BANDA ACEH – Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) tingkat Provinsi Aceh tahun 2023 resmi ditutup pada Kamis (6/7/2023).
Acara penutupan itu berlangsung di Hotel Grand Syariah Kota Banda Aceh yang diikuti oleh sejumlah pejabat Eselon III Dinas Pendidikan Aceh, dewan juri dan peserta lomba FLS2N PDBK.
Ada sembilan cabang kesenian yang diperlombakan tersebut yaitu, Cipta dan Baca Puisi, Cipta Komik Strip, Menyanyi SMPLB/SMALB, Melukis SMPLB/SMALB, Desain Grafis, Pantomim, MTQ, Menyanyi SDLB dan Melukis SDLB yang dilakukan secara daring.
Dari sembilan cabang limba itu, anak emas dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Simeulue mampu menorehkan juara satu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sekaligus mewakili Aceh ke tingkat nasional.
Kepala SLB Negeri Simeulue, Jufniar Jaffar SPsi kepada media ini yang ikut mendampingi peserta FLS2N di Banda Aceh mengatakan, siswanya mampu menorehkan hasil gemilang pada FLS2N PDBK tingkat Provinsi Aceh dengan meraih juara satu cabang lomba MTQ.
Kata Jufniar, Alek (18) siswa XA SMALB memang sudah terlahir dalam kondisi genetik tuna netra. Namun diberkahi oleh Allah Yang Maha Kuasa kelebihan bisa mengaji.
“Alek sejak kecil dari lingkungan keluarganya sudah dilatih. Sebelum menjadi murid kami, memang sudah berprestasi di level kecamatan di Pulau Simeulue,” kata Jufniar.
Dikatakannya, jadi bakatnya selama ini hanya kami poles dengan mengasah kembali di sekolah karena memang Alek berbakat, kami hanya membantu fasilitasi guru qoriah untuk mengajarkan alek semingu 4 kali.
Kepala sekolah menjelaskan, pertemuan selama di sekolah ustazah datang untuk mengajarkan irama dan bacaan yang benar.
“Alek berasal dari sebuah kampung di pulau Simeulue, dia merupakan anak yatim dan juga nemiliki adik tuna netra. Ibunya seorang janda membesarkan dua orang anak tuna netra,” ucap Jufniar
Alek murid yang kami asramakan karena perjalanan dari rumah ke sekolah sangat jauh, jadi tidak memungkinkan dia pulang pergi.
Jufiniar menuturkan, semangat belajarnya sangat bagus, hanya saja saat ini dia masih dalam proses mengenal huruf brel lagi mempelajarinya, target kami ke depan dia bisa baca Al Qu’an brel, namun kami terbatas dengan tenaga guru baca Al Qur’an brel.
“Sejauh ini alek mengahafal Al Qur’an, sebenarnya ada hikmah juga. Karena dia sudah bisa hafal beberapa jus,” ungkapnya.
Kemudian ujar kepala sekolah, pada lomba dia diperbolehkan menghafal oleh juri tuna netra. Alek memilih surat Al Baqarah ayat 153.
Akhirnya Alex keluar sebagai juara satu, sementara juaara dua atas nama Wanda Wijaya dari SLB Negeri Langsa dan juara tiga diraih oleh Zaky Farhan SLB dari Negeri Pidie. Selanjutnya saat lomba tingkat nasional nanti, dia harus hafal kelima maqrok itu.
Lebih lanjut Jufniar menyampaikan, guru qoriah kami ajak ke provinsi untuk mendampingi Alek supaya dia lebih percaya diri dan tidak memalukan perwakilan dari Simeulue.
“Ibunya sudah kami kabari tadi, bahwasanya Alek keluar sebagai juara satu. Ini prestasi untuk anak kepulauan yang jauh dari ibu kota Provinsi Aceh,” tutur Jufniar.
Ada cerita yang mengharukan, saat menuju Banda Aceh, kapal yang kami tumpangi dihantam badai. Alhamdullilah semua rombongan dari SLB Negeri Simeulue sampai ke tujuan dengan selamat.
“Semoga perjuangan Alek di tingkat nasional natinya, mampu meraih juara sehingga bisa mengharumkan nama Kepulauan Simeulue dan Provinsi Aceh di nusantara,” harap Jufniar.
Sementara Alek saat diwawancarai mengatakan, senang sekali bisa meraih juara satu sehingga akan mewakili Aceh ke tingkat nasional.
“Saya latihan di kampung, di sekolah ada juga. Awalnya grogi tampil di tingkat provinsi, namun saya harus percaya diri hingga menjadi yang terbaik,” ungkapnya.
Alek belum memberitahukan kepada keluarga di kampuang atas prestasi yang dia raih, katanya di kampung tidak ada sinyal hand phone, namun kepala sekolah sudah mengabarinya.
“Saya harus tetap semangat jangan cepat menyerah, do’akan agar saat tampil di tingkat nasional nanti bisa lebih percaya diri lagi dan bisa meraih juara,” pungkas Alek.










