PARA siswa itu berkumpul dalam satu ruangan besar. Mereka duduk berjejar di hadapan para pemateri. Salah satunya adalah Kepala Dinas Syariat Islam, Dr. EMK Alidar SAg.
Suasana yang awalnya hening berubah meriah saat sesi tanya jawab.
“Ada yang bertanya,” ujar moderator. Beberapa siswa mengacungkan tangan.
Dari sudut kanan, seorang siswa berdiri untuk bertanya. “Apa yang harus kita lakukan untuk menjadi siswa berprestasi,” ujar dia singkat.
Ia seolah tak peduli saat beberapa siswa lainnya tersenyum ke arahnya.
Pemandangan ini terekam dalam kegiatan pelatihan talents mapping keagamaan dan ke-Islam-an untuk siswa SMA/SMK/MA tahun 2022, di sebuah hotel di Kota Banda Aceh, Jumat, 23 September 2022 lalu.
Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh, Dr EMK Alidar SAg Hum, berharap siswa SMA sederajat untuk memanfaatkan potensi bakat yang telah ada.
Hal itu dikatakan Kepala DSI Aceh, EMK Alidar, saat membuka kegiatan pelatihan talents mapping keagamaan dan ke-Islam-an untuk siswa SMA/SMK/MA tahun 2022, di sebuah hotel di Kota Banda Aceh, Jumat, 23 September 2022 lalu.
Kegiatan ini sendiri diikuti sebanyak 135 orang.
Ia mengatakan, DSI Aceh bertanggungjawab mengimplementasikan visi dan misi Pemerintah Aceh untuk mewujudkan masyarakat Aceh yang bersyariat, bermartabat, berkeadilan, sejahtera dan mandiri dengan mengamalkan nilai-nilai Dinul Islam secara kaffah serta untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman syariat Islam bagi masyarakat, salah satunya adalah melalui pelatihan talents mapping keagamaan dan ke-Islam-an untuk siswa SMA.
“Kita ketahui bahwa semua orang memiliki potensi diri. Sering potensi diri kita kenal dengan istilah bakat atau kemampuan. Tidak ada seorangpun yang tidak berbakat, yang membedakan adalah ada tidaknya minat untuk mengembangkannya. Bahkan banyak pula yang tidak mengenali bakat diri sendiri yang sesungguhnya telah dimiliki sejak ia dilahirkan,” katanya.
Katanya, bakat dikatakan sebagai potensi bawaan yang dimiliki manusia, sedangkan minat tercipta karena adanya ketertarikan kuat atas sesuatu. Kedua hal ini sering dikaitkan dengan faktor kecerdasan dan kesuksesan seseorang.
Secara ilmiah, para ahli menyatakan, bahwa saat lahir kita memiliki 100 miliar neuron. Tiga bulan atau 60 hari menjelang kelahiran, neuron yang kita miliki itu sudah berkomunikasi satu sama lain. Mereka bahkan membentuk jalinan yang dinamakan dengan axon. Saat jalinan terbentuk, sebuah sinapsispun otomatis terbentuk. Di usia tiga tahun, setiap 100 miliar neuron kita itu telah menciptakan jaringan sinapsis dengan neuron lainnya. Koneksi antar neuron inilah yang menjadi awal mula terbentuknya bakat.
Menurut EMK Alidar, talents mapping adalah sebuah program asesmen pertama yang dikembangkan Indonesia (lokal), untuk mengenali potensi bakat dan kekuatan seseorang dengan menggunakan pendekatan 34 tema bakat. Sebagaimana banyak diketahui bahwa setiap orang telah dianugrahi dengan potensi bakat oleh Yang Maha Pencipta.
“Namun yang patut disayangkan tidak semua dari diri kita mampu menjelaskan dengan baik apa yang menjadi potensi bakatnya, bahkan banyak diantara kita yang tidak banyak mengetahuinya,” katanya.

Salah satu keunggulan dari program talents mapping adalah kemampuannya mengenali potensi bakat seseorang dan memberikan penjelasan secara lengkap tentang potensi bakat serta memberikan panduan bagaimana sebaiknya bersikap dan memanfaatkan sebesar-besarnya potensi bakat yang ada. Oleh karena itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas Syariat Islam Aceh akan mengadakan kegiatan pelatihan talents mapping bagi siswa SMA guna mendapatkan peta potensi diri, yang memberikan gambaran mengenai potensi yang dimiliki setiap individu dan proyeksinya di masa mendatang.
“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak, sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik. Kami berharap kepada para peserta pelatihan dapat mengikuti kegiatan ini dengan semaksimal mungkin,” katanya.
