Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Mengingat Wasiat Teungku Lah Setelah 18 Tahun Berlalu

redaksi by redaksi
20/01/2020
in Feature
0
Mengingat Wasiat Teungku Lah Setelah 18 Tahun Berlalu

Teungku Abdullah Syafii semasa hidup. Foto liputan6.com

“Meunyoe nibak si uroe gata deugoe lon ka syahid, beklah merasa seudeh dan patah semangat. Sebab lon sabe mendoa bak Allah Swt agar beugeubri syahid bila kemerdekaan Aceh karap toe. Lon tuan hana ingin pangkat bila Aceh merdeka.”

Perkataan tersebut diucapkan oleh Teungku Abdullah Syafii, panglima perang Aceh Merdeka, satu bulan sebelum syahid tertembak dalam kontak senjata dengan TNI di bukit Jim-Jim, kabupaten Pidie, 22 Januari 2002 lalu.

Teungku Lah, demikian ia biasa disapa semasa hidup, adalah sosok kharismatik serta akrab dengan berbagai kalangan. Kepergian Teungku Lah untuk selamanya, turut meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat Aceh.

Bahkan 18 tahun setelah kepergiannya pun, Teungku Lah tetap sosok yang dirindukan oleh berbagai kalangan di Aceh.

Teungku Lah bukan alumni Libya. Namun ia menguasai seluk beluk medan tempur di Aceh. Saat TNI beberapa kali mengklaim telah ‘membunuh’ Teungku Lah di medan tempur, sosok itu justru mengundang wartawan untuk wawancara di hutan Pase.

Teungku Lah hanya seorang berkepribadian sederhana yang dilahirkan pada 12 Oktober 1947 di Desa Matanggeulumpang Dua, Bireuen, kabupaten Aceh Utara. Saat itu, Bireuen masih termasuk dalam wilayah adminitrasi Aceh Utara.

Pendidikan terakhirnya hanya di Madrasah Aliyah Negeri Peusangan. Itu pun hanya sampai kelas tiga. Setelah itu, ia belajar ilmu agama di sejumlah pesantren. Namun kepiawaiannya mengolah kata serta menjalin komunikasi dengan berbagai elemen, menjadikan Teungku Lah, sosok yang susah dilupakan.

Ia gugur bersama istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya dalam pertempuran dengan pasukan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya, 22 Januari 2002.

Kepergiannya ditangisi rakyat dan GAM menyatakan berkabung selama 44 hari kala itu.

“Nyoe ka troh nyang lon lakee, ka troh watee nyang lon preh-preh (kini sudah tiba waktunya yang saya tunggu-tunggu),” kata Teungku Lah kepada Jala, salah seorang pengawalnya yang lolos dalam sergapan di hutan Jim-jim.

Banyak petuah-petuah Teungku Lah yang hingga kini masih meresap dalam ingatan masyarakat.

“Masa telah berubah. Strategi perang secara militer sudah ketinggalan zaman. Sekarang, bangsa Aceh harus pintar mengurus masalah-masalah diplomasi di dunia internasional. Sekarang, perang yang paling berat adalah perang politik dan diplomasi.”

Kalimat ini disampaikan Teungku Lah saat meninjau salah satu Markas Komando GAM di pedalaman Pidie, 6 Agustus 2000.

“Sesama bangsa Aceh, kita harus benar-benar saling setia. Tentara Aceh Merdeka harus bersikap seperti tentara Islam. Jangan meniru sifat kaum penjajah. Jangan ambil contoh pada kaum imperialis dan kolonialis. Jangan sampai loen deunge ada tentara Aceh Merdeka yang lebih kejam daripada tentara penjajah itu,” ujarnya mewanti-wanti kala itu.

 

Tags: Abdullah Syfiigampanglima gamteungku lahwasiat abdullah syafiiwasiat teungku lah
Previous Post

Guru Ngaji Cabul di Aceh Utara Terancam Cambuk 90 Kali

Next Post

Inilah Para ‘Koki’ di Dapur Redaksi atjehwatch.com

Next Post

Inilah Para ‘Koki’ di Dapur Redaksi atjehwatch.com

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

12/02/2026
Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

12/02/2026
UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

12/02/2026
Krak, Desa Terdampak Bencana Aceh Dapat Rp50 Juta untuk Meugang

Pemkab Pijay Terima Rp4,9 Miliar Bantuan Presiden untuk Meugang Korban Terdampak Bencana

12/02/2026
Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

12/02/2026

Terpopuler

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

11/02/2026

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas Akibat Hujan

Pengurus KONI Abdya Dilantik, Zulkarnaini Sebagai Ketua Umum

Isu Nikah Pejabat Aceh Mengemuka, Muadi Buloh: Jangan Alihkan Fokus dari Akuntabilitas Publik

Hilal di Bawah Ufuk, Kemenag Aceh Perkirakan Ramadan Jatuh pada 19 Februari 2026

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com