Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Pariwisata

Masjid Pucok Krueng Warisan Ulama Madinah

Admin1 by Admin1
14/05/2023
in Pariwisata
0
Masjid Pucok Krueng Warisan Ulama Madinah

BANGUNAN itu mayoritas terbuat dari kayu. Pondasinya masih kokoh. Hanya lantainya saja yang sudah dilapisi keramik.  Kain putih serta Alquran dan kitab bertulisan huruf arab jawi memenuhi lemari kecil di shaf bagian depan kiri.

Ada juga mimbar kecil yang dicat berwarna kuning di sana. Mimbar ini biasanya digunakan oleh khatib saat salat Jumat berlangsung.

Suasana sekeliling masih alami. Tak ada Air conditioning (AC) atau penyejuk ruangan di masjid ini, kecuali beberapa kipas angin biasa yang terpasang di tiang pondasi. Ini karena bentuk bangunan itu terbuka.

Seorang pria tampak sedang membaca Alquran. Sementara beberapa wanita muda terlihat sedang melaksanakan salat dhuha.

Minggu pagi, awal Ramadan 2023, bus yang ditumpangi atjehwatch.com singgah di masjid peninggalan ulama asal Madinah ini.

“Ini masjid peninggalan sejarah di Aceh. Bangunan masih terawat dengan rapi,” ujar Edi Saputra, seorang pelintas yang menyempatkan diri untuk salat di sana.

Ya, Masjid bersejarah ini berada di Jalan Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan, Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Masjid ini didirikan oleh Teungku Muhammad Salim pada 1622 masehi. Berdasarkan tahunnya, pembangunan masjid ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Teungku Muhammad Salim merupakan ulama asal Madinah yang datang ke Meureudu bersama Teungku Japakeh dan Malem Dagang dalam rangka pengembangan Islam di Aceh.

Ia kemudian menetap di hulu sungai sehingga diberi laqab Teungku Di Pucok Krueng. Dari sinilah, syiar Islam kemudian menyebar ke berbagai pelosok di Aceh dan Pidie Jaya.

Berdasarkan catatan, sejak dibangun 354 tahun lalu, masjid ini pernah dipugar sebanyak dua kali. Pertama tahun 1947 dan kedua tahun 1990 oleh Bidang Kemeseuman Sejarah Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Aceh.

Rajali, warga setempat yang dijumpai oleh atjehwatch.com di lokasi, mengatakan saat gempa mengguncang Pidie dan Pidie Jaya beberapa waktu, beberapa bagian dari masjid bersejarah ini, sempat retak dan rusak.

“Namun kemudian diperbaiki kembali. Masjid menjadi kebanggaan masyarakat Pidie Jaya,” ujarnya.

+++

Konon, dari berbagai sumber disebutkan, Syehk Abdus Salim Datang ke Meureudu Pada abad ke 16, berawal dari serombongan saudagar muslim dari Madinah, yang terdiri dari Syekh Abdus Salim, Syekh Jamaluddin dan Malem Dagang, serta beberapa orang pengikutnya dengan tujuan perjalanan ke Asia kecil (sekarang India) tepatnya di Gujarat.

Karena penyambutan yang kurang menyenangkan, sehingga rombongan saudagar muslim itu memutuskan kembali berlayar ke arah selatan benua Asia kecil, kemudian mereka terdampar di pesisir utara Pulau Sumatera, tepatnya di daerah Kerajaan Pedir (sekarang Pidie).

Karena para saudagar mengemban tugas dakwah, sudah seharusnya mencari tempat yang lebih layak dan menguntungkan dalam usaha pengembangan islam. Kemudian rombongan ulama itu melanjutkan perjalanan hingga sampai di Kuala Krueng Beuracan.  Sesampainya di Meureudu (dalam sejarah disebutkan tidak jelas alasan mengapa para saudagar itu sampai di perairan Meureudu), rombongan tersebut berpisah guna menyebarkan agama islam.

Syekh Abdus Salim sendiri menetap di Gampong Beuracan. Usai berlayar dari India pada tahun 1620 masehi, Syehk Abdus Salim yang tiba di Gampong Beuracan itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. 

Setelah menetap dan menyebarkan pendikan agama islam disana, masyarakat disana yang memang dari dulu sudah beragama muslim menjadikan  Syekh Abdus Salim sebagai panutan teladan, sementara kebijakannya dianggap adat oleh masyarakat setempat. Sebab ulama dari Madinah itu dikenal sebagai sosok pribadi yang peka terhadap kehidupan pendidikan dan sosial masyarakat. Atas kesepakatan bersama masyarakat, pada tahun 1622 masehi, Syekh Abdus Salim mendirikan masjid di Gampong Beuracan. Yang kini dikenal sebagai Masjid Tgk Di Pucok Krueng Beuracan.

Abdus Salim digelar sebagai Teungku Di Pucok Krueng Beuracan, karena menetap di hulu sungai Pucok Krueng, ia wafat dan dimakamkan juga di hulu sungai Beuracan. Direnovasi Tahun 1947 Pada tahun 1947, dengan keadaan yang sangat parah, masyarakat Beuracan secara swadaya berusaha memugar masjid tersebut.

Pemugaran tersebut langsung diketuai oleh Khatib Masjid saat itu, Tgk H Ibrahim, dan yang menjadi Utoeh (kepala tukang) adalah Utoeh Benbulang dan Utoeh Andah dari Tripa (Trienggadeng-Panteraja).

Dalam pemugaran tersebut, masyarakat berhasil merehab dan memperluas masjid dari ukuran 10×10 meter menjadi 13×13 meter. Pergantian atap rumbia menjadi atap seng. Membangun dinding semen sekeliling mSjid sebagai pembatas dengan tinggi 95 centimeter.

Membuat mihrab tempat imam berdiri saat berkhutbah dan memimpin shalat, dan juga perbaikan lantai secara membeton secara permanen. Namun dalam usaha perbaikan itu, bentuk ornamen dan ukiran asli masih tetap terjaga.

Pada tahun 1990 berawal dari rasa simpati Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan yang sempat shalat di masjid tersebut, dalam kesempatan itu, gubernur meminta kepada pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian masjid tersebut, karena mengandung unsur keunikan dan sejarah islam di Meureudu.

Dalam mewujudkan hasrat baik Gubernur Aceh itu, Pemerintah Tk I memberi bantuan sebesar Rp 10 juta dengan pengawasan dari pihak arkiologi dari kanwil P dan K Daerah Istimewa Aceh bidang purbakala.

Masjid Beuracan berhasil direhab dengan memberika  dinding kayu pada sekeliling masjid dari kayu terukir yang dikerjakan oleh Utoeh Aiyub dari Desa Grong-Grong Beuracan.

Masjid yang dibangun pada tahun 1622 masehi itu memiliki satu guci, guci yang terletak didalam bilik di sebelah utara persis di depan pintu masuk masjid. 

Guci itu dianggap keramat. Guci itu difungsikan sebagai  tempat penyimpanan air minum, mandi, cuci muka, dan untuk wudhu. Masyarakat disana percaya air dalam guci tersebut dapat menjadi obat penyembuhan sakit atau sebagai mujarab untuk mendapat keberkatan.

+++

Kini Masjid Pucok Krueng tiap hari selalu dikunjungi oleh warga dari berbagai daerah di Aceh. Ada yang datang khusus untuk melaksanakan salat dan ada yang hanya untuk melihat manumen islam yang bersejarah di kabupaten Pidie Jaya.

Ada yang juga sekedar mengambil ‘berkah’ dengan mengambil air dari guci yang dianggap keramat.

“Saya tak percaya dengan hal hal mistis. Namun mumpung ada di sini, tak ada salahnya untuk mencoba,” ujar Edi Saputra lagi.

Di tempat terpisah, Teungku Armia, salah seorang warga Beuracan lainnya berharap perawatan masjid ini mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh.

“Itu bangunan bersejarah. Mudah mudahan mampu terlestarikan dengan baik. Banyak orang dari berbagai penjuru Aceh yang datang untuk berkunjung, terutama di akhir pekan,” ujar Teungku Armia, salah seorang tetua disana.

“Sama seperti Masjid Raya Baiturrahman, masjid ini juga memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk Aceh. Hanya saja terletak di Pidie Jaya,” kata Muhammad, warga lainnya.

“Bangunannya mungkin biasa, tapi nilai sejarah yang tak ternilai. Banyak pelancong yang datang dari berbagai negara, karena ingin melihat langsung bangunan tersebut,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Pariwisata menetapkan 62 tempat bersejarah di Provinsi Aceh sebagai situs cagar budaya yang harus dilestarikan.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, Nurmatias mengatakan sebanyak 62 tempat bersejarah itu tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh. “Masih ada beberapa lokasi lain yang belum ditetapkan,” kata Nurmatias. Salah satunya adalah Masjid Teungku Dipucok Krueng Pidie Jaya.

Tulisan ini merupakan hasil kerjasama antara atjehwatch.com dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dalam rangka promosi wisata di Aceh.

Tags: Disbudpar Acehpariwisata aceh
Previous Post

Prabowo Presiden, Safaruddin Bupati Digelorakan di Abdya

Next Post

Korban Meninggal Truk Jatuh di Lamreh Jadi 5 Orang

Next Post

Korban Meninggal Truk Jatuh di Lamreh Jadi 5 Orang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Lagi, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Aceh Tamiang dari Jakarta

Lagi, Senator Azhari Cage Pulangkan Jenazah Warga Aceh Tamiang dari Jakarta

05/04/2026
Tarif Resmi Ditegaskan, Dishub Aceh Barat Tindak Parkir Tak Sesuai Aturan

Tarif Resmi Ditegaskan, Dishub Aceh Barat Tindak Parkir Tak Sesuai Aturan

05/04/2026
Satgas PRR Aceh Terus Lakukan Pemutakhiran Data Korban Bencana

Satgas PRR Aceh Terus Lakukan Pemutakhiran Data Korban Bencana

05/04/2026
Tito Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi di Aceh

Tito Pastikan Percepatan Penanganan Pengungsi di Aceh

05/04/2026
Iran Buka Diplomasi Bilateral dengan Negara Tetangga, Ini Syaratnya

Iran Buka Diplomasi Bilateral dengan Negara Tetangga, Ini Syaratnya

05/04/2026

Terpopuler

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

Bupati Sibral Salurkan Jadup untuk 15.377 Jiwa Warga Pidie Jaya

03/04/2026

Masjid Pucok Krueng Warisan Ulama Madinah

Saat Hasan Tiro ‘Menampar’ Abang Samalanga dan Mualem

Hapus JKA = Bunuh Hak Rakyat, Fadhlullah TM Daud: Pemerintah Aceh Jangan Main Api

Sumsel United Akui Persiraja Banda Aceh Jago Kandang

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com