Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Mengenal Sosok Ulama Sufi Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi

Admin by Admin
06/07/2023
in Opini
0
Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag, Tanggapi Polemik Kajian Kitab Al Insan Al Kamil – Al Jilli

Atjehwath.com – Abuya Amran Waly al-Khalidi di era Indonesia modern ini adalah salah satu ulama tasawuf (sufi) besar yang dimiliki oleh umat Islam Aceh. Beliau adalah sedikit ulama sufi yang memiliki pengetahuan yang begitu luas dan mendalam di bidang tasawuf. Demikian disampaikan Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr Rubaidi M.Ag kepada wartawan Jum’at (30/06/2023).

Menurutnya, sudah selayaknya, umat Islam Aceh harus merasa bersyukur terhadap sosoknya yang begitu peduli dan membimbing umat dengan segala ketulusan dan keikhlasannya. Beliau tidak hanya sekedar ulama tasawuf yang berbasis kepada membaca dan menulis. Dalam pandangan tasawuf, ilmu yang hanya didasarkan atas bacaan maupun tulisan tidak ada artinya kalau tidak diamalkan. Wujud pengamalan ilmu tasawuf Abuya tidak lain adalah rasa cinta tanpa batas terhadap setiap umat. Inilah wujud sejati dari makna rahmat li al- ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).

Lebih lanjut Prof Dr Rubaidi menjelaskan, Abuya Amran Wali Al-Khalidi bukan sekedar ulama biasa. Ia dilahirkan dari Rahim keturunan salah seorang ulama besar Aceh di akhir abad ke-20. Ayahanda beliau tidak lain adalah Abuya Muhammad Waly al-Khalidi yang sering disebut sebagai Abuya Muda Waly. Abuya Muda Waly, adalah salah seorang ulama besar Aceh. Ia seorang faqih, kalam, tauhid, dan tasawuf. Di kalangan masyarakat muslim Aceh, eksistensi Abuya Muda Waly tidak diragukan dan dibantah lagi peran-peran diberikan dalam membimbing dan mendidik umat Islam di Aceh, bahkan Sumatera pada umumnya. Beliau juga dikenal luas sebagai ulama tasawuf, karena menjadi mursyid tarekat Naqsyabandiyah yang bersambung sanadnya dengan Syekh Abdul Ghani al-Kampari. Abuya Muda Waly berhasil mencetak banyak ulama di Aceh dan sekitarnya. Ulama-ulama yang hidup saat ini, sebagian besar masih pernah mengenyam pendidikan kepadanya.

Ilmu tasawuf pada diri Abuya Muda Waly rupanya menurun kepada salah seorang puteranya, tidak lain adalah Abuya Amran Wali al-Khalidi. Hal bukan tidak beralasan. Sejak usia 14 tahun, seorang Amran Waly yang masih remaja telah ditinggal oleh sang ayah tercinta. Ia terpaksa harus seorang diri di usia beliau terus berkelana berguru kepada banyak ulama yang dahulu dididik oleh sang ayah. Dari perjalanan panjang, ia akhirnya dipanggil oleh Syekh Mahmud, yang tidak lain adalah guru dari sang ayah. Sang ayah yang wafat muda (usia 44 tahun), harus meninggalkan salah seorang guru hakekat terpenting, yakni Syekh Mahmud. Sebaliknya, Syekh Mahmud yang mengetahui dan memahami sungguh- sungguh terhadap ke-ulamaan Amran Waly dewasa ini memanggilnya untuk pulang ke Labuhan Haji untuk beberapa saat berguru kepadanya.

Di kemudian hari terbukti, lanjut Prof Dr Rubaidi , bahwa, keulamaan Abuya Amran Waly benar- benar menonjol di bidang tasawuf, selain fan (bidang) keilmuan Islam lainnya. Abuya Amran yang dididik tarekat Naqsyabandiyah melalui ayahnya juga Syekh Mahmud akhirnya meneruskan tarekat Naqsyabandiyah untuk diajarkan kepada para santri maupun umat Islam di Aceh. Perjalanan panjang setelah ditinggal sang ayah menempa diri untuk memahami serta mempraktekkan ajaran-ajaran tauhid tasawuf.
Masih menurut Prof Dr Rubaidi, sosok Abuya Amran Waly al-Khalidi baik di Aceh, bahkan di Indonesia sekalipun merupakan sedikit dari ulama tasawuf yang benar-benar menjalankan ajaran tasawuf tidak hanya berdasarkan bacaan. Lebih dari itu, ajaran tasawuf dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Menapaki dunia tasawuf bukan persoalan yang mudah. Tasawuf bukan ilmu (fan) lain dalam Islam yang cukup dibaca atau ditulis. Tasawuf identik dengan ilmu praktek. Praktek yang bagaimana? Praktek yang dijalankan oleh Rasulullah, para ulama-ulama sufi zaman dahulu. Jika umat Islam mengetahui khaliyah maupun khaifiyah sehari- hari pada diri Abuya Amran Waly, tentunya mereka akan memberi hormat tanpa reserve. Hal ini didasarkan atas tasawuf yang dipraktekkan dimaksud. Sayangnya, khaifiyah maupun khaliyah demikian ini tidak banyak bisa dijangkau, dipraktekkan, maupun difahami oleh banyak orang. Karenanya, jika sosok Abuya Amran Waly mencapai maqom (derajat) tasawuf yang tinggi menjadi tidak heran bagi orang yang dapat memahaminya.

