Oleh Muhammad Taufik. Warga Aceh Utara yang kini sedang mengikuti program Pascasarjana di Universiti Kebangsaan Malaysia.
PESTA demokrasi di depan mata. Hajatan lima tahunan ini menjadi fokus utama masyarakat di seluruh Nusantara. Tak terkecuali di Aceh.
Para calon legislative di Aceh, baik DPRK, DPR Aceh, DPR RI serta DPD RI, mulai sibuk dengan se-abrek aktivitas. Demikian juga dengan partai politik. Mereka memakai slogan-slogan agar masyarakat mudah mengingat dan dipilih pada hari pencoblosan nanti.
Di warung kopi misalnya, pembahasan tentang siapa calon presiden yang diidamkan oleh masyarakat di Aceh mulai jadi pembahasan debat dan obrolan. Salah satunya adalah sosok Anies Baswedan.
Sosok ini paling mendapat respon positif di Aceh. Hal ini pula yang membuat para caleg turut mendompleng gambar Anies di spanduk dan baliho mereka.
Secara garis besar, sosialisasi para calon legislative ini terbagian dalam dua kategori. Pertama, mereka yang terbiasa dengan kampanye tradisional seperti spanduk dan baliho.
Ya, baliho serta spanduk-pun mulai tersebar dengan pesan dan desain berkarakter khusus yang mengingatkan pemilih terhadap mereka. Sosialisasi seperti ini lumayan efektif bagi calon legislative untuk DPRK, DPRA serta DPR RI. Namun menurut penulis, bertaburnya baliho dan spanduk jelang pemilu membuat warga justru kebingungan.
Sedangkan yang kedua adalah sosial media. Di era digital seperti sekarang, peran sosial media juga memiliki pengaruh yang signifikan bagi warga untuk menentukan pilihan.
Hal ini pula yang membuat sejumlah calon legislative beramai-ramai menggunakan sosial media sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat. Selain lebih efektif dan murah, sosial media juga membantu Caleg bisa menjangkau ruang-ruang yang tak mampu disentuh oleh sosialisasi tradisional atau poin pertama tadi.
Namun kekurangan media sosial adalah audiennya yang samar serta tak bisa dipetakan. Kepopuleran seorang caleg belum tentu berbanding lurus dengan jumlah suara di tong suara nanti. Karena hal ini, terkadang kolaborasi antara kedua cara tadi juga penting dilakukan oleh para caleg dalam meraih simpati masyarakat.
Bagi masyarakat sebagai pemilih, sebenarnya ada poin ketiga yang lebih penting. Poin tersebut adalah rekam jejak digital yang membuat mereka bisa dinilai kinerja dan sosok yang akan dipilih sebagai wakil rakyat di pemilu.
Dari obrolan warung kopi misalnya, ada dua sosok yang sering dibahas. Dua sosok tersebut adalah HM Fadhil Rahmi Lc MA dan Sudirman alias Haji Uma.
Fadhil Rahmi dan Haji Uma adalah dua sosok politisi yang memiliki rekam jejak digital yang bagus.
Secara figur, Fadhil Rahmi adalah politisi muda yang baru mengawali langkah politiknya pada Pileg 2019 lalu dan finis pada urutan ke 2 untuk DPD RI asal Aceh.
Fadhil Rahmi mendapat sokongan kuat dari Ustadz Abdul Somad (UAS) sehingga menjadi batu loncatan ke Senayan. Walaupun menjadi nilai lebih, namun hal tersebut bukanlah keberuntungan semata dari sosok itu.
Jejak digital menyebutkan bahwa sosok ini ternyata aktif mengangkat anak asuh dari pedalaman Aceh sejak sebelum menjabat hingga sekarang. Sosok itu disebut memiliki 49 orang anak asuh dari berbagai pedalaman Aceh.
Bagian yang menyentuh public dan jadi pembicaraan di Warkop adalah bahwa sosok ini men-dayah-kan para anak asuh ini.
