PRIA itu bernama Muliadi. Namun oleh penduduk di sana dipanggil dengan sebutan Adi, 40 tahun.
Suasana di sekitar rumah duka masih ramai dipenuhi para penziarah saat berkunjung ke sana. Maklum, usai magrib, samadiah berlangsung di sana.
“Neutamong-tamong,” ujar Adi saat menyambut kedatangan kami di rumah duka, Desa Blang, Kota Banda Aceh, Jumat malam 5 Maret 2021.
Malam itu, ia mengenakan baju kemeja dan kain sarung lusuh.
Raut wajahnya terlihat kusam. Berulah kali air mata tumpah tatkala mengingat almarhumah istrinya yang telah tiada.
Di dalam rumah bantuan tsunami itu, Adi mulai bercerita soal kejadian naas yang menimpa keluarganya itu.
Pembacokan menimpa anaknya yang tertua dan istrinya. Istrinya meninggal dunia dan anaknya harus menjalani perawatan.
“Yang tidak saya sangka, itu semua dilakukan oleh saudara saya sendiri,” ujar dia.
Pelaku bernama Putra, 21 tahun, yang tak lain adalah sepupu Adi sendiri. Rumah pelaku berada di belakang rumahnya.
“Istri saya sering memberinya makan. Mengirimnya sayur,” kata Adi.
Pada hari kejadian, tutur Adi, ia berada di sekolah karena alasan kerja. Istrinya melepas kepergiannya dengan senyum hangat.
“Pulau ke rumah, saya bilang ke istri mau ke tambak untuk kasih makan ikan. Istri saya cuma tersenyum. Dia bilang, jangan lupa bawa pulang sayur,” ujar Adi mengenang sang istri.
Dari tambak, Adi kemudian kembali ke sekolah.
Dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, ia berpas-pasan di jalan dengan mobil yang membawa istrinya ke rumah sakit.
Baju istrinya penuh darah.
“Bang lon pamit. Neujaga aneuk beh. Itu yang diucapkannya berulang kali,” kata Adi dengan wajah lesu.
“Bang lon jak beh,” kata Adi lagi mengulang kalimat terakhir istrinya.
Istri Adi bernama Ramlah, 35 tahun, guru ngaji yang menjadi korban pembacokan, Jumat siang.
(Bersambung)










