Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Mengulik Sejarah Terbentuknya Kerajaan Pulau Tuangku

Admin1 by Admin1
18/07/2022
in Kolom
0

Oleh Idaman Syahputra Caniago. Penulis adalah siswa SMA N 1 Pulau Banyak Barat

Pulau Tangku adalah nama kecamatan Pulau Banyak Barat sebelum berdiri menjadi kecematan di Kabupaten Aceh Singkil, selain banyak menampilkan tempat wisata bahari,pulau ini juga menyimpan peradaban sejarah salah satu nya yakni kerjaan Pulau Tunaku

Kerajaan Pulau Tuangku terbentuk pada saat pertemuan Malikul Baraya dengan penduduk daratan kampung lamo. Malikul Baraya merupakan seorang pengembara dari Kota Padang campur melayu dan beragama Islam.

Sejarahnya waktu itu dia melakukan perjalanan menuju Pulau Aisakhu. Tiba saat beliau sedang melakukan rutinitas ibadah, tampak sekelompok manusia yang terdiri beberapa orang yang menuju tempat yang sama dima dia singgah yakni Pulau Aisakhu.

Sebelum orang-orang tadi menaiki Pulau Aisakhu, Malikul Baraya bertanya perihal apa kedatangan mereka,salah seorang dari mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka di Pulau tersebut yaitu karena melihat kabut asap dari kejauhan yang berasal dari Pulau Aisakhu tersebut dan hendak bertujuan bersilaturahmi dengan orang yang ada di Pulau ini.

Malikul Barayapun mempersilahkan mereka untuk masuk,setelah lama berdiskusi ternyata sekolompok orang itu adalah penduduk asal Kampung Lamo yang berada dipinggiran pantai Pulau Tuanku,di antaranya berinisial Tutuwon, Lawoek dan Lasengak dan kawan-kawan.

Merekapun mengajak Malikul Baraya pergi ke Kampung Lamo dimana tempat mereka tinggal,Malikul Baraya menerima ajakan itu dan pergi bersama kelompok tersebut,sesampai di Kampung Lamo itu Malikul Baraya memutuskan untuk tinggal di kampung itu bersama mereka untuk sementara waktu.

Setelah Tinggal di kampung itu, Malikul Baraya melihat banyak sekali terjadi pertikaian perebutan kekuasaan anatar kelompok penduduk yang hendak menjadi raja diantara beberapa kelompok tersebut,termamasuk dari kerajaan Aceh yang hendak ikut dalam memimpin masyarakat di pulau itu dan sekaligus ingin ambil ahli wewenang kekuasan Kampung Lamo untuk mereka kuasai.

Melihat keadaan itu Malikul Baraya berperan menjadi orang tengah untuk menyatukan pertikaian antar kelompok tersebut, dengan kehebatan ilmu pengetahuan yang ia miliki miliki mampu menyelesaikan permasalahan dan dapat melindungi penduduk kampung lamo dari berbagai ancaman dari berbagai pihak hingga berkehidioan rukun dan aman.

Atas jasanya tersebut,penduduk Kampung Lamo memberikan ia gelar (Imam garang) Karena dia di nilai mampu melindungi kedaulatan kampung lamo,adapun tutuwon(Datuk besar kampung Lamo dan orang-orang terkemuka di kampung berinisiatif menjadikan Malikul Baraya menjadi pemimpin/raja.

Akan tetapi Malikul Baraya menolak tawaran itu, di karenakan dia memang tidak ingin jadi Raja dan sudah dari awal dia memutuskan untuk tinggal sementara dan akan pulang ke kampung halamannya yang berada di Kota Padang.

Mendengar ucapan tersebut masyarakat mengadakan musyawarah mengenai di terbentuknya kepemimpinan siapa yang akan menjadi Raja, setelah cler bermusyawarah Malikul Baraya memberikan usul akan membawakan seseorang keturunan Raja yang juga familinya dari Suku Caniago dari Sumatra Barat (padang).

Oleh masyarakat dan para pemuka kampung ikut setuju akan usul tersebut,hal itu dilakukan agar kerajaan dapat pengakuan dari kerajaan lain yang ada di Pulau Sumatra. Lalu pergilah Malikul Baraya ke Padang tepatnya dikampung Pagaruyung, dia langsung menjumpai Sultan yang berdaulat di kerajaan Padang, untuk menyampaikan dan menceritakan hasil musyawarah penduduk Kampung Lamo tersebut,

Setelah Sultan mengetahui hal itu, ia langsung mengabulkan permintaan Malikul Baraya tersebut, kemudian Sultan mengutus adiknya yang paling bungsu bernama Sultan Malingkar Alam dan sekaligus Sultan memberikan tugas kepada Malikul Baraya untuk mendampingi perjalanan adiknya ke Kampung Mamo yang dijadikan raja (pemimpin).

Akhirnya mereka melakukan perjalanan menuju Kampung Lamo tanpa pengawalan, sesampainya disana Sultanpun di perkenalkan dan langsung di angkat menjadi Pemimpin. Malikul Baraya yang sudah menepati janjinya membawa seorang Raja, dan sudah menyelesaikan tugasnya mendampingi perjalanan Sultan Makingkar Alam dia pun pamit akan pulang ke kampung halaman di Padang sesuai dengan niatnya dari awal.

Namun, Sultan Malingkar Alam tidak setuju akan kepulangan Malikul Baraya ke Padang,Sultan akan ikut pulang bila Malikul Baraya pulang ke Padang, karena Sultan Malingkar Alam belum terlalu berpengalaman dan tak sanggup sendirian tanpa Malikul Baraya untuk menghadapi masalah yang kapan saja bisa terjadi.

Ketika penduduk dan orang terkemuka kampung mendengar hal itu bahwasanya sultan Malingkar Alam akan juga ikut pulang bersama Malikul Baraya ke padang. Datuk serta masyarakat langsung menaruh kepercayaan dan pengharapan besar kepada keduanya.

Dimana orang terkemuka tadi seperti Datuk besar menawarkan dan memberikan lahan kepada Sultan Malingkar Alam berupa Gunung Tiuusa beserta daratannya Untuk ia kelola sendiri dan juga Pulau Lamun sebagai kebutuhan raja dimanah pulau itu sudah di tumbuh pohon kelapa yang begitu banyak.

Sementara, Malikul Baraya diberikan tanah daratan Tulale sampai Nabahan dan juga di beri tiga buah pulau diantara-Nya Pulau Tailana, Pulau Orongan dan Pulau Sikadang sebagai bentuk terima kasih warga kepada Malikul Baraya atas jasanya selama di Kampung Lamo dan telah memenuhi apa yang ia janjikannya mendatangkan seorang Raja.

Karena kepercayaan dan besarnya pengharapan penduduk, niat Malikul Baraya ingin pulang terpaksa harus ia urungkan demi penduduk desa Kampung Lamo dan juga demi mendampingi Sulatan Malingkar Alam hingga tiba di kampung itu.Mendengar tawaran itu kedua nyapun tidak jadi pulang ke Padang dan memilih untuk tinggal menjadi raja di Kampung Lamo tersebut, Malikul Baraya pun diangakat oleh Makingkar Alam sebagai penasihat Raja.

Sesudah selesainya perihal tersebut barulah di bentuk kepemimpinan baru antara lain sebgai Raja Malingkar Alam,sebagai Plpenasihat Malikul Baraya sekaligus menjaga kedaulatan darat Maupun laut di kawasan Kampong Lamo kemudian bantu oleh empat Datuk yaitu Tutuwon, lasengak, lawoek,dan Hutabarat.Sejak itulah berdirinya kerajaan Pulau Tuanku.

Kemudian untuk menambah banyaknya penduduk kampung Lamo, Penasihat dan Raja berinisiatif setiap orang singgah atau pendatang yang datang ke Kampung ini,raja dan penasihat menawarkan untuk tinggal di situ dengan memberikan fasilitas berupa tempat tinggal dan memberikan lahan tanah untuk di kelola sendiri dengan syarat harus menetap di kampung lamo.