Abuya Amran Waly dalam kehidupan sehari-hari begitu sederhana. Selama 24 jam waktunya didedikasikan untuk umat. Kecintaan dan kasih sayang kepada umat sama dengan kecintaannya kepada sang Khaliq. “Saya berkeyakinan, bahwa, Abuya Amran Waly al-Khalidi adalah min jumlati Khawas al_Khawas,” kata Prof Dr Rubaidi.

“Seharusnya, umat Islam Aceh merasa bangga atas kehadiran sosok seperti Abuya ini. Betapa sulitnya pada zaman modern seperti ini mencari figure ulama yang begitu rendah hati, wara’,ihtiyat, lemah lembut, dan penuh kasih sayang kepada umat. Beliau mengayomi semua umat. Bukankah ini adalah tanda rahmat li al- ‘Alamin? Karena sifat-sifat yang demikian baiknya pada diri Abuya Amran Waly, hingga mencapai maqam sufi (tasawuf) yang demikian tinggi. Beliau akhirnya tersingkap (mukhasafah) ilmu makrifat, termasuk ilmu yang diajarkan oleh al- Jilli,’ ujar Prof Dr Rubaidi.

Prof Dr Rubaidi menyarankan, bagi yang belum mengetahui dan memahami terhadap beliau, cobalah datang dan muwajjahah kepadanya. Lihatlah khaliyah setiap harinya. Tanda- tanda min jumlati Khawas al-Khawas lihatlah dalam kesehariannya. Adakah waktu sekedar santai untuk dirinya sendiri, bahkan, kepada istri maupun anak- anaknya. Lebih dari itu, lihat dan amati kehidupan malam-malam beliau. Adakah waktu malam-malamnya untuk tidur pulas sebagaimana umumnya umat manusia. Orang-orang Khawas al-Khawas cirinya adalah tidak pernah tidur malam. Apa yang dikerjakan orang-orang seperti itu? Berdzikir, keliling secara ruhaniyah untuk melihat para murid atau santri-santrinya.

Jika kita umat pada umumnya mengetahui secara benar terhadap khaliyah ulama seperti Abuya Amran Waly ini, niscaya kita akan menangis seraya bersimpuh untuk minta dibimbingnya. Sosok seperti Abuya ini tidak ada batas lagi antara ke-diri-annya dengan sang Tuhannya. Karenanya, ulama seperti Abuya saat ini begitu langka. Beban tanggungjawab dan tugas yang dipikulnya untuk mendidik umat demikian beratnya. Sama beratnya dengan para ulama sufi hingga para Nabi dan rasulullah sendiri. Karena itu, di akhir hayat Rasulullah yang disebut bukan Allah, para istri, maupun sanak kerabat. Yang disebut Rasulullah adalah kata-kata: “Ummati….ummati.”

“Saya bersaksi, bahwa, sosok Abuya Amran Waly al-Khalidi adalah ulama sufi besar abad ini,” tegas Prof Dr Rubaidi.

“Jangan karena ketidak tahuan kita, jangan karena sedkitnya ilmu kita, jangan karena sedikitnya bacaan kita-kitab kita lalu menghukumi sedemikian rupa kepada beliau. Ber-tabayyun-lah sebelum menghakimi dan menghukumi. Beliau tidak akan sedih disalahkan. Beliau selalu tegas dalam perjuangan. Justeru, beliau begitu sedih ketika atas nama ulama, umara, maupun ahli ilmi menghukumi tanpa dasar pemikiran yang jelas,” imbuhnya.

“Berhati-hatilah dalam menghukumi seorang waliyullah. Penyesalan selalu datang di akhir,” pungkasnya. (FJ)

Previous Post

Kabarnya Wasit Juri Karate O2SN di Aceh Singkil Tak Ada Lisensi, Ketua FORKI Aceh : Seleksi Tidak Sah

Next Post

PDHI Aceh Dorong Pemerintah Aceh Peduli Penyakit Menular Rebies

Next Post
PDHI Aceh Dorong Pemerintah Aceh Peduli Penyakit Menular Rebies

PDHI Aceh Dorong Pemerintah Aceh Peduli Penyakit Menular Rebies

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Penjualan Kue di Lampisang Naik 20 Persen Saat Lebaran

Penjualan Kue di Lampisang Naik 20 Persen Saat Lebaran

24/03/2026
Negosiasi Trump dengan Iran Tak Melibatkan Mojtaba Khamenei

Rusia Pantau Situasi Terbaru Iran, Sebut Ada Pernyataan Kontradiktif

24/03/2026
Negosiasi Trump dengan Iran Tak Melibatkan Mojtaba Khamenei

Negosiasi Trump dengan Iran Tak Melibatkan Mojtaba Khamenei

24/03/2026
Kakanwil Kemenag Aceh Tekankan Konsistensi Nilai Ramadan Pasca-Idulfitri

Kakanwil Kemenag Aceh Tekankan Konsistensi Nilai Ramadan Pasca-Idulfitri

23/03/2026
Idul Fitri di Lokasi Bencana, Bupati Tamiang: Terimakasih Pak Presiden

Mendagri Ungkap 5 Desa di Aceh dan Sumut Hilang Total Tersapu Banjir

23/03/2026

Terpopuler

Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag, Tanggapi Polemik Kajian Kitab Al Insan Al Kamil – Al Jilli

Mengenal Sosok Ulama Sufi Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi

06/07/2023

Saat ‘Bupati Panton’ Lupa Luas Aceh Utara

Pernyataan Prabowo Soal Pemulihan 100 Persen Bikin Korban Banjir Aceh Geram

Teknologi Canggih Iran Sukses Lumpuhkan Jet Siluman Amerika Serikat

Jak Bak Jeurat; Cara Warga Aceh Bersilaturahmi dengan Kerabat yang Sudah Tiada

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com