Oleh Marinus Heluka. Penulis adalah mahasiswa sejarah FKIP USK. Marinus asal Papua dan juga ketua perhimpunan mahasiswa Papua Provinsi Aceh.
Pria berpustor sedang, dengan tinggi 173 cm dan berat badan 54 kg perawakan ramah dan suka berbaur, ia dikenal dengan kulit putih sawo matang, bermuka polos. Namanya Agung Juevan Christopher, biasa dipanggil Agung.
Agung merupakan putra Dayak berusia 22 tahun, yang lahir pada 06 juni 1999 di Desa Long Bawan, Kecematan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Agung anak pertama dari dua bersaudara, Agung berasal dari keluarga yang sederhana di Desa Long Bawan, Agung merupakan anak dari bapak Simson Selutan (49 tahun), dan Ibu Eldamia Elisa (39 tahun).
Ayah Agung bekerja sebagai guru di salah satu SMA di daerah asal Agung. Ibunya bekerja mengurus rumah tangga. Agung memiliki adik bernama Sentia Clarita (18 tahun) yang mana baru menyelesaikan pendidikan SLTA di Desa Long Bawan.
Ayah Agung didalam keluarga sangat tegas dalam mendidik, dan ia selalu mengatakan suatu saat Agung harus lebih dari ayahnya, dan ibu Agung selalu memberikan nasehat, motivasi dan mengajarkan tentang agama agar Agung bertumbuh dewasa menjadi anak yang berkarakter baik.
Masa kecil Agung suka memancing, main kelereng, mandi-mandi di sungai dan berburu di hutan bersama rekan-rekanya di kampung halaman..
Agung masuk sekolah TK 01 Long Bawan tahun 2004; SDN 001 Krayan 2006; SMPN 001 Krayan 2011; SMAN 1 Krayan 2014 dan lulus pada tahun 2017.
Setelah lulus SMA, Agung ingin melanjutkan pendidikan di tingkat universitas, saat itu Agung mendapatkan informasi mengenai program beasiswa Afirmasi 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dari pihak sekolah, dan Agung ditawarkan sebagai perwakilan dari sekolahnya, sebab pada waktu itu Agung mendapatkan nilai yang cukup tinggi sehingga berkesempatan untuk ikut tes program beasiswa Afirmasi di tingkat kabupaten.
Setelah seleksi tes tersebut, Agung lolos di Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Fakultas MIPA Jurusan Farmasi. Tidak hanya itu, Agung juga sempat mengikuti tes melalui jalur SBMPTN, beasiswa, dan undangan untuk masuk ke perguruan tinggi.
Agung lolos di beberapa Universitas, seperti Universitas Borneo Tarakan (UBT) di jurusan teknik elektro, dan jalur beasiswa subsidi salah satu Universitas di Cina Jurusan Kedokteran.
Dari beberapa Universitas tersebut Agung memilih masuk di Universitas Syiah Kuala (USK), pada jurusan farmasi.
Alasan Agung memilih di USK dikarenakan beasiswa tersebut ditanggung full oleh pemerintah pusat, dan USK juga merupakan salah satu kampus terbaik di Sumatera dengan akreditasi A, jurusan yang pilih pun sesuai minat Agung, sebab Agung sangat tertarik dengan dunia kesehatan.
Saat Agung mengetahui bahwa ia lolos di Universitas Syiah Kuala, Agung penasaran karena sebelumnya tidak pernah mendengar tentang Aceh dan budayanya serta karakter masyarakat Aceh, yang mana sangat religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang berasaskan syariat Islam.
Setiba di Aceh pada tahun 2017 dan mulai berkuliah di Universitas Syiah Kuala, pada semester-semester awal Agung sangat kaku dan menutup diri untuk interaksi dengan mahasiswa maupun masyarakat Aceh.
Sebab pembawaan Agung pada saat itu sangat pendiam dan tidak suka untuk menegur.
Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdiam di asrama setelah pulang kuliah. Tahun pertama setibanya di Aceh, Agung belum tahu persis tentang budaya dan karakteristik masyarakat Aceh, bahkan peraturan syariat Islam di Aceh.
Kemudian saat Agung masuk di asrama, ia berjumpa dengan mahasiswa Afirmasi Papua yang juga kuliah di Universitas Syiah Kuala. Dikarenakan kedekatannya dengan mahasiswa Papua, hal itu membuat agung diajak bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA) Banda Aceh, lalu mulai banyak berinteraksi dan berpartisipasi dalam kegiatan mahasiswa Papua.
Secara perlahan Agung mulai membuka diri untuk beradaptasi dan menjalin relasi lebih banyak lagi dengan mahasiswa lain di asrama, di kampus, maupun dengan masyarakat di sekitarnya.
Awalnya Agung sulit untuk beradaptasi, dikarenakan perbedaan budaya maupun adat istiadat di Aceh, dengan budaya Dayak yang ada di Kalimantan.
Namun ternyata, budaya masyarakat di Aceh sangat menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam sebagai dasar dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan budaya adat istiadat dari suku Dayak yang ada di Kalimantan memiliki dasar kebudayaan tersendiri yang berbeda dari budaya Aceh, yakni masyarakat suku Dayak sangat menghormati dan berpegang pada nilai-nilai warisan leluhur suku Dayak yang telah diturunkan secara turun temurun.
Mayoritas masyarakat di Aceh beragama Islam, sedangkan mayoritas masyarakat suku Dayak beragama Kristen, lain daripada itu dialek bicara, dan pergaulan yang cukup berbeda yang dirasakan Agung menjadi salah satu tantangan tersendiri pada saat beradaptasi dengan masyarakat Aceh.
Seiring berjalannya waktu Agung memahami karakteristik dan budaya masyarakat Aceh, ternyata masyarakat Aceh sangat terbuka dan ramah sehingga Agung cukup mudah untuk berbaur dan dekat dengan masyarakat Aceh di sekitarnya, meskipun budaya Aceh identik dengan niai-nilai Islam namun masyarakat Aceh sangat terbuka untuk menerima masyarakat luar Aceh yang berbeda ras, suku, dan budaya.
Penerapan peraturan syariat Islam di Aceh bisa dibilang cukup baik, dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Aceh juga taat pada peraturan yang diterapkan.
Implementasi peraturan syariat Islam yang baik membuat Kota Banda Aceh menjadi kota yang nyaman dan aman untuk mahasiswa luar yang ingin menuntut ilmu di Aceh, demikian pula yang dirasakan Agung selama berada di Aceh dimana ia merasa aman dan nyaman untuk menjalani aktivitas perkuliahan (ekstrakurikuler dan intrakurikuler), maupun bermasyarakat.
Agung terlibat aktif di kegiatan Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFAR), di bidang Kominfo dan membangun relasi secara intensif dengan mahasiswa Aceh, sehingga ia mulai paham tentang cara pergaulan dengan mahasiswa atau masyarakat yang berbeda suku, agama, bahasa dan budaya. Mahasiswa Aceh sangat baik meskipun ia dari suku Dayak dan beragama Kristen Protestan namun diterima dengan baik tanpa diskriminasi. Selama kuliah di USK, dosen wali memberikan perhatian lebih dan memberikan motivasi agar Agung bisa mengikuti kuliah dengan baik.
Agung berperan aktif di luar organisasi kampus, yakni kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA) Banda Aceh, seperti Natal, penerimaan mahasiswa baru, bahkan ia memberikan ide dan kontribusi.
Dan juga Agung terlibat dalam Himpunan Mahasiswa Kristiani Universitas Syiah Kuala (HIMKUS) dan sangat aktif di organisasi dan mengambil bagian dalam kepanitian dimana sejak tahun 2019 ia menjadi ketua panitia penyambutan mahasiswa baru, dan menjadi ketua Panitia Natal 2020.
Kini Agung dipercayakan sebagai Ketua (HIMKUS) periode 2021-2022, dengan program kerja yang sudah realisasikan yakni gotong royong di Gereja HKBP dan Gereja GPIB di Kota Banda Aceh.
Agung mengatakan bahwa ia awalnya tidak menyukai makanan di Aceh karena tidak terbiasa makan masakan orang Aceh karena kurang pedas dan tidak ada sop. Biasanya di Kalimantan, Agung suka makanan pedas dan sop. Namun ketika sudah lama di Banda Aceh, sehingga mulai terbiasa dan ternyata masakannya enak.
“Masyarakat Aceh sangat toleran dan ramah, meskipun saya beragama Kristen namun diperlakukan dengan baik. Peraturan Syariat Islam di Aceh sangat baik. Budaya orang Aceh taat beragama sehingga memberikan teladan bagi mahasiswa di luar Aceh atau non Muslim yang berada di Aceh,” kata Agung.
Setelah selesai strata satu (S1) di Banda Aceh, Agung rencananya akan melanjutkan profesi apoteker atau membuka usaha dan masuk ke industri farmasi. []











