JANGAN sakit. Jaga kesehatan dan kemudian pasrahlah pada Tuhan agar wabah itu tak mengintai kita di Aceh.
Saat ini kita hanya memiliki tuhan. Dan kalau-pun kemudian tuhan marah dan menjangkit satu orang saja di Aceh dengan virus mematikan itu, maka selesailah Nanggroe Teuleubeh Ateuh Rung Donya ini.
Kalimat ini taklah berlebihan. Lihatlah kondisi masyarakat kita saat ini. Sikap mereka seperti sedang menantang maut. Warung kopi penuh serta intruksi pemerintah soal menjauhi keramaian seakan jadi kabar angin belaka.
Kita tidak pernah belajar dari Italia. Dua bulan lalu, kasus Covid 19 cuma satu di sana. Masyarakat abai dan bar-bar tetap penuh seperti biasa. Masyarakat di sana menganggap itu ‘virus China’ dan tak akan menular pada mereka. Mall serta pusat keramaian tetap berlangsung seperti biasa. Persis seperti kebiasaan kita saat ini.
Namun kini, Italia menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi karena virus Corona. Puluhan ribu warga terjangkit dan ribuan warga yang terpapar Corona meninggal dunia. Puluhan truk militer di sana mengangkut mayat setiap harinya untuk dikremasi.
Aceh hari ini adalah dua bulan lalunya, Italia. Kita abai dan menganggap enteng virus yang kini menjangkit ratusan negara di dunia. Berdoalah kita tidak merasakan apa yang Italia rasakan saat ini.
Dari rumah-rumah, mereka yang sedang berada di Italia, saat ini menangis.
“Andai mereka tak abai terhadap virus misterius ini saat kasus pertama ditemukan.”
“Andai mereka lebih peka, maka anak, istri serta kerabat mereka tak akan menuai ajal seperti sekarang.” Itu yang ditulis oleh warga yang sedang mengisolasi diri di rumah-rumah di Italia saat ini.
Namun persoalan Aceh lebih komplit dari Italia. Rumah sakit di Aceh tak memiliki alat kesehatan yang lengkap untuk menghadapi virus ini. Para medis kita tak dipersenjatai dengan alat kesehatan yang lengkap meski APBA kita mencapai triliunan. Pemerintah kita hanya mengandalkan doa.
Di RS Cut Meutia misalnya, alat kesehatan untuk menghadapi Corona sangat minim. Paling tidak ini hasil sidak Komisi V DPR Aceh.
Sementara di RSUZA, respon bagian komunikasi terhadap warga yang ingin memeriksa terkait kasus Corona juga abai. Masyarakat diminta membayar ratusan ribu hanya untuk mengecek gejala yang sedang dirasakan. Ini tentu membuat masyarakat enggan berobat dan lebih memilih mengisolasi diri. Jika benar terpapar virus tersebut, maka kematian adalah jalan yang harus ditempuh.
Siklus pasien yang terpapar virus Corona meningkat drastic di Indonesia. Per Jumat siang 20 Maret 2020, jumlah penderita mencapai 369 orang, dan 32 meninggal dunia.
Di Aceh, kabarnya masih nihil. Entah memang tak ada atau kita tak memiliki alat yang cukup untuk mengecek kondisi ini.
Sekali lagi, berharaplah pada tuhan. Berdoalah. Karena hanya ‘tuhan’ yang kita miliki untuk berperang melawan virus ini.








