BLANGPIDIE – Tak bisa dipungkiri, bahwa usia persyarikatan Muhammadiyah yang lebih dari satu abad ini, telah melahirkan sebuah gerakan Kepemudaan yang diberi nama, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).
Hal tersebut dipaparkan oleh Danwil Kokam Aceh, Zikri Wen Gatap saat mengisi materi KOKAM pada agenda Perkadera Baitul Arqam Dasar (BAD) Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Aceh Barat Daya, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Blangpidie, Minggu (09/10/2022).
KOKAM lahir sebagai jawaban atas keprihatinan segenap kader persyarikatan Muhammadiyah pada awal tahun 1965. Tujuan lahirnya adalah untuk memberi dukungan fisik terhadap perjuangan bangsa, inilah bentuk peran konkrit Bela negara dari persyarikatan Muhammadiyah, dalam bersama komponen bangsa yang lainnya dalam memberi dukungan fisik terhadap berbagai bentuk ancaman bagi kedaulatan Negara Republik Indonesia.
Dimasa masa genting, saat terjadinya tragedi Gestapu PKI, kaum komunis mulai berusaha mematangkan kadernya dengan meningkatkan ofensif revolusionernya, dan mulai mengadakan percobaan-percobaan dengan melakukan aksi-aksi sepihak. Pada tanggal 15 November 1961, sekitar 3000 orang anggota yang diberi nama Barisan Tani Indonesia (BTI) mengadakan aksi sepihak, yang menggarap tanah milik Perusahaan Perkebunan Negara secara liar.
Adanya aksi-aksi sepihak itu, kemudian dilancarkan oleh PKI, diberbagai daerah mereka meningkatkan situasi revolusioner sebagai persiapan merebut kekuasaan. Peristiwa Bandar Betsi di Sumatra Utara dimana seorang Letnan angkatan darat, gugur dengan cara dicangkul oleh BTI dan peristiwa itu cukup menyakitkan hati Pimpinan Angkatan Darat.
Bukan cuma itu, lanjut Wen Gatap, PKI dengan gerakannya juga berupaya menggerogotkan ideologi negara. Pancasila diperas menjadi Trisila, Trisila diperas menjadi Ekasila, Ekasila adalah Gotong Royong. Gotong Royong itu terwujud dalam Nasakom. Nasakom adalah singkatan dari Nasional, Agama, dan Komunis.
“Dalam konstelasi politik saat itu, Pemuda Muhammadiyah tidak mendapat tempat di Front Nasional karena ditolak menjadi anggota Front Pemuda. Yang menjadi anggota Front Pemuda hanyalah organisasi Pemuda yang berafiliasi dengan partai politik. Kemudian, untuk mengimbangi kegiatan Internasional yang sudah menjurus ke kiri, ummat Islam mengadakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA),” ungkapnya.
Konferensi pendahuluan dilaksanakan pada tanggal 06-22 Juni 1964 di Jakarta, sedang Main Conference (Konferensi utamanya) diselenggarakan di Bandung dari tanggal 06-14 Maret 1965. Baik pada konferensi pendahuluan maupun pada konferensi utama susunan delegasi Indonesia orangnya tetap seperti Dr. Idham Chalid, Anwar Tjokroaminoto, A. Sjarchu, Sirajuddin Abbas, A Badawi (Muhammadiyah), Wartomo Dwidjojuwono (GASBIINDO), Aminuddin Aziz (NU), Marzuki Yatim (Muhammadiyah), Sofyan Sirajd (PERTI), M. Subhan Z.E (NU), Dja’far Zaenuddin (Al Washliyah), Let. Kol. Isa Idris (Pusrah AD), Syeh Marhaban (PSII), Hamid Widjaja (NU), Drs. Saidan Sohar.
“Drs. Lukman Harun duduk sebagai Wakil Sekretaris merangkap anggota ‘Pratical Working Comite’ untuk delegasi Indonesia. H. S. Prodjokusumo duduk di dalam sekretariat panitia penyelenggara dan ketua seksi pengerahan massa,” terang Wen Gatab.
Seksi pengerahan massa dibagi dua sub, untuk sub seksi pengerahan massa Jakarta dan sub seksi pengerahan massa Bandung. Sub seksi pengerahan massa di Jakarta dipercayakan kepada Kuaseni Sabil (PERTI) sebagai ketua, dan wakil ketua Suhadi (NU) dan wakil ketua Muhammad Suwardi (Muhammadiyah). Kuaseni sebagai ketua tidak dapat berbuat banyak karena di PERTI sulit untuk mengerahkan massa, maka semua kegiatan dipercayakan kepada wakil ketua yaitu Suhadi (NU) dan Drs. H. Muhammad Suwardi.
“Di sinilah, ummat Islam menunjukkan existensinya, unjuk kekuatannya dalam pengerahan massa. Massa ummat Islam terdiri tua-muda, pria-wanita, baik pada waktu penyambutan di Jakarta maupun di Bandung,” sebut Zikri Wen Gatap, seraya mengakhiri paparan materi KOKAM pada BAD PDPM Aceh Barat Daya. [Rusman]







