SUASANA masih pagi. Namun Mata Tarmizi kian terasa terkantuk-kantuk. Ia mengaku baru pulang dari pos jaga.
“Saat itulah gempa terjadi. Di rumah seperti berayun,” ujar Tarmizi lagi.
Gempa terasa sangat kuat. Saat itu sekitar pukul 08.58 WIB.
Tarmizi merupakan korban yang selamat dari tsunami Aceh, 26 Desember 2004 lalu. 15 tahun lalu atau saat Tsunami, Tarmizi masih berumur 32 tahun. Tarmizi saat itu mengaku berada di dalam rumah di pesisir Aceh Besar atau tepatnya Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.
“Kami seperti berayun. Saya belum pernah merasakan gempa sekuat itu seumur hidup,” ujar Tarmizi, 47 tahun.
Karena tak bisa tidur, Tarmizi mengaku keluar rumah. Saat itulah ia mengaku melihat orang-orang berlarian.
“Dalam keadaan setengah sadar, saya melihat orang berlari.”
“Air naik, air.. naik, air.. naik, teriak orang-orang itu. Namun saya masih berdiri memandangi laut. Di belakang seperti tembok raksasa. Hitam dan pekat. ”
Kecepatan rambat gelombang tsunami dapat mencapai 800 kilometer per jam di samudra dalam dan bebas.
Mendekati pantai yang dangkal dan dengan kecepatannya yang besar, gelombang tsunami menjadi tinggi dan kemudian terempas ke arah daratan.
Gelombang itu sangat besar. Berwarna hitam dan penuh belerang.
Bagi Tarmizi, tsunami bergerak dengan cepat menyapu pesisir. Laksana kobra yang sedang murka.
“Saat itu, ia mengaku tiba-tiba tersapu gelombang.”
Tarmizi mengaku tak dapat mengingat dengan benar selama dibawa air.
“Saya sudah pasrah saat itu. Ketika terbangun sudah di sekitar Lamgapang. Lumayan jauh.”
Ia kemudian melihat hamparan kosong dari tempatnya berdiri hingga ke arah laut. Tak ada yang tersisa.
“Kemudian saya terjatuh dan terbangun di rumah sakit kawasan Blang Bintang. Biarpun sudah 15 tahun Tsunami, ingatan ini tak akan pernah hilang,” ujarnya lagi.
Sama seperti korban selamat lainnya, Tarmizi mengaku memperingati dengan datang ke kuburan massal setiap tahunnya.
“Berdoa untuk keluarga yang telah tiada. Semoga diberi tempat yang layak di sana,” ujar dia.
Dari catatan media diketahui, tsunami yang menerjang Aceh dan beberapa negara dekat Samudra Hindia banyak menimbulkan korban jiwa. Setidaknya tercatat dari Sumatra sampai Kepulauan Andaman, Thailand, India Selatan, Sri Lanka dan sebagian Afrika, ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara.
Kerusakan parah terjadi di wilayah Aceh dengan kurang leih sekitar 170.000 orang tewas. Semua bangunan hancur yang berada di sekitar pantai dan ratusan orang kehilangan tempat tinggalnya.