Tak hanya itu, Dinas Syariat Islam sendiri sebenarnya telah berulangkali mengadakan kegiatan serupa untuk meningkatkan bakat minat siswa dibidang keagamaan.
Banyak kegiatan yang diperuntukan untuk siswa guna meningkatkan pemahaman mereka soal syariat Islam di Aceh.
Kegiatan ini merupakan proses implementasi nilai-nilai keislaman yang mencakup aspek Aqidah, Ibadah, Syariah, Muamalah dan Akhlak dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sebagai manifestasi dalam berinteraksi baik secara vertical dengan Allah SWT dan secara horizontal dengan sesame manusia dan lingkungannya (Hablumminallah dan Hablumminannas).
Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh bersama Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh dan Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh juga telah melakukan penandatangan MoU kerjasama ‘Peningkatkan Mutu Pendidikan dan Sumber Daya Manusia’. Penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) ini berlangsung di Aula Hotel Jeumpa Mannheim, Lhong Raya, Banda Aceh, Selasa 30 Agustus 2022 lalu.
MoU tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Drs Alhudri MM, Kadis Syariat Islam Aceh yang diwakili Sekretaris Dinas (Sekdis) SI, Muhibuthibri, dan Ketua ISAD Aceh, Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pdi.
Penandatangan MoU Yang diiniasi oleh YARA ini juga turut disaksikan oleh Kabid Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar SAg MSi, Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin, serta jajaran pejabat lainnya di lingkup Dinas Pendidikan Aceh dan dinas terkait lainnya.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, dalam sambutannya menegaskan, pihaknya sangat welcome untuk bekerjasama dengan berbagai pihak yang punya visi untuk memajukan mutu pendidikan dan SDM di Aceh, terlebih yang bersifat khusus seperti peningkatan pemahaman syariat Islam serta keterampilan para pelajar dan tenaga didik.
Diakui Alhudri, siswa dan tenaga didik di Aceh tidak cukup hanya menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) tapi juga harus berjalan seiringan dengan Imtak (Iman dan Taqwa). “Ini penting untuk menjaga keseimbangan dunia dan akhirat bagi generasi Aceh Kedepan. Apalagi sekarang kita bisa menyaksikan pengaruh perubahan zaman yang mulai menggerus nilai-nilai etika dikalangan siswa,” ujar Alhudri.
“Karenanya Imtak dan Iptek harus berjalan seiringan, dan ini akan terwujud dengan tanggungjawab kita bersama. Pemerintah bertanggungjawab melalui tupoksinya masing-masing, masyarakat dan orang tua juga tidak bisa lepas tangan begitu saja. Untuk itu kami sangat menyambut baik terobosan hari ini, yaitu kerjasama antara Dinas Pendidikan dengan ISAD Aceh dan juga Dinas Syariat Islam.
Semoga kerjasama ini bisa bermanfaat dalam peningkatan mutu pendidikan Aceh Kedepan,” sambung Alhudri.
Kadisdik Aceh juga mengharapkan kepada semua stakeholder agar merubah pola pikir, dengan tidak hanya melihat dari satu titik terkait masalah dunia pendidikan di Aceh. Menurutnya, kemajuan Aceh terutama dalam aspek pendidikan punya keterkaitan dengan semua stakeholder terkait. Dengan kata lain dari hilir ke hulu, dari masyarakat, perguruan tinggi hingga Pemerintah punya tanggungjawab untuk kemajuan Aceh kedepan.
“Kalau semuanya terlibat dan punya tanggungjawab bersama saya yakin Aceh ini akan maju,” pungkas Alhudri seraya mengingatkan sejarah Aceh masa lampau yang menurutnya kenapa Aceh dulunya hebat dan kuat hingga sulit ditaklukkan Belanda, karena Aceh saat itu tidak terkotak-kotak dalam dimensi sosial dan keagamaan, tidak saling menyalahkan, akan tetapi saling merangkul, saling mengisi dan saling memperbaiki.
Sementara itu, Sekretaris Dinas (Sekdis) Syariat Islam Aceh berharap setelah penandatanganan MoU ini semua pihak dapat berkolaborasi di lapangan. Diakuinya, di lapangan banyak sekali masalah yang butuh kerjasama semua pihak untuk memperbaikinya.
“Ada banyak sekali masalah di lapangan yang perlu kita perbaiki bersama. Masalah pendidikan dan syariat Islam ini tanggungjawab kita bersama. Dinas punya tupoksi berbeda, karenanya harus berkolaborasi di lapangan. Pemerintah, Ulama melalui MPU, tanggung jawab orang tua akan pengawasan terhadap anak-anaknya, begitu juga tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan sosialnya.
Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas Syariat Islam dengan media atjehwatch.com









