Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Cerbung

Wasiet (78)

Admin1 by Admin1
15/04/2020
in Cerbung
0
Wasiet (65)

TEUNGKU Fiah terdiam mendengar perkataan Ridwan. Ia tak pernah menyesali pilihan hidup yang ditempuhnya selama ini. Hanya saja, ia telah melihat kematian dari orang-orang yang tak bersalah.

Ada teungku-teungku dayah di Matang yang harus menuai ajal. Ada Ruslan yang juga ditembak oleh pria misterius. Meskipun TNI, Ruslan selama ini sangat dekat dengan gerilyawan Aceh. Kemudian ada juga Budi, almarhum anaknya.

Ia yakin, ada banyak kematian tiap hari di Aceh. Ada yang terungkap dan terabaikan begitu saja.

“Aku tak pernah ragu dengan perjuangan Aceh. Kita pantas untuk merdeka. Minimal jika kita melihat prilaku pusat terhadap kita selama ini. Hanya saja, perjuangan ini telah banyak mengorbankan anak bangsa. Darah yang mengalir di negeri ini sudah terlalu banyak,” kata Teungku Fiah.

Teungku Fiah kemudian terdiam. Ia seperti mencari-cari kalimat yang tepat untuk diungkapkan.

“Di sini lain, TNI yang kita musuhi itu juga mayoritas beragama Islam. Kita dengan mereka sembahyang dengan cara yang sama. Berdoa dengan cara yang sama juga,” kata Teungku Fiah.

Ridwan mengangguk tanda setuju.

“Aku tak pernah terlibat dalam perang teungku. Dulu ketika aku mendaftar sebagai pasukan, aku malah diminta jadi penghubung. Aku tak tahu besarnya beban yang dipikul oleh tentara nanggroe,” ujar Ridwan.

“Semoga kedepan, ketika Aceh merdeka. Setiap tetes darah pejuang yang tumpah akan terbayar dengan kemakmuran generasi di masa depan,” kata Ridwan lagi.

Teungku Fiah mengangguk tanda setuju.

“Amin,” kata Mustafa tiba-tiba. Ia ternyata mendengar semua percakapan antara Teungku Fiah dan Ridwan.

Perjalanan terasa singkat. Dari arah Panton Labu, Siwan mengarahkan truk ke kanan untuk menuju arah pergunungan. Mereka kemudian kembali melalui jarak 8 kilometer melalui jalan aspal perkampungan, dan truk berhenti tiba-tiba di ujung jalan.

“Teungku Fiah, Lemha dan pasukan menunggu teungku dan Mustafa di rumah salah satu warga di desa ini. Jalannya lurus saja sekitar 50 meter. Ada rumah ke tiga sebelah kiri. Aku tak bisa masuk. Karena aku khawatir, ada cuek yang melapor nanti,” kata Ridwan.

Mustafa dan Teungku Fiah mengangguk tanda setuju. Mereka kemudian turun dan berjalan kaki. Mustafa terang-terangan menenteng senjata AK-47 miliknya.

Sementara Teungku Fiah lebih memilih menyarungkan senjata miliknya. Ia tak ingin orang-orang melihatnya ketakutan.

“Kau tak takut terlibat kontak tembak Mustafa,” tanya Teungku Fiah.

Mustafa menggeleng. Ia paham dengan maksud dan tujuan dari perkataan Teungku Fiah.

“Tidak Teungku. Aku menghindari perang di dayah Matang karena tak ingin ada korban. Tapi sayangnya, tetap saja teungku-tengku dayah meninggal. Kali ini, karena berpas-pasan dengan musuh, aku akan melawan hingga ajal menjemput. Meskipun harus menuai ajal,” kata Mustafa kemudian.

Teungku Fiah tertawa mendengar pengakuan Mustafa. Ia kemudian mendekat dan memeluk Mustafa.

“Aku telah kehilangan dua orang anak. Aku tak mau kamu kembali jadi korban. Kau harus lebih berhati-hati,” ujarnya sambil memeluk erat.

[Bersambung]

 

Tags: wasiet
Previous Post

Update Corona: PDP di Aceh Bertambah Dua Orang

Next Post

Pemerintah Aceh Diminta Laporkan Hasil Refocusing dan Realokasi Anggaran Covid-19

Next Post

Pemerintah Aceh Diminta Laporkan Hasil Refocusing dan Realokasi Anggaran Covid-19

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

Lagi, Staf Ahli dan Pejabat Lainnya di Abdya Ikuti Program “Satu Pejabat Satu Anak Yatim”

06/09/2026
IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

IKAT Gelar Mubes V, Usung Agenda Penguatan Syiar Dakwah dan Kemandirian Kelembagaan

06/09/2026
Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

Jelang Kedatangan Utusan AS, Putin Perintahkan Setop Serang Kyiv

06/09/2026
Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

Jepang-Rusia Makin Panas Gara-gara Patung Perang Kontroversial

06/09/2026
Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

Membongkar 70 Paket Benih DKP Pidie Jaya: Rp10 Miliar, Pokir, dan Jejak Vendor, Mengapa Tak Dilelang?

05/09/2026

Terpopuler

Wasiet (65)

Wasiet (78)

15/04/2020

Senat UIN Ar-Raniry Minta Pemerintahan Aceh Transparan Terkait Anggaran Tanggap Darurat, Masa Transisi, dan Rehab-Rekon PascaBencana Hidrometorologi

Pelatihan Kader Penggerak Nanggroe Japakeh 2026 Dibuka

Sekda, Para Kadis hingga Camat mulai Ramai jadi Orang Tua Asuh Anak Yatim di Abdya

3.069 Huntap Pidie Jaya, Baru 110 Ditender: Korban Bencana Kembali Menunggu

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com