BLANGPIDIE – Puncak panen raya di Kabupaten Aceh Barat Daya terkenda dengan alat pemotong padi atau mesin Combine Harvester.
Combine Harvester diketahui adalah salah satu tipe mesin panen yang mempunyai pungsi memotong, memegang, merontok dan membersihkan gabah yang dilakukan sekaligus.
Kelangkaan alat pemotong gabah tersebut menjadi kendala masyarakat dalam menghadapi musim panen khususnya di Kecamatan Tangan-Tangan kabupaten setempat.
Diketahui bahwa, saat ini masyarakat Abdya pada umumnya sedang menghadapi musim panen puncak seperti di Kecamatan Blangpidie, Setia, Tangan-Tangan, Jeumpa dan Kuala Batee. Namun panen padi kali ini para petani mengeluh lantaran alat pemotong padi minin.
“Panen kami saat ini terkendala dengan alat pemotong. Padi kami seharusnya sudah bisa dipanen akhir bulan lalu, namun jasa mobil Combine jarang dan susah didapatkan,” kata Syahrul Fazli, salah seorang petani di Kecamatan Tangan-Tangan, Sabtu (09/04/2022).
Ia juga mengungkapkan bahwa, mesin Combine Harvester yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang dikelola oleh Dinas Pertani dan Pangan Kabupaten Abdya kabarnya semua rusak.
“Setau kami ada puluhan alat pemotong padi (Combine Harvester) yang dimiliki oleh Pemda, hanya satu sampai tiga unit yang dapat beroperasi, namun itu juga sering mati saat sedang bekerja,” ungkap Syahrul.
Masyarakat petani saat ini mengeluh, lantaran padi mereka sekarang ada yang sudah melewati masa panen. Pemanenan yang dilakukan terlalu akhir dapat menyebabkan kehilangan hasil, karena biji padi mulai rontok dari malainya.
“Kami berharap segera ada solusi dari pihak terkait atas persoalan ini. Ini serius, apalagi saat ini sudah masuk musim penghujan, yang bisa membuat hasil dan kualitas padi semakin menurun,” ketus Syahrul.
Masih kata Syahrul, jikapun ada mobil pemotong padi dari swata namun ongkosnya terlalu mahal untuk dikeluarkan.
“Ongkos mobil swasta Rp 17.500 perpotong, sedangkan mobil Pemda ongkosnya Rp 15. 000 perpotong, jelas jauh lebih murah dari mobil Pemda,” pungkasnya.
Reporter: Rusman










