Oleh : Naura Azkia, S.Tr.Keb
Seiring kemajuan perkembangan teknologi yang begitu canggih, seperti media sosial, sangat memungkinkan membawa dampak dan pengaruh terhadap generasi muda. Penggunaan sosial media sudah menyatu dengan kehidupan kita. Media sosial seakan sudah menjadi candu dikalangan masyarakat.
Hadirnya media sosial sendiri tentunya banyak membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat namun tak jarang media sosial juga memberikan dampak negatif bagi para penggunaya.
Munculnya berbagai platform seperti Instagram, Youtube, Tiktok,dll. Juga ikut dibanjiri oleh hadirnya para influencer.
Influencer merupakan individu atau tokoh masyarakat di media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak, dan apa yang mereka perlihatkan dan katakan akan mempengaruhi pola perilaku pengikutnya.
Kehadiran para influencer ini siap membius para followers (pengikut) dengan berbagai atraksi, edukasi, informasi, hiburan, bahkan ajang pamer kecantikan dan kemewahan. bahkan tak jarang menciptakan adanya klasifikasi tentang standar ‘cantik’ atau ‘ganteng’.
Disadari atau tidak, hal tersebut telah membentuk persepsi terkait definisi good-looking. Banyak netizen (pengguna internet) yang kemudian sering membandingkan fisik mereka dengan fisik seseorang di medsos. Akhirnya, tak sedikit yang merasa iri sebab ingin memiliki tampilan seperti itu, namun juga menjadi insecure karena merasa rendah diri dan tak memenuhi standar untuk dibilang ‘shining, simmering, splendid’.
Insecure adalah rasa rendah diri sendiri dengan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kasus insecurity dapat terjadi dari berbagai segi, seperti dilihat dari penampilan atau fisik, kepintaran atau kualitas diri seseorang, dan masih banyak kasus lainnya.
Akibat dari adanya Insecure diri seseorang dapat menyebabkan merendahkan dan menganggap remeh dirinya sendiri. Sehingga muncul gejala overthinking atau berpikir secara berlebihan tentang kekurangan-kekurangan yang ada dalam dirinya.
Awal mula mengapa media sosial sangat memiliki dampak yang besar terhadap rasa insecure dan kepercayaan diri remaja pada zaman sekarang ialah karena melihat bahwa berbagai orang di media sosial memiliki kehidupan yang sempurna, tidak seperti kehidupan mereka.
Remaja acap kali membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain yang ia lihat di media sosial. Hal yang paling sering remaja bandingkan ialah fisik. Padahal tentu di dunia ini tidak ada manusia yang terlahir sempurna.
Padahal jelas apa yang tampak di media sosial belum tentu sejalan dengan realita.
Pengguna sosial media berlomba-lomba untuk menunjukkan sisi sempurna dari diri sendiri, dan seringkali menyembunyikan sisi kekurangannya. Jika kita berpikir, tidak ada orang yang ingin terlihat jelek atau kurang sempurna di sosial media yang di lihat oleh beribu-ribu mata.
Lantas, mengapa kita perlu merasa rendah diri saat melihat orang lain begitu sempurna dengan pose indah nya? bukankah dia juga memiliki kekurangan yang tidak kita ketahui, dan kita juga memiliki kelebihan yang tidak dia miliki.
Perasaan insecure sebenarnya memang wajar dimiliki setiap orang, terkadang seseorang juga perlu merasa insecure terhadap orang lain agar bisa menjadi motivasi hidup untuk lebih baik ke depannya.
Namun insecure yang terlalu mendominasi dalam pikiran seseorang terutama dalam membandingkan diri dengan hal-hal yang kurang penting juga tidak bagus. Terlalu mengikuti standar kecantikan atau kehidupan di media sosial, dapat membuang- buang waktu untuk memikirkan orang lain tanpa fokus ke diri sendiri.
Allah SWT telah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 22, yang mempunyai makna ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”
Allah menciptakan makhluk-Nya yang berbeda-beda sebagai sebagai tanda kekuasaan Allah SWT, yakinlah semua sudah Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Maka ayat tersebut menyadarkan kita untuk bersyukur dan berhenti untuk insecure.
Jangan jadikan insecure sebagai alasan untuk depresi atau bahkan sampai menyalahkan diri sendiri mengapa dilahirkan seperti ini.
Ketika merasa tidak puas dengan diri sendiri, merasa tidak berdaya akan suatu hal, perlu kita ingat bahwa tugas kita bukan untuk melawan diri, dan memaksa diri untuk berpura-pura secure atau nyaman dengan diri sendiri tapi tubuh dan kesehatan diri tidak kita rawat.
Hal ini justru pertanda bahwa kita tidak bersyukur. Orang yang bersyukur adalah orang yang merawat dan terus memperbaiki dirinya. Bukan orang yang hanya “menerima keadaan”, dan terus-terusan hidup dalam keadaan insecure.
yang perlu di perhatikan dalam mengatasi insecure salah satunya adalah Kesehatan, karena insecure adalah sebuah kondisi mental, maka perlu kita atasi dengan menjaga kesehatan tubuh.
Health is the beginning of attractiveness. kesehatan adalah awal penampilan menarik. Awal terpenting dari memiliki penampilan menarik adalah Kesehatan.
Perempuan sering mengabaikan hal ini karena tergiur dengan hasil yang instan.
Banyak perempuan mengejar langsung kecantikan dan mendapatkan tubuh ideal tanpa memperhatikan kesehatan. Ada 3 hal penting yang dapat dilakukan agar tampil prima bebas rasa insecure : eat well, move well, sleep well (konsumsilah makanan yang baik, bergerak (olahraga) yang baik, dan tidur yang baik). Kondisi dari bernampilan menarik adalah kesehatan, jika kita sehat, fit, penuh energi, maka rasa insecure tidak berani menghampiri.
Selain itu, berpikir positif dan selalu berprasangka baik kepada Allah juga penting, karena kita adalah sebaik-baik makhluk yang Allah ciptakan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran Q.S. At-Tin Ayat 4 ” Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Dari ayat tersebut kita sadar, bahwa kita adalah sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah SWT. Sesorang yang menganggap dirinya buruk atas fisiknya, secara tidak langsung telah menyinggung kesempurnaan ciptaan Allah SWT.
Sebagai seorang hamba yang bertaqwa, mensyukuri atas apapun yang diberikan Allah merupakan kewajiban sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Daripada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik kita fokus pada diri sendiri dan terus gali potensi yang kita punya.
- Penulis adalah Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat FK USK









