BANDA ACEH – Ada banyak istilah penamaan terkait jalan-jalan menunggu waktu berbuka puasa. Dalam bahasa Sunda disebut ngabuburit atau dalam bahasa Aceh sering disebut jak wet-wet.
Menurut Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ngabuburit berasal dari kalimat ngalantung ngadagoan burit atau bersantai sambil menunggu waktu sore.
Nah di Aceh, terkhusus di Banda Aceh, tradisi ‘jak wet-wet’ sambil menunggu waktu berbuka puasa juga berlaku. Kebiasaan ini berlaku bagi keluarga kecil.
Konon lagi, selama bulan suci Ramadan, banyak penjual makanan berbuka yang berjejar sepanjang jalan. Mulai dari Pasar Atjeh di pusat kota, Jalan T Nyak Arif sebagai jalan utama hingga ke Darussalam.
Berbagai menu hidangan dijual di sini. Ada kelapa muda dengan berbagai produk olahan, timun suri dan olahannya, kue-kue basah, gorengan hingga beragam menu lainnya. Harganya juga murah murah.
“Jak wet-wet sambil beli menu buka puasa. Harganya murah murah,” kata M. Nur, 34 tahun, warga Kota Banda Aceh.
“Suka. Tapi biasanya juga macet,” kata Nurhalifa, warga lainnya.













