Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (39)

Admin1 by Admin1
05/03/2020
in Cerbung
0

+++

Malam kian larut. Namun di atas balai, Mustafa melihat Teungku Fiah belum juga tertidur. Ada cahaya senter yang masih menyala di sana.

Mustafa mencoba mendekat. Dugaannya ternyata benar adanya. Teungku Fiah ternyata belum tidur. Sosok yang dituakan dalam pasukan itu ternyata diam-diam mengamati selembar foto yang terlihat gambar seorang wanita dengan bocah berusia sekitar 6 hingga 7 tahun. Itu adalah foto istri dan anak terkecil Teungku Fiah.

“Belum tidur teungku?” ujar Mustafa menyapa.

Teungku Fiah terkejut dengan sapaan Mustafa. Ia buru-buru menyimpan foto anak dan istrinya itu.

“Kalau Teungku rindu dengan keluarga, Teungku dapat pulang sebentar untuk membesuk. Bukankah dari sini ke Nicah Awe tak jauh. Saya siap mengawal teungku dalam perjalanan,” ujar Mustafa.

Sebagai pasukan nanggroe, ia tahu bagaimana kerinduan yang sering dialami oleh para tetua yang meninggalkan keluarga di kampung. Mereka bahkan tak memiliki kesempatan untuk melihat wajah istri dan anaknya. Apalagi ketika keluarga di kampung sakit. Ada perasaan bersalah tatkala itu terjadi.

“Aku tak mau melanggar aturan hanya untuk keluargaku, Mustafa. Aturan kita berlaku untuk semua, termasuk diriku.”

“Saat ini patroli tentara republic kian gencar. Aku tak mau jumlah kita kembali berkurang hanya untuk kepentinganku semata. Kita memang siap untuk meninggal, tapi di medan perang,” ujar Teungku Fiah.

Teungku Fiah kemudian terdiam. Tak lama kemudian, ia tersenyum.

“Kau tahu Mustafa, entah kenapa aku tiba-tiba kangen sama anakku terkecil.”

“Sebelum bergabung dengan tentara nanggroe, aku sudah memiliki dua anak laki-laki. Abdurrahman dan Budiansyah. Keduanya kini sudah besar dan hanya terpaut dua tahun. Abdurrahman kini bergabung dengan tentara nanggroe mengikuti jejakku. Sementara Si Budi tinggal bersama ibunya di Nicah Awe.”

Mustafa tersenyum dengan penjelasannya tetua itu. Ia kenal dengan salah satu anaknya Teungku Fiah. Ini karena mereka hampir seumuran. Rahman, demikian memanggil sosok itu, merupakan anak Teungku Fiah memiliki karakter yang sama seperti ayahnya. Ia adalah orang-orang yang bersikap nekad dalam peperangan.

Sedangkan Budi sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Sosok itu berulangkali mendaftar tentara nanggroe, tapi atas permintaan Teungku Fiah, semua pasukan di Simpang Ulim, menolaknya.

Teungku Fiah berharap sosok itu menjalani kehidupan normal. Ia ingin anaknya itu menjaga ibunya di kampung.

Sedangkan untuk anak terakhir, Mustafa, tak mengenalnya sama sekali. Itu karena anak terakhir Teungku Fiah itu masih sangat kecil.

“Selama jadi tentara nanggroe, aku jarang pulang. Aku dan istriku juga sudah tua. Aku pulang hampir satu bulan sekali. Bahkan kadang hampir dua bulan sekali. Namun siapa tahu kehendak tuhan, dari pertemuan singkat tadi, istriku justru kembali hamil dan kemudian melahirkan anak ketiga,” ujar Teungku Fiah.

“Di awal-awal istriku hamil, aku sempat malu. Aku sudah jadi kakek-kakek, tapi istriku masih saja hamil. Namun itu adalah anugrah terindah yang kami miliki,” kata Teungku Fiah.

Teungku Fiah kemudian terdiam. Ia mengambil foto dan mengamati foto tersebut dengan sesama.

“Anakku ini kuberi nama Ibnu Hajar. Si anak batu. Aku tak ingin ia menjadi lelaki lemah ketika aku tiada nanti. Aku berharap ia bisa tumbuh besar dan menjadi anak yang berguna di masa depan nanti.”

“Kelak ketika ia besar, aku berharap ia bisa tumbuh dengan baik dan konflik di Aceh telah selesai. Aceh telah merdeka,” ujar Teungku Fiah.

Ia kemudian tersenyum. Demikian juga dengan Mustafa.

“Tapi aku sendiri tak yakin kapan kita akan merdeka,” kata Teungku Fiah lagi.

“Malam ini, aku tiba-tiba sangat merindukan mereka. Aku pikir mereka juga sedang merindukanku,” ujarnya lagi.

[Bersambung]

 

 

Tags: wasiet
Previous Post

WHO Ikutan TikTok untuk Perangi Misinformasi Virus Corona

Next Post

Pelajar SMK Aceh Besar Juara Debat Bahasa Indonesia se-Aceh

Next Post

Pelajar SMK Aceh Besar Juara Debat Bahasa Indonesia se-Aceh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Nora Idah Nita: Rakyat Butuh Kejujuran, Pusat Harus Terima Laporan Apa Adanya

Nora Idah Nita: Rakyat Butuh Kejujuran, Pusat Harus Terima Laporan Apa Adanya

12/12/2025
Laporan Bahlil ke Prabowo: Listrik di Aceh Menyala Malam Ini

Kepemimpinan di Tengah Bencana Aceh, Akademisi USK: Tiga Bupati Lolos Uji Publik

12/12/2025
Krak, Jembatan Darurat Penghubung Nagan Raya-Aceh Tengah Rampung

Krak, Jembatan Darurat Penghubung Nagan Raya-Aceh Tengah Rampung

12/12/2025
Presiden Prabowo Minta Anak Korban Banjir di Aceh Tabah dan Semangat

Presiden Prabowo Minta Anak Korban Banjir di Aceh Tabah dan Semangat

12/12/2025
Aceh Perpanjang Status Darurat Bencana Banjir dan Longsor

Menkes: 41 RS di Aceh Sudah Beroperasi Secara Bertahap

12/12/2025

Terpopuler

Ohku, Pengerukan DAS Krueng Meureudu Diwarnai Pro Kontra Warga

Ohku, Pengerukan DAS Krueng Meureudu Diwarnai Pro Kontra Warga

10/12/2025

Ohku, Relawan ‘Dipatok’ Rp3 Juta Saat Menyeberang di Kuta Blang Bireuen

Viral, Biaya Nyebrang ‘Bantuan’ di Kuta Blang Bireuen Capai Jutaan Rupiah

PGRI Simeulue Kumpulkan Uang 120 Juta Lebih untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera

Disdikbud Pidie Upayakan Percepatan Pemulihan 32 Sekolah Terdampak Banjir

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com