Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (58)

Admin1 by Admin1
24/03/2020
in Cerbung
0
Wasiet (48)

MELEWATI meunasah Nicah Awe, mobil yang disupiri Siwan belok kanan menuju ke arah Panton Labu. Mulut Teungku Fiah terlihat komat kamit membaca doa. Demikian juga dengan Mustafa. Sementara istri Mustafa, Sakdiah dan Ibnu mulai tertidur lelap.

Baik Teungku Fiah dan Mustafa, sadar bahwa perjalanan ini taklah semulus yang dibayangkan. Mereka khawatir jika ada razia dadakan dari tentara republic. Nyawa mereka dan keluarga jadi taruhan dalam perjalanan nanti.

“Teungku tenang saja. Jika ada razia, biar aku yang berbicara nanti,” ujar Siwan menenangkan keduanya.

Irwan sendiri tak begitu percaya dengan kalimat yang diucapkannya tersebut. Namun ia mencoba menguatkan hati kedua tentara nanggroe itu.

Teungku Fiah tersenyum mendengar penjelasan Siwan. Ia telah berulangkali melewati perjalanan bersama pemuda itu. Berulangkali pula pemuda itu menyelamatkan nyawanya dari situasi yang tak menguntungkan. Kali ini, Teungku Fiah mengharapkan keberuntungan yang sama.

“Aku percaya padamu. Semoga tuhan memberikan kita umur yang panjang,” kata Teungku Fiah.

Mustafa mengangguk. Sementara Siwan tersenyum.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dari Simpang Ulim, mereka memasuki Panton Labu dengan aman. Mobil kemudian mengarah ke Lhoksukon dan beberapa menit kemudian tiba di Lhokseumawe.

Di Lhokseumawe, laju mobil melambat saat tiba di salah satu kios. Siwan turun dan kemudian membeli banyak makanan. Ia kembali dengan tiga kantong besar yang berisi makanan ringan.

“Aku tahu jika kalian belum makan. Makanya aku beli banyak. Ini bisa mengurangi kekhawatiran kita sepanjang perjalanan,” kata Siwan.

Teungku Fiah mengangguk.

“Minimal kalaupun nanti tertangkap dan ditembak, kita mati dalam keadaan kenyang,” kata Mustafa.

Istri Mustafa yang mendengar dari arah belakang, langsung cemberut. Ia menyubit bibir suaminya dengan gemes. Mustafa tak tahu jika istrinya sudah bangun dan mendengar semua pembicaraan mereka.

“Aku tak mau jadi janda muda,” ujar istri Mustafa. Ia sebel mendengar kalimat pasrah dari suaminya itu. Mustafa sendiri tersipu malu melihat prilaku istrinya itu. Ia malu pada Teungku Fiah dan Sakdiah yang sudah dianggap seperti orangtuanya.

Teungku Fiah tertawa lepas. Ia melirik Sakdiah yang memeluk anaknya dengan wajah tersenyum.

Suasana kaku berubah jadi riang. Irwan kembali duduk di posisi supir dan memberi aba-aba kalau perjalanan berlanjut.

“Kita lanjut perjalanan kalau begitu. Nanti kita salat di pesantren aja,” katanya.

Jalan raya dari pusat Kota Lhokseumawe mulai diterangi oleh lidah api raksasa di kiri dan kanan. Lidah api itu merupakan bagian dari perusahaan raksasa bernama Arun, yang menguras minyak Aceh 1974.

“Minyak ini harusnya milik kita teungku. Namun kini kita hanya mampu melihat mereka mengangkut kekayaan alam kita untuk dibawa pulang ke Jawa,” kata Siwan memulai percakapan.

“Banyak pria pria di Aceh Utara hanya jadi Satpam di perusahaan ini,” ujarnya lagi.

Teungku Fiah lagi-lagi cuma tersenyum.

“Kabarnya untuk masuk ke dalam Arun, harus melewati pengamanan yang berlapis-lapis. Ada tentara dan BKO juga. Belakangan ini banyak mayat yang dibuang saat dini hari sepanjang jalan ini,” katanya lagi.

Apa yang disampaikan oleh Siwan memang benar adanya. Sebagai pasukan nanggroe, Teungku Fiah paham dengan ketimpangan yang sedang terjadi di Aceh Utara. Ia banyak mendengar hal ini dari pasukan nanggroe yang berasal dari Pase.

“Semoga Allah Swt mengampuni dosa orang-orang Aceh yang telah menjual negeri ini, Wan. Karma tuhan itu akan datang bagi mereka yang mengkhianati negeri ini. Cepat dan lamban, itu hanya soal waktu,” kata Teungku Fiah.

“Jika nanti suatu saat Aceh merdeka dan kemudian prilaku sama terulang, kita juga akan dilaknat oleh tuhan,” ujarnya lagi. []

[Bersambung]

Tags: wasiet
Previous Post

Cara Hamka Berdakwah Mengajak Bukan Mengejek

Next Post

Manusia Purba Berumur 3,6 Juta Tahun Ternyata Vegetarian

Next Post

Manusia Purba Berumur 3,6 Juta Tahun Ternyata Vegetarian

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Bawaslu Kota Banda Aceh Dorong Generasi Muda Jadi Pengawas Partisipatif Menuju Pemilu 2029 yang Bermartabat

Bawaslu Kota Banda Aceh Dorong Generasi Muda Jadi Pengawas Partisipatif Menuju Pemilu 2029 yang Bermartabat

09/09/2026
Armaini Terpilih Jabat Ketua PC PGRI Kecamatan Kluet Timur

Armaini Terpilih Jabat Ketua PC PGRI Kecamatan Kluet Timur

09/09/2026
PC PGRI Kluet Timur Tepung Tawar Kadisdikbud dan Ketua PGRI Aceh Selatan

PC PGRI Kluet Timur Tepung Tawar Kadisdikbud dan Ketua PGRI Aceh Selatan

09/09/2026
Munawar Resmi Nahkodai PPP Pidie Jaya

Munawar Resmi Nahkodai PPP Pidie Jaya

09/09/2026
Senat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Gelar Latihan Kepemimpinan Dasar

Senat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Gelar Latihan Kepemimpinan Dasar

09/09/2026

Terpopuler

Batas Kecamatan di Abdya Memanas, Enam Kali Mediasi Berujung Blank Spot Hukum

Batas Kecamatan di Abdya Memanas, Enam Kali Mediasi Berujung Blank Spot Hukum

08/09/2026

November, Garuda Spark Hadir di Banda Aceh

Wasiet (58)

Tim Unit Reaksi Cepat Polres Abdya Tangkap ‘Ninja Sawit’ di Kuala Batee

[Opini] Peu Haba Pidie;Sebuah Catatan Menyambut Hari Jadi Pidie ke-515

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com