orang itu sembari tersenyum. Baru saja ia melihat sang pemberi tabik menurunkan tangannya, ketika ia sadar, ujung rencong orang itu sudah menembus perutnya.

Shcmid lengah! Ia tak melihat orang tadi menarik rencong yang diselipkan di pinggangnya. Schmid terhuyung dan sekarat. Seragamnya basah oleh darah. Kendati diboyong ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong. Schmid tewas.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon, Kapten Charles Emile Schmid tewas pada suatu Senin yang cerah, tepatnya tanggal 10 Juli 1933 di Aceh. Tragis memang. Sang kapten tak mati di medan perang atau di rimba pertempuran. Ia mati ditusuk di depan pasukannya sendiri. Ditikam!

Lokasi di mana Schmid ditusuk seharusnya menjadi tempat paling aman dari serangan musuh. Terlebih, tempat itu dekat dengan tangsi-tangsi militer milik Belanda. Lantas, kenapa si pelaku penusukan berani melakukannya? Inilah yang disebut “Aceh pungoe.”

Previous Post

Walikota Anugerahi Penghargaan Kepada Pemerhati Pariwisata di Banda Aceh

Next Post

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Aceh di Atas Empat Persen

Next Post

BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Aceh di Atas Empat Persen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Kejari Aceh Timur Tuntut Direktur BUMD 7,5 Tahun Terkait Korupsi Sawit

Kejari Aceh Timur Tuntut Direktur BUMD 7,5 Tahun Terkait Korupsi Sawit

19/06/2026
Pemko Banda Aceh Gerak Cepat Beri Bantuan Masa Panik untuk Korban Kebakaran

Pemko Banda Aceh Gerak Cepat Beri Bantuan Masa Panik untuk Korban Kebakaran

19/06/2026
Al-Farlaky Kumpulkan Pimpinan PKS, Bahas Harga TBS, CSR hingga Investasi di Aceh Timur

Al-Farlaky Kumpulkan Pimpinan PKS, Bahas Harga TBS, CSR hingga Investasi di Aceh Timur

19/06/2026
Pria di Aceh Jaya Serahkan Diri Usai Bacok Penderes Getah hingga Tewas

Pria di Aceh Jaya Serahkan Diri Usai Bacok Penderes Getah hingga Tewas

19/06/2026
65 Guru MIN Wilayah Barsela Ikuti Bimtek Koding dan AI

65 Guru MIN Wilayah Barsela Ikuti Bimtek Koding dan AI

19/06/2026

Terpopuler

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

18/06/2026

Kakanwil Kemenag Aceh Lantik 40 Pejabat Fungsional, Tekankan Inovasi dan Kerja Tim dalam Melayani Umat

Rian Firmansyah Dorong Seniman Aceh Jadikan Budaya sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif

Mengenang Aceh ‘Pungo’

Haji Kamaruddin Terpilih sebagai Ketua Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com