Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (66)

Admin1 by Admin1
01/04/2020
in Cerbung
0
Wasiet (65)

PROSESI wisuda berakhir beberapa menit jelang azan Dhuhur. Sederetan upacara skaral dilalui Ibnu dengan baik. Ia kini resmi menyandang gelar S.Pd. Title tingkat pertama untuk para sarjana pendidikan.

Namun saat hendak keluar ruangan untuk bertemu dengan Riska dan Ahmadi. Di pintu keluar, ia berpas-pasan dengan Raina. Gadis mungil itu terlihat anggun dengan baju batik serta toga yang dikenakannya.

“Nu, jadikan ke syukuran kecil-kecilan aku?”tanya Raina.

“Aku tak bermaksud apa-apa kok! Aku tahu kalau kamu hanya menganggap aku teman. Aku restui kamu dengan Riska. Aku sudah tahu semua kok. Yang aku harapkan, kamu bisa datang ke acaraku. Mungkin ini, bisa jadi pertemuan kita yang terjadi,” ujar Raina dengan nada pasrah.

Ibnu sempat bingung dengan kalimat Raina soal restu dan Riska. Namun pernyataan Raina terakhir lebih penting untuk dijawab.

“Boleh. Tapi aku datang bawa kawan ya,” ujar Ibnu kemudian.

Raina mengangguk. Ia kemudian tersenyum dengan hangat.

“Iya. Aku sudah bilang juga sama Riska tadi pagi. Ia akan datang bersama kamu dan dua kawan asrama kamu kan?” ujar Raina.

“Aku tunggu di Mbak Moel ya,” katanya lagi sambil berlalu.

Sementara di luar gedung AAC Dayan Dawood, sosok Riska, Ahmadi dan Gunawan ternyata sudah menunggu di dekat kantin. Ketiganya terlihat melambai dari kejauhan.

“Sini Nu, kita selfie dulu sebagai kenang-kenangan,” ujar Ahmadi.

Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk selfie di lokasi itu. Ibnu sendiri seakan lupa jika kegundahannya selama ini karena tak memiliki keluarga untuk menghadiri prosesi wisuda.

Mereka berempat kemudian memutuskan salat di Masjid Jamik kampus serta lanjut ke Mbak Moel untuk menghadiri hajatan kecil-kecilan Raina. Di Mbak Moel, Raina ternyata telah membooking sederetan tempat yang penuh makanan. Ada sejumlah mahasiswi sejarah yang ternyata juga hadir di sana.

Para adik angkatan dari Ibnu dan Raina itu, mengamati Riska yang datang dengan Ibnu, dengan wajah cemberut. Sorot mata mereka membuat Riska seperti tersetrum dengan sengatan listrik.

Namun Riska bersikap cuek. Ia tahu bahwa pandangan itu hadir karena ia datang bersama Ibnu. Sosok lelaki idaman serta susah ditaklukan oleh mahasiswi Sejarah. Padahal mereka satu jurusan serta memiliki kesempatan bertemu lebih banyak. Namun di hari spesial ini, Ibnu justru mengajak dirinya untuk menemani.

“Hai Raina. Selamat ya sudah wisuda. Doakan tahun depan aku nyusur kalian!” kata Riska menyapa Raina begitu mendekat.

Raina tersenyum dan memeluk tetangganya itu dengan erat.

“Makasih Ris. Aku juga mengaku kalah denganmu. Kegigihanmu mampu membuat Si Gay kembali normal,” bisiknya ke telinga Riska. Riska yang lama tak mendengar kalimat itu, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Hal ini membuat Ibnu melongo. Ibnu penasaran apa yang dibicarakan kedua gadis itu. Ibnu sadar jadi bahan gosip dua wanita itu. Sementara Ahmadi dan Gunawan langsung bergabung dengan para gadis lainnya di sana untuk menyantap hidangan.

“Masih saja kau ingat itu Rai. Belum jadian kok,” katanya pelan.

“Iya. Tapi kayaknya segera jadian nie,” ujar Raina lagi. Keduanya kemudian tersenyum dan kembali pelukan.

“Ris. Ayah dan ibuku dalam perjalanan ke sini. Ayahmu tiba-tiba diajak serta,” kata Raina lagi.

Riska terdiam mendengar penjelasan Raina. Ada ketakutan akan sesuatu ketika pembicaraan mengarah soal ayahnya.

“Itu mereka datang,” ujar Raina sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Ayah Raina dan ibunya memakai pakaian batik biasa. Riska sempat menarik nafas panjang. Namun beberapa detik kemudian ia justru kaget saat melihat ayahnya, justru hadir berpakaian loreng.  

[Bersambung]

Tags: wasiet
Previous Post

DPRA dan DPRK PNA Diminta Sumbang Gaji Untuk Bantu Tangani Covid 19

Next Post

“Seharusnya Tidak Perlu (Jam Malam) di Aceh”

Next Post

"Seharusnya Tidak Perlu (Jam Malam) di Aceh"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

BBPOM Aceh Periksa 146 Sarana Perkuat Pengawasan Obat dan Makanan

BBPOM Aceh Periksa 146 Sarana Perkuat Pengawasan Obat dan Makanan

10/10/2026
BNNP Aceh Bedah Isu Narkotika Lewat Perspektif Hubungan Internasional di USK

BNNP Aceh Bedah Isu Narkotika Lewat Perspektif Hubungan Internasional di USK

10/10/2026
Dua Ceh Senior Siap Adu Syair di Didong Jalu, Win Kul Comeback Setelah Lama Vakum

Dua Ceh Senior Siap Adu Syair di Didong Jalu, Win Kul Comeback Setelah Lama Vakum

10/10/2026
Sang Kombatan [Jilid 2]

Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 10

10/10/2026
Persada Abdya U-17 Lolos ke Putaran Nasional Soeratin Akan Segera Berlaga di IKN, Berikut Jadwalnya

Persada Abdya U-17 Lolos ke Putaran Nasional Soeratin Akan Segera Berlaga di IKN, Berikut Jadwalnya

10/10/2026

Terpopuler

Wasiet (65)

Wasiet (66)

01/04/2020

Rektor UIN Ar-Raniry Serahkan Motor Modifikasi untuk Mahasiswa Disabilitas

Dinsos Abdya Pulangkan Lansia Terlantar Asal Nias ke Sumut

Lazuardi Muhammad Latif Kembali Dilantik sebagai Kaprodi Ilmu Hadis UIN Ar- Raniry

Ohku, Ada 7.454 Laporan Scam Masuk dari Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com