Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Manisnya Bisnis Madu di Pesisir Aceh

redaksi by redaksi
04/07/2020
in Feature
0
Nikmatnya Sensasi Madu Linot di Ujong Tunong Julok

Saat sejumlah usaha nyaris bangkrut akibat Corona. Madu linot justru melejit. Para peternak madu turut menikmati omset jutaan rupiah perbulannya.

Ia adalah Rahman, 37 tahun, warga Ujong Tunong, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Dari pedalaman ini lah kini madu linot terkenal hingga ke seluruh Indonesia.

“Saya sudah budidaya madu hampir 4 tahun. Tujuh bulan pertama dianggap seperti orang gila,” kata Rahman di depan Syech Fadhil yang bertandang ke kediamannya, Minggu 21 Juni 2020.

Di awal awal merintis budidaya madu linot, kata dia, banyak warga yang pesimis jenis usaha yang dirintisnya itu.

“Banyak yang mengatakan tidak mungkin. Saya pun sering malam malam di tengah hutan untuk mencari linot,” katanya.

Rahman mengaku belajar budidaya madu linot dari handphone.

Ia mencari informasi sebanyak mungkin dari mesin pencari Google dan kemudian menerapkannya dalam praktek sehari hari. Karena tidak memiliki guru, berulangkali usahanya berujung kegagalan.

“Namun saya pantang menyerah. Menurut saya, tidak ada yang mustahil. Kemudian saya berangkat ke Malaysia untuk belajar budidaya di sana. Saya sudah dua kali ke Malaysia selama 4 tahun terakhir. Dari apa yang saya pelajari di sana kemudian saya terapkan di sini. Alhamdulillah cukup berhasil,” ujar pria lajang ini.

Rahman kemudian mengajak sejumlah pemuda di Ujong Tunong untuk belajar yang sama. Sayangnya, hanya beberapa dari mereka yang kemudian ikut serta. Para pemuda di sana tetap menganggap budidaya madu linot adalah hal yang gila.

“Saya sendiri tetap fokus pada budidaya madu linot. Sarang linot juga kami tempatkan di rumah rumah warga yang mau ikut serta dengan sistem bagi hasil. Mereka hanya perlu menjaga sarang tak jatuh. Per 40 hari sekali kami panen,” kata Rahman.

Kini dari usaha yang dirintisnya, Rahman bisa meraih omset 6 hingga 7 juta perbulannya. Hasil ini di luar bagi hasil kepada warga yang mau ditempatkan sarang linot.

“Sebenarnya cukup simple. Warga hanya perlu menjaga sarang. Kemudian panen 40 kali sekali. Di luar itu, mungkin hanya perlu menanam bunga untuk makanan linot agar madu yang dihasilkan lebih berkualitas,” kata Rahman.

Rahman berharap suatu saat Ujong Tunong menjadi desa budidaya madu linot dengan rumah warga yang penuh bunga dan wangi.

Menurut Rahman, saat ini ada hampir 100 orang lebih peternak madu linot di Aceh. Sekitar 70 orang di antaranya adalah peternak madu linot binaan darinya.

“Saya tidak meminta uang kepada warga yang ingin belajar. Hanya ongkos kendaraan. Mereka tersebar di sejumlah kabupaten kota. Harapan besar saya, suatu saat peternak madu linot tersebar di semua kabupaten kota di Aceh,” ujar dia lagi.

Saat ini, katanya, madu linot dipublikasi melalui akun media sosialnya. Warga yang tertarik menghubunginya dan kemudian dikirim melalui jasa antar barang.

Tak hanya Rahman. usaha madu linot kini juga dirintis oleh Aiyub, 48 tahun, warga Desa Mulieng Mayang, Kecamatan Kutamakmur, Kabupaten Aceh Utara.

“Alhamdulillah kini ada 80 rumah untuk tempat madu linot. Kemudian beberapa untuk lebah Sarena,” kata Aiyub.
Aiyub bukanlah peternak madu linot dan lebah Sarena jembolan universitas ternama.

Tiga tahun lalu, Aiyub hanyalah pedagang es krim produksi Sumatera Utara merek Upin Ipin.

“Saya sudah baca baca soal madu linot. Kemudian ada yang bantu dan jadi seperti sekarang,” kata Aiyub.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan sekarang,” katanya lagi.

“Saya beralih profesi ke peternak madu karena ingin hidup lebih berkah.”

Tags: acehMadu Linot
Previous Post

Kisah Nelayan Penyelamat Nyawa Rohingya di Laut Aceh

Next Post

Gerindra Minta Bupati Aceh Selatan Copot Jabatan Kadis Pariwisata

Next Post
Wartawan di Subulussalalam Dipukuli Diduga Karena Berita

Gerindra Minta Bupati Aceh Selatan Copot Jabatan Kadis Pariwisata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pemkab Aceh Barat Kaji Potensi Penerimaan PAD Pelabuhan

Pemkab Aceh Barat Kaji Potensi Penerimaan PAD Pelabuhan

27/06/2026
Batu Giok Aceh Peroleh Sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual

Batu Giok Aceh Peroleh Sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual

27/06/2026
APRI Desak Segera Sahkan Revisi Qanun Minerba Aceh, Dinilai Jadi Kunci Legalisasi Tambang Rakyat di Aceh

APRI Desak Segera Sahkan Revisi Qanun Minerba Aceh, Dinilai Jadi Kunci Legalisasi Tambang Rakyat di Aceh

27/06/2026
Sejumlah Kapolres-PJU Polda Aceh Dimutasi

Sejumlah Kapolres-PJU Polda Aceh Dimutasi

27/06/2026
Syech Muharram Ajak Mahasiswa Aceh Besar Jadi Mitra Strategis Bangun Daerah

Syech Muharram Ajak Mahasiswa Aceh Besar Jadi Mitra Strategis Bangun Daerah

27/06/2026

Terpopuler

Nikmatnya Sensasi Madu Linot di Ujong Tunong Julok

Manisnya Bisnis Madu di Pesisir Aceh

04/07/2020

Bupati Abdya Isi Materi di Pengajian Rutin Pemuda Pancasila

Dugaan Mark Up Arena MTQ Aceh Mengemuka, Aktivis Mahasiswa Minta APH Telusuri Aliran Anggaran

Tokoh Gayo Serta Lia Minta Menteri PU Segera Ganti Plt Kepala BPJN Aceh

Brgijen Ruddi Setiawan Diangkat Jadi Kapolda Aceh

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com