Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Memori Hitam Pekat Usai 15 Tsunami Melanda Aceh

Admin1 by Admin1
25/12/2019
in Feature
0

SUASANA masih pagi. Namun Mata Tarmizi kian terasa terkantuk-kantuk. Ia mengaku baru pulang dari pos jaga.

“Saat itulah gempa terjadi. Di rumah seperti berayun,” ujar Tarmizi lagi.

Gempa terasa sangat kuat. Saat itu sekitar pukul  08.58 WIB.

Tarmizi merupakan korban yang selamat dari tsunami Aceh, 26 Desember 2004 lalu. 15 tahun lalu atau saat Tsunami, Tarmizi masih berumur 32 tahun. Tarmizi saat itu mengaku berada di dalam rumah di pesisir Aceh Besar atau tepatnya Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

“Kami seperti berayun. Saya belum pernah merasakan gempa sekuat itu seumur hidup,” ujar Tarmizi, 47 tahun.

Karena tak bisa tidur, Tarmizi mengaku keluar rumah. Saat itulah ia mengaku melihat orang-orang berlarian.

“Dalam keadaan setengah sadar, saya melihat orang berlari.”

“Air naik, air.. naik, air.. naik, teriak orang-orang itu. Namun saya masih berdiri memandangi laut. Di belakang seperti tembok raksasa. Hitam dan pekat. ”

Kecepatan rambat gelombang tsunami dapat mencapai 800 kilometer per jam di samudra dalam dan bebas.

Mendekati pantai yang dangkal dan dengan kecepatannya yang besar, gelombang tsunami menjadi tinggi dan kemudian terempas ke arah daratan.

Gelombang itu sangat besar. Berwarna hitam dan penuh belerang.

Bagi Tarmizi, tsunami bergerak dengan cepat menyapu pesisir. Laksana kobra yang sedang murka.

“Saat itu, ia mengaku tiba-tiba tersapu gelombang.”

Tarmizi mengaku tak dapat mengingat dengan benar selama dibawa air.

“Saya sudah pasrah saat itu. Ketika terbangun sudah di sekitar Lamgapang. Lumayan jauh.”

Ia kemudian melihat hamparan kosong dari tempatnya berdiri hingga ke arah laut. Tak ada yang tersisa.

“Kemudian saya terjatuh dan terbangun di rumah sakit kawasan Blang Bintang. Biarpun sudah 15 tahun Tsunami, ingatan ini tak akan pernah hilang,” ujarnya lagi.

Sama seperti korban selamat lainnya, Tarmizi mengaku memperingati dengan datang ke kuburan massal setiap tahunnya.

“Berdoa untuk keluarga yang telah tiada. Semoga diberi tempat yang layak di sana,” ujar dia.

Dari catatan media diketahui, tsunami yang menerjang Aceh dan beberapa negara dekat Samudra Hindia banyak menimbulkan korban jiwa. Setidaknya tercatat dari Sumatra sampai Kepulauan Andaman, Thailand, India Selatan, Sri Lanka dan sebagian Afrika, ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara.

Kerusakan parah terjadi di wilayah Aceh dengan kurang leih sekitar 170.000 orang tewas. Semua bangunan hancur yang berada di sekitar pantai dan ratusan orang kehilangan tempat tinggalnya.

 

Tags: 15 tahun tsunami acehtsunami aceh
Previous Post

Misa Natal di Gereja di Semarang Diiringi Rebana dari Pesantren

Next Post

Sejumlah Kuburan Massal di Pesisir Aceh Besar Dibersihkan

Next Post

Sejumlah Kuburan Massal di Pesisir Aceh Besar Dibersihkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Hujan Deras Sebabkan Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Gayo Lues

Hujan Deras Sebabkan Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Gayo Lues

30/06/2026
Dosen Psikologi Unimal Fasilitasi Support Group bagi Korban Kekerasan di Aceh Utara

Dosen Psikologi Unimal Fasilitasi Support Group bagi Korban Kekerasan di Aceh Utara

30/06/2026
Ruhama Tanjong Terima Kunjungan Tim Asesor Badan Akreditasi Dayah Aceh

Ruhama Tanjong Terima Kunjungan Tim Asesor Badan Akreditasi Dayah Aceh

30/06/2026
Di Balik Tambang Rp 200 Triliun Beutong Ateuh: Jejaring Buronan Cina, ‘Gubernur Bayangan’, dan Arogansi Penguasa

Di Balik Tambang Rp 200 Triliun Beutong Ateuh: Jejaring Buronan Cina, ‘Gubernur Bayangan’, dan Arogansi Penguasa

30/06/2026
Jerman Diguncang Penembakan Massal, 5 Orang Tewas

Jerman Diguncang Penembakan Massal, 5 Orang Tewas

30/06/2026

Terpopuler

Memori Hitam Pekat Usai 15 Tsunami Melanda Aceh

25/12/2019

Malangnya Nasib Asri, Bus Terbakar Habis Masih Bebani Ganti Rugi

Dua Remaja di Abdya Dikabarkan Hanyut di Laut Ujong Manggeng

Dugaan Mark Up Arena MTQ Aceh Mengemuka, Aktivis Mahasiswa Minta APH Telusuri Aliran Anggaran

Meurah Dua FC Melaju Ke Final Piala Kapolres Pijay, Usai Singkirkan Bandar Baru FC

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com