Beginilah atauran yang galakkan oleh sang Raja sehingga kampung ini ramai dikunjungi orang luar dari berbagai suku dan memutuskan untuk tinggal di Pulau ini,sehingga penduduk pulau ini bertambah dan bertahan samapi sampai kini,Sedangkan nama Pulau Tuangku itu sendiri di diambil dari nama raja ke lima dari keturunan raja pertama (Makingkar Alam).

Sejak itulah berjalanlah kerajaan yang ada kampung lamo dengan penuh kedamaian, tiba saat nya Malikul Baraya dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Bayanudin ,saat sudah dewasa dan di bekali dengan ilmu pengetahuan Bayanudin diangakat menjadi kepala Panglima Kerajanan Kampung Lamo.disitulah malikul baraya memberikan dua bilah pedang kekuasaan panglima Darat dan Laut.

Selang beberapa tahun jabatanya di turunkan kepada anaknya bernama Ma‘Arif, di karenakan Bayanudin akan pergi ke suatu Daerah yang berada di Nias, sebelum ia meninggalkan kampung panglima Bayanudinpun menyerahkan dua bilah pedang kepada anaknya Ma’arif.

Sedangkan panglima Bayanudin diangkat jadi pemimpin dan bertugas menjaga daerah nias dan daerah itu ia beri nama tunjang manok dalam bahasa Nias “luza manu”, beliau pun tinggal dan wafat di sana.Setelah lebih 300 tahun berjalannya masa kerajaan kampung lamo baru masuklah orang yang di kenal dengan sebutan Bedil Uyuk (baeha) ia sendiri menjadi salah satu murid panglima Ma’arif dan Bedil Uyuk diangkat sebagai panglima laut yang baru.

Itulah cerita singkat tentang terbentuk nya kerajaan Pulau Tuanku berwal dari kampung lamo hingga membentuk kerajaan yang diperankan oleh Malikul Baraya,semoga tulisan ini bisa menjadi catatan sejarah bagi generasi baru Pulau Tuanku.

Previous Post

Malam Ini, Mantan Vokalis Ada Band Manggung di Stadion Harapan Bangsa

Next Post

Resmi Jadi Ketua IKA-USU Aceh, Safaruddin: Siap Berkontribusi Membangun Daerah

Next Post

Resmi Jadi Ketua IKA-USU Aceh, Safaruddin: Siap Berkontribusi Membangun Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Din Saja: Buku “Syair Rubai Syariat Musafir” Bernuansa Sufistik dan Spiritual

Din Saja: Menjadi Seniman Tidak Cukup Hanya Bisa Berkesenian

31/05/2026
Penggunaan Musik Tari Tanpa Izin oleh SMAN 1 Jangka Bireun Disesalkan Komposer

Penggunaan Musik Tari Tanpa Izin oleh SMAN 1 Jangka Bireun Disesalkan Komposer

31/05/2026
Polda Riau Bongkar Jaringan Narkoba Aceh-Jakarta, 300 Cartridge Etomidate dan Ekstasi Disita

Polda Riau Bongkar Jaringan Narkoba Aceh-Jakarta, 300 Cartridge Etomidate dan Ekstasi Disita

31/05/2026
Pengunjung Padati Museum Tsunami Aceh di Momen Idul Adha

Pengunjung Padati Museum Tsunami Aceh di Momen Idul Adha

31/05/2026
Hadiri Khanduri Laot dan Santunan Anak Yatim, Bupati Al-Farlaky Ajak Sinergi Bangun Aceh Timur

Hadiri Khanduri Laot dan Santunan Anak Yatim, Bupati Al-Farlaky Ajak Sinergi Bangun Aceh Timur

31/05/2026

Terpopuler

Senat UIN Ar-Raniry Angkat Suara Soal Turunnya KPK ke Aceh

Senat UIN Ar-Raniry Angkat Suara Soal Turunnya KPK ke Aceh

30/05/2026

Lulus Seleksi di Bireuen, Atlet Sepak Bola Al Zahrah Lanjut Seleksi Regional Pra POPDA Aceh

Kejagung Didesak Usut Indikasi Pungli Revitalisasi Sekolah di Aceh Selatan

Mengulik Sejarah Terbentuknya Kerajaan Pulau Tuangku

Ketua dan Kader Gerindra Abdya Sembelih Dua Ekor Sapi Kurban

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com