BANGUNAN itu berdiri kokoh. Tingginya mencapai 85 meter serta beberapa literatur menyebutkan dibangun pada 1875.
Sekelilingnya adalah jurang yang dalam. Dari puncak bangunan, laut terhampar luas. Sejumlah kapal yang melintas terlihat dengan ukuran kecil. Mereka sibuk hilir mudik di lautan yang luas.
Bangunan ini adalah mercusuar yang merupakan ikon Pulo Aceh. Nama terakhir adalah salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Besar, provinsi Aceh.
Mercusuar ini juga disebut dengan nama Mercusuar Willem Torren III. Ini karena bangunan yang kokoh tadi memang dibangun oleh Belanda.
Mercusuar ini terletak di Desa Desa Meulingge. Perjalanan menuju mercusuar ini sedikit berliku dan naik turun gunung. Butuh sekitar 45 menit jika ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.
Mercusuar ini kini jadi icon bagi Pulo Aceh.
“Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Pulo Aceh tapi tidak berkunjung ke Mercusuar ini,” kata Muhajir, warga Pulo Breuh.
Ia mengantar kami berkeliling hingga ke Mercusuar Willem Torren, beberapa waktu lalu.
Willem Torren adalah Raja Belanda dan Adipati Agung Luksemburg. Mungkin nama tersebut disemaikan pada mercusuar tadi karena dibangun pada tahun 1875 atau semasa Raja Willem Torren berkuasa.
Willem Torren sendiri memiliki nama lengkap Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk van Oranje-Nassau.
Willem lahir di Brussels, Belgia, pada 17 Februari 1817 dan meninggal di Het Loo, 23 November 1890 pada umur 73 tahun.
Pada 23 November 1890, dia meninggal dunia dan mewariskan tahta kepada putrinya, Wilhelmina yang ketika itu baru berumur 10 tahun.
Willem Torren dikenal sebagai Bapak Ekonomi-nya Belanda. Willem dikenal giat membangun ekonomi serta infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, dan Pulau Aceh termasuk salah satu wilayah yang menjadi bagian dari program pembangunan infrastruktur pemerintah Belanda di masa itu.
Mercusuar di Pulo Aceh ternyata merupakan salah satu dari tiga mercusuar yang menjadi warisan Belanda di dunia ketika masa penjajahan dahulu.
Adapun dua mercusuar lainnya berada di Belanda yang kini sudah dijadikan museum, sementara satunya lagi berada di kepulauan Karibia.
Mercusuar ini memiliki tinggi 85 meter dengan warna dindingnya yang khas bercat merah dan putih.
Fungsi mercusuar ini sendiri sebagai sumber cahaya untuk membantu navigasi kapal laut.
Mercusuar Willem Torren III sendiri kini dijaga oleh petugas di bawah Ditjen Perhubungan. Ada 4 petugas di sana. Dua berstatus PNS dan dua lainnya non PNS.
“Saya berharap pandemi segera berlalu sehingga orang-orang bisa datang ke Pulo Aceh untuk melihat keelokan daerah ini,” kata Zikrullah, warga lainnya.
Senator DPD RI, HM Fadhil Rahmi Lc, yang ikut dalam rombongan ini mengaku takjud dengan pemandangan yang terlihat dari puncak Mercusuar Willem Torren III.
“Luar biasa dan sangat indah. Ini harus dilestarikan,” ujar Syech Fadhil.
Syech Fadhil berharap para petugas dapat memberikan pemahaman yang baik kepada pengunjung dan bersikap yang ramah sehingga icon ini jadi kebanggan Aceh untuk masa masa selanjutnya. []

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara Dinas Pariwisata Aceh dengan atjehwatch.com dalam rangka promosi wisata di Aceh.










