SIGLI – Ratusan pemuda di kabupaten Pidie deklarasikan “Pemuda Progresif dan Revolusioner” pada acara FGD di Cama Kupi belakang Rutan kelas IIB, Benteng, Rabu 2 November 2022.
Acara tersebut diikuti dari berbagai lembaga mahasiswa dan pemuda dari berbagai kalangan, baik dari OKP dan perwakilan BEM seluruh kampus yang ada di Pidie.
Ketua panitia pelaksana Muhammad Pria Al Ghazi mengatakan kepada Atjehwatch.com, bahwasanya dalam pemuda progresif diwajibkan menghilangkan warna warni dari berbagai macam kelompok dan latar belakang.
“Fokus grup diskusi ini akan dijadikan sebagai wadah kajian dan pengembangan isu-isu kekinian dan dan nantinya apabila perlu akan bergerak dan bertindak,” ujar Muhammad Pria Al Ghazi.
Pantauan langsung Atjehwatch.com, dalam acara FGD tersebut Andi Firdaus Lancok dan Faisal Rizal aktivis 98 menjadi pemantik.
Andi Firdaus Lancok menyampaikan pemuda harus menjadi bagian dari perubahan, ini sebagai langkah awal
“Kegiatan ini sangat positif terlepas dari latar belakang warna, pemuda progresif ini bukan hanya bagian diskusi tapi lebih kepada tinda rill, pemuda progresif harus menjadi pilot projek gerakan perubahan kedepan,” kata Andi Firdaus.
Sementara Faisal Rizal mengatakan diskusi tersebut untuk membangun kesadaran pemuda dalam melihat permasalahan permasalahan rakyat di Pidie.
“Dengan hadirnya “Pemuda Progresif dan Revolusioner” kita berharap menjadi pemersatu kembali pemuda yang selama ini tercerai berai, dan kita akan satukan frékuénsi tanpa membedakan antar sesama pemuda, dan melakukan evaluasi,” jelas Faisal Rizal.
“Diskusi ini untuk menginput berbagai permasalah yang ada di Pidie.”
Menurunnya, jiwa idealisme dan patriotisme, kurangnya lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja, meningkatnya kenakalan remaja serta, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, meningkatnya kekerasan di kalangan pemuda, ketidakjujuran pemuda yang merajalela.
“Rasa hormat kepada orang tua, guru dan pemimpin, terpacunya tindakan kekerasan yang cukup tajam, meningkatnya rasa saling curiga dan kebencian, enurunan etos kerja / malas bekerja, kurangnya rasa tanggung jawab sebagai individu, masyarak Pidie, Aceh dan warga negara, perilaku merusak diri dengan narkoba, dan seks bebas, dan semakin kaburnya pedoman moral, itu menjadi persolan di daerah,” ucap Faisal Rizal.
Dalam pada itu, Organizeing Commitee Zulkifli BI S.Sos M.Si mengatakan, tujuan dilakukannya deklarasi pemuda progresif ini untuk mehilangkan mindset publik bahwasannya pemuda Pidie hanya satu model padahal pemuda Pidie banyak cara dan gerakan untuk perubahan kearah yang lebih baik.
“Sadar sebagai generasi penerus bangsa sehingga tidak ada solusi lain untuk menciptakan sebuah wadah yang nantinya wadah pemuda progresif revolusioner ini akan dijadikan forum grup diskusi (FGD) unutk mendiskusikan berbagai macam persoalan kepemudanaan dan sama sama mencari solusi agar perjuangan pemuda kembali pada khittah perjuangan kepemudaaan,” ujar Doli sapaan akrab Zulkifli BI.
“Kedepan pemuda progresif dan revolusioner akan melakukan diskusi publik mengundang PJ bupati, pimpinan DPRK, Kapolres, Dandim, kejaksaan, pengadilan, MPU (Muspida plus) untuk menanyakan bagaimana menyelesaikan permasalahan permasalahan dalam diskusi hari ini.” jelas Zulkifli BI S.Sos M.Si. [Mul]