Kemudian juga beasiswa untuk anak usia sekolah serta rutin berkunjung ke pedalaman Aceh untuk sekedar bersilaturahmi dan menyuarakan kepentingan Masyarakat pedalaman yang secara kultur masih jauh dari teknologi, pendidikan dan Pembangunan.
Bagi masyarakat di perkotaan, apa yang dilakukan Fadhil Rahmi ini bisa jadi biasa. Namun hal ini cukup luar biasa bagi warga di pedalaman Aceh.
Jumlah penduduk di pedalaman Aceh relative lebih sedikit. Namun ketika ada yang memberi perhatian, maka tentu akan mendapat sambutan hangat. Namun sisi positifnya adalah bawa keadaan pedalaman Aceh yang jarang dikunjungi oleh para politisi akan membuat nama Fadhil Rahmi lebih dominan.
Keadaan ini tentu berbanding dengan daerah perkotaan yang menjadi basis untuk semua politisi. Perhatian yang ditunjukan oleh politisi manapun akan tetap terabaikan oleh Masyarakat.
Kembali pada market isu yang menjadi Fadhil Rahmi menjadi trending topik pembicaraan, seperti anak asuh, dayah, beasiswa dan pendidikan pedalaman, jejak digital ini cukup membuat nama sosok tadi terekam dalam ingatan masyarakat.
Fadhil Rahmi memiliki basis yang kuat serta trend yang positif.
Jika melihat arus dan jejak digital, trend yang dimiliki Fadhil Rahmi saat ini cenderung meningkat. Belum lagi adanya sokongan kuat dari Ustadz Abdul Somad yang tak dimiliki oleh orang atau kandidat lainnya. Inilah nilai plus bagi Fadhil Rahmi.
Nama kedua adalah Haji Uma. Dari rekam jejak, sosok ini juga dinilai memiliki rekam jejak digital yang bagus.
Berbeda dengan Fadhil Rahmi, momentum Haji Uma adalah fase 2019. Pileg 2019 adalah puncak ketenaran Haji Uma. Ia dianggap sosok yang peduli dengan membawa pulang jenazah atau orang sakit dari Malaysia dan luar Aceh.
Yang menjadi titik balik adalah saat ini ada calon DPD RI asal Aceh lain yang menggunakan isu yang sama. Sosok itu adalah Akhyar Kamil dari Persatuan Aceh Serantau. Keberadaan sosok ini dianggap sedikit merusak bargaining yang dibangun oleh Haji Uma saat ini, tapi tidak bisa menghilangkan.
Perolehan suara Haji Uma mungkin akan tergerus pada Pileg 2024 nanti tapi tak bisa mematikan akar simpati yang telah dibangun. Meski tergerus, peluang keterpilihan Haji Uma di Pileg 2024 nanti, masih sangat besar.
Maka bagi masyarakat, dua nama tersebut sering dijadikan bahan obrolan. Keduanya memiliki jejak digital yang bagus.
Selain dua nama ini, para kandidat lain perlu kerja keras untuk mengabdi hati masyarakat. Ada banyak plus minus serta stigma yang muncul, namun tentu hasil akhir baru akan muncul pada Pileg 2024 nanti.
Inti yang ingin disampaikan sebenarnya adalah bahwa rekam jejak sangat penting bagi seorang ketika hendak terjun ke ranah politik. Hal inilah yang menjadi modal utama Fadhil Rahmi dan Haji Uma saat ini.
Dalam era digital seperti sekarang, informasi tak hanya diperoleh dari media cetak. Siapapun kini bisa memperoleh informasi berkah handphone. Maka semakin banyak jejak digital yang dimiliki maka akan semakin bagus untuk seorang politisi.
Terlepas dari beragam informasi tadi, harapan penulis, pemimpin hasil Pileg 2024 nanti, benar-benar menjadi wakil Aceh dari segala hal. Terutama mereka yang memiliki karakter Aceh yang tinggi.
![[Kolom] Belajar dari Syech Fadhil dan Haji Uma](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2023/11/WhatsApp-Image-2023-11-05-at-11.31.27-750x375.jpeg)









