SETIAP 15 Agustus diperingati sebagai hari damai di Aceh. Provinsi paling ujung Pulau Sumatera yang memiliki sejarah konflik panjang pun akhirnya berhenti berperang.
Ya, 15 Agustus 2005 lalu, atau 16 tahun silam, perjanjian damai ditandatangani di Helsinki.
Fase kedua konflik di Aceh pun berhenti.
Ini bukan satu-satunya yang pernah tercatat dalam sejarah. Ada Gerakan DI/TII, fase pertama konflik di Aceh usai ploklamasi kemerdekaan RI, yang berakhir di Ikrar Lamteh.
Gerakan DI/TII dimotori Teungku Daud Beureueh. Ikrar Lamteh yang dicetuskan pada 7 April tahun 1957.
Saat itu, Jakarta menjanjikan sejumlah keistimewaan untuk Aceh. Salah satunya dalam menjalankan syariat Islam.
Namun janji ini kemudian berujung dengan kekecewaan. Hanya berselang sekitar 20 tahun, Aceh kemudian kembali bergejolak. Pada 4 Desember 1976, giliran Hasan Tiro memploklamirkan Aceh Merdeka.
Sedangkan Konflik GAM-RI berakhir di meja runding Helsinki, Swedia. Ada sejumlah kewenangan yang dijanjikan untuk Aceh saat itu dengan syarat GAM harus memotong senjata dan mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Salah satunya dana Otsus. Namun hingga 16 tahun lamanya, dana Otsus ternyata belum mampu mensejahterakan rakyat Aceh. Terbukti, Provinsi Aceh masih menjadi daerah termiskin di Sumatera.
Dana Otsus raib tak berbekas setiap tahunnya. Salah satunya diindikasi karena prilaku korup para pejabat di daerah ini.
Suara suara sumbang pun kini kembali bermunculan di Aceh.
Hasil perjanjian di Helsinki, terutama Otsus, masih dinikmati oleh segelintir elit di Aceh. Para kombatan, mayoritasnya, masih morat marit di pedalaman.
Sedangkan bagi rakyat, damai ini masih terasa sebatas berhenti perang.
Sebelumnya, pejuang Aceh juga pernah terlibat konflik dengan Belanda yang menjadi sejarah perang terbesar dan terlama yang pernah dilakoni Negeri Kincir Angin itu.
Belum juga termasuk perang dengan Jepang dan Amerika saat Indonesia belum ada.
Perang begitu akrab dengan Aceh. Demikian juga dengan damai.
Perang di Aceh, terutama dengan Belanda, tercatat hampir ratusan tahun. Sedangkan damai hanya bertahan di fase 20-an.
[Mungkin] Aceh bisa berbangga bahwa kita begitu heroik di medan perang. Belum ada yang mampu menundukan Aceh di medan perang. Bahkan Belanda sekalipun. Namun Aceh, sering kali tak berkutik di meja runding. Sejarah membuktikannya.
Kini, setelah 16 tahun usia perdamaian di fase kedua, pemimpin di Aceh, harusnya belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Prilaku korup hanya akan membuat Aceh kembali dalam siklus yang sama.
Selamat hari perdamaian di Aceh.








