Aceh Selatan- persoalan sampah adalah persoalan yang terus menerus dibicarakan baik di kedai-kedai kopi maupun diseminar seminar yang bertajuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat.
Menanggapi pernyataan kepala dinas lingkungan hidup Masrizar S.Hut. kabupaten aceh selatan mengajak masyarakat agar bisa mengolah sampah jadi bernilai ekonomis itu sangat betul, bahkan saya sangat mengapresiasi atas masukan nya terhadap kritikan masyarakat tentang limbah masyarakat tersebut, tidak saya bantah sedikitpun masukan nya tersebut, Sampah organik dan an organik sama sama punya nilai ekonomis juga saya sangat faham dengan maksut kadis lingkungan hidup aceh selatan.
Yang jadi pertanyaan nya apa terobosan yang sudah dilakukan oleh DLHK asel. Terus apa saja yang sudah dilakukan selama ini menjadi kadis DLHk jika pengakuan nya sarana dari dinas yang ia nahkodai itu sangat terbatas, sudah sampai dimana sosialisasi dan memberikan pemahaman tentang sampah itu sendiri hingga masyarakat mampu mengolah sampah tersebut menjadi pundi.
Bicara tentang sampah bukan hanya di labuhan haji saja punya permasalahan tersebut. sawang,meukek dan sekitar nya juga punya persoalan yang sama.
Saat ini kan DLHK cuman menangani sampah diperkotaan saja bukan? Pertanyaan selanjutnya apakah dari pihak dinas itu sendiri sudah punya produk apa saja dari pengolahan limbah masyarakat ? Maaf saja, ipal yang ada di pasiraja yang jelas jelas bisa memproduksi pupuk organi dari limbah tinja saja tidak dimanfaatkan secara baik dan tidak menjadi ujung tombak dalam mendorong para masyarakat petani untuk mendapatkan pupuk organik murah ditengah gempuran harga pupuk sintetis yang sangat mahal juga langka dipasaran kecuali pupuk non subsidi yang memang hanya mampu dibeli oleh para pengusaha kebun sawit saja.
Saya rasa kadis DLHK minim kreativitas dan hanya bisa berbalas pantun lewat media saja,yang saya sayangkan sang kadis adalah sarjana kehutanan yang punya kolerasi ilmu terhadap dampak perubahan iklim juga lingkungan.
Saya sebagai masyarakat berulang kali memberikan pandangan juga masukan terhadap dampak sampah ditiap kecamatan di aceh selatan, saya menyayangkan atas pernyataan pak kadis tersebut, saya menilai bahwa beliau minim prestasi dalam penangan sampah di negeri penghasil buah pala ini.
kalau memang kurang nya sarana jadi alasan utama bukankah beliau bisa membuat anggaran dan meminta kepada bupati dalam penyediaan sarana tersebut? saya menilai pak kadis hanya mencari kambing hitam saja agar terlepas dari tanggung jawab.
jika memang sudah berusaha dengan berbagai cara dan sudah meminta kepada bupati selaku pimpinan tertinggi didaerah agar bisa dialokasikan dana untuk penanganan sampah dan tidak digubris atau tidak disetujui oleh anggota dewan kenapa tidak mundur saja jadi kadis DLHK Toh sia sia saja bekerja tanpa ada dampak perubahan yang signifikan di intansi yang ia pimpin!
“Anhar Sawang, menyarankan, pak kadis perlu koordinasi sampai kesetiap desa agar bisa mencari penyelesaian tentang sampah, jika tidak punya solusi nya ajak tokoh masyarakat yang ada di desa agar bisa membatu cari solusi dalam penanganan sampah atau ajak kerjasama rekan-rekan aktivis lingkungan baik yang ada di asel atau diluar asel dan belajar sama Bank sampah Yayasan New Normal milik putra terbaik aceh selatan yang ada di medan, sumatra utara. Bank sampah milik bang Yasra sekarang sudah berhasil mengolah sampah organik dan an organik menjadi pundi rupiah sekaligus mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, paling tidak pak kadis ajak beberapa tokoh yang peduli lingkungan untuk study banding kesana, karena ia menilai persoalan sampah ini sudah berlarut larut sampai berganti puluhan kepala dinas pun juga tidak pernah kunjung teratasi.
Jika alasan nya soal anggaran dan tidak dapat persetujuan dari bupati atau dewan, ngapain pak kadis bertahan disitu,menurut saya mundur saja. Ngapain buang buang waktu pak kadis disitu! Itukan sama dengan pembunuhan karakter sekaligus secara tidak langsung karir pak kadis stagnan, ngapain bertahan ditengah tengah tidak adanya kepastian,” tanya Aan.
Masyarakat perlu penaganan cepat agar tidak terjadi kerusakan lingkungan secara masif,agar laut tidak menjadi tempat pembuangan akir.
Ayolah belajar kepada pejabat yang ada diluar sana seperti d negara barat atau eropa jika memang tidak mampu dalam menangani satu persoalan mereka langsung mengundurkan diri. Jika ini terjadi saya menilai kadis DLHK gentelmen,” tutup Anhar.
Anhar sawang/aktivis Sosial pemerhati lingkungan










