Jakarta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menabuh genderang perang dan bersumpah akan membalas dendam, usai kelompok militan Palestina, Hamas, secara tak terduga melancarkan serangan dan menyusup ke wilayah Israel.
Netanyahu dengan lantang menegaskan negaranya akan melakukan balas dendam besar, dan akan bersiap untuk memulai “perang yang panjang dan sulit”.
Militan Hamas mulai menembakkan ribuan roket ke arