Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

Apam dan Corona

Admin1 by Admin1
11/04/2020
in Opini
0
Apam dan Corona

Kalau dilihat sekilas mungkin tidak ada kaitan antara Apam dan Corona. APAM disini maksudnya “kue apam”, yang dibuat dari tepung dengan bentuk, bulat di cetak dengan kuali. Biasanya tradisi buat kue Apam ini di bulan Rajab. Sebab itu bulan Rajab oleh masyarakat Aceh disebut dengan “buleun meu-apam”, kemudian dimakan dengan kuah dari santan yang dimasak, sedangkan CORONA adalah virus atau Wabah yang sekarang lagi muncul dan menggemparkan seluruhn isi dunia. Corona merupakan penyakit menular yang bisa mematikan dalam hitungan jam. Tidak perlu lama, dalam beberapa pekan ini Corona lansung mewabah ke berbagai negara, termasuk Indonesia, bahkan sudah terjangkit di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Aceh. Kalau di Aceh disebut juga dengan istilah ta’eun.

Taeun itu asal katanya dari bahasa Arab, yaitu Tha’un ( طاعون ) yang artinya adalah wabah. ta’eun dalam masyarakat Aceh merupakan penyakit yang berbahaya, yang mudah terjangkit ke semua orang, Penyakit Ta’eun merupakan penyakit Koléra, wabah atau epidemi, yang dua gejala utamanya adalah  muntah ciret (muntah-berak). Jaman dulu sebagaimana wilayah lainnya di seluruh Nusantara, Aceh juga terkena wabah ta’eun, penyakit ini pada jaman dulu juga pernah menewaskan banyak orang. Oleh karena itu dalam perang Aceh dulu banyak pejuang Aceh yang mati bukan hanya karena peluru atau senjata saja, tapi juga karena terserang penyakit ta’eun tersebut, sebagaimana disebutkan dalam manuskrip yang membahas tentang perang Aceh seperti Hikayat Prang Gumpeni “matee ta’eun pih sit le that, han teukhimah tip-tip uroe”, artinya: Mati Karena wabah Ta’eun sangat banyak, tidak terhitung jumlahnya setiap hari. ( Hikayat Prang Gumpeni: 15), dan masih ada juga dalam beberapa naskah Aceh lain yang membahas tentang Ta’eun tersebut.

Istiqamatunnisak MA

Yang menjadi pertanyaan, apa kaitan atau hubungan antara keduanya? Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, apa itu corona dan apa itu Apam? Maka bisa dilihat dari segi upaya-upaya atau peran yang dilakukan pemerintah dan masyarakat demi mengatasi dan mencegah virus corona agar tidak terus menerus tersebar dan memakan banyak korban jiwa.

Upaya yang dilakukanpun bermacam, macam: mualai dengan melakukan lockdown (tetap dirumah, tidak meninggalkan tempat tinggal kita), social Distancing (tidak berinteraksi dengan orang-orang), menganjurkan memakai masker, hand sanitiser, selalu mencuci tangan, dan lai-lain. Di Aceh dulu melakukan tulak bala selain dengan meramu obat-obat tradisional untuk diminum, masyarakat juga melakukan beberapa ritual, baik berkaitan dengan ritual yang berkaitan dengan sosial  keagamaan maupun ritual yang berkaitan dengan budaya-budaya setempat.

Ritual tulak bala berkaitan dengan keagaman biasanya dilakukannya do’a bersama di meunasah-menasah selama beberapa malam, kemudian berkeliling arak-arakan dengan membawa obor, sambil membaca doa-do’a serta syair-syair dalam bahasa Arab dan bahasa Aceh. Seluruh kaum laki-laki sekampung harus ikut melaksanakan ritual tersebut.

Selama  Covid-19 masyarakat Aceh juga melakukan ritual-ritual seperti yang dilakukan masyarakat dulu, karena masyarakat Aceh meyakini dengan ritual tersebut bisa melakukan atau bisa menghilangkan bala wabah Corona tersebut.

Sedangkan ritual yang berkaitan dengan tradisi turun-temurun untuk tulak bala seperti membakar tiga helai kain sudah jelek (ija Broek), dan memakai inai di tiga jari tangan kanan, yaitu: jari Kelingking, jari tengah, dan ibu jari., selama mewabahnya virus Corona, ritual tersebut masih digunakan bahakan sebagian masyarakat Aceh sudah melakukannya. Kemudian ritual lain yang masih kental sampai sekarang yaitu meakukan kenduri Apam “Kue Apam” sebagai medianya.

Dalam masyarakat Aceh tradisi buat Apam dilakukan bukan hanya pada bulan ra’jab saja, tetapi juga dilakukan pada beberapa acara tertentu, diantaranya: Pada Acara kenduri (Hajatan), Ketika Panen dan menanam padi, , acara 15 hari kematian (kalau di Aceh Besar), Kenduri melaut, Maulid nabi, kenduri pasca gempa bumi, kenduri ketika melakukan tulak bala. Pada ritual ini bisa kita lihat apa hubungan atau kaitan antara Apam dan Corona? Corona merupakan salah satu wabah penyakit atau yang dianggap bala oleh masyarakat, jadi untuk mengatasi bala tersebut sebagian masyarakat memasak apam untuk diberikan  atau dibagikan kepada orang-orang miskin, tetangga, dan lain-lain. Masyarakat dulu membuat kue apam untuk dibawa sebagai kanduri ke mesjid atau meunasah, disuguhkan ke Teungku sambil dibacakan do’a tolak bala bersama. Corona yang terjadi tepatnya di bulan Ra’jab, sehingga ada sebagian masyarakat Aceh melakukan ritual Kenduri Apam Rajab bertepatan dengan Kenduri Apam Tulak Bala.

Kanduri apam (Rajab) mempunyai tempat dalam almanak resmi tentang perayaan, terutama karena dalam bulan itu, pada malam 27 Rajab, Nabi Muhammad melakukan Isra’ dan Mi’raj. Untuk memperingati malam itu orang berkumpul di masjid atau di rumah-rumah sambil mendengarkan riwayat mi’raj (Aceh: Me’reut). Uraian mi’raj dilakukan dengan prosa yang dibawakan sebagai syair maupun sebagai sajak, sama seperti waktu mengisahkan lahir dan kehidupan Nabi. Dalam buku C.Snock Hurgronje (1982:248) ( Kebiasaan ini oleh mereka yang mempunyai bakti khusus terhadap agama, seperti leube, malèm dan lain-lain. Jadi bukan pesta rakyat dalam arti kata sebenarnya.

Penulis adalah Istiqamatunnisak MA, peneliti naskah kuno dan pengajar di UIN Ar-Raniry.

 

Tags: apamCorona
Previous Post

Google Larang Karyawan Pakai Zoom

Next Post

Wasiet (74)

Next Post
Wasiet (65)

Wasiet (74)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

Teuku Rahmatsyah Jadi Kajati Baru Aceh

23/07/2026
Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

Ramlan, Pemilik Toko Emas Baru Serahkan Zakat Tijarah ke Baitul Mal Abdya

23/07/2026
Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

Mahasiswa KKN USK Kelompok 11 Gelar Home Visit, Berikan Pemeriksaan Glukosa Darah dan Tekanan Darah Gratis bagi Warga Cut Langien

23/07/2026
DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

DEMA FSH UIN Ar-Raniry Luncurkan Program Desa Binaan Enam Gampong di Lhoong

23/07/2026
Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

Timnas Putri Indonesia Juara Piala AFF Wanita usai Cukur Laos 5-0

23/07/2026

Terpopuler

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

BPBD Buka Bursa Ketua FPRB Pidie Jaya, Figur Tangguh Hadapi Ancaman Bencana Dicari

21/07/2026

Apam dan Corona

Kapaloe, Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur

STAI Tgk. Chik Pante Kulu dan Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh Bangun Kolaborasi Penguatan Tridarma Perguruan Tinggi

Rp4,65 Miliar Dana Umat Siap Disalurkan, Baitul Mal Pidie Perketat Verifikasi demi Cegah Salah Sasaran

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com