TEUNGKU Fiah terdiam mendengar perkataan Ridwan. Ia tak pernah menyesali pilihan hidup yang ditempuhnya selama ini. Hanya saja, ia telah melihat kematian dari orang-orang yang tak bersalah.
Ada teungku-teungku dayah di Matang yang harus menuai ajal. Ada Ruslan yang juga ditembak oleh pria misterius. Meskipun TNI, Ruslan selama ini sangat dekat dengan gerilyawan Aceh. Kemudian ada juga Budi, almarhum anaknya.
Ia yakin, ada banyak kematian tiap hari di Aceh. Ada yang terungkap dan terabaikan begitu saja.
“Aku tak pernah ragu dengan perjuangan Aceh. Kita pantas untuk merdeka. Minimal jika kita melihat prilaku pusat terhadap kita selama ini. Hanya saja, perjuangan ini telah banyak mengorbankan anak bangsa. Darah yang mengalir di negeri ini sudah terlalu banyak,” kata Teungku Fiah.
Teungku Fiah kemudian terdiam. Ia seperti mencari-cari kalimat yang tepat untuk diungkapkan.
“Di sini lain, TNI yang kita musuhi itu juga mayoritas beragama Islam. Kita dengan mereka sembahyang dengan cara yang sama. Berdoa dengan cara yang sama juga,” kata Teungku Fiah.
Ridwan mengangguk tanda setuju.
“Aku tak pernah terlibat dalam perang teungku. Dulu ketika aku mendaftar sebagai pasukan, aku malah diminta jadi penghubung. Aku tak tahu besarnya beban yang dipikul oleh tentara nanggroe,” ujar Ridwan.
“Semoga kedepan, ketika Aceh merdeka. Setiap tetes darah pejuang yang tumpah akan terbayar dengan kemakmuran generasi di masa depan,” kata Ridwan lagi.
Teungku Fiah mengangguk tanda setuju.
“Amin,” kata Mustafa tiba-tiba. Ia ternyata mendengar semua percakapan antara Teungku Fiah dan Ridwan.
Perjalanan terasa singkat. Dari arah Panton Labu, Siwan mengarahkan truk ke kanan untuk menuju arah pergunungan. Mereka kemudian kembali melalui jarak 8 kilometer melalui jalan aspal perkampungan, dan truk berhenti tiba-tiba di ujung jalan.
“Teungku Fiah, Lemha dan pasukan menunggu teungku dan Mustafa di rumah salah satu warga di desa ini. Jalannya lurus saja sekitar 50 meter. Ada rumah ke tiga sebelah kiri. Aku tak bisa masuk. Karena aku khawatir, ada cuek yang melapor nanti,” kata Ridwan.
Mustafa dan Teungku Fiah mengangguk tanda setuju. Mereka kemudian turun dan berjalan kaki. Mustafa terang-terangan menenteng senjata AK-47 miliknya.
Sementara Teungku Fiah lebih memilih menyarungkan senjata miliknya. Ia tak ingin orang-orang melihatnya ketakutan.
“Kau tak takut terlibat kontak tembak Mustafa,” tanya Teungku Fiah.
Mustafa menggeleng. Ia paham dengan maksud dan tujuan dari perkataan Teungku Fiah.
“Tidak Teungku. Aku menghindari perang di dayah Matang karena tak ingin ada korban. Tapi sayangnya, tetap saja teungku-tengku dayah meninggal. Kali ini, karena berpas-pasan dengan musuh, aku akan melawan hingga ajal menjemput. Meskipun harus menuai ajal,” kata Mustafa kemudian.
Teungku Fiah tertawa mendengar pengakuan Mustafa. Ia kemudian mendekat dan memeluk Mustafa.
“Aku telah kehilangan dua orang anak. Aku tak mau kamu kembali jadi korban. Kau harus lebih berhati-hati,” ujarnya sambil memeluk erat.
[Bersambung]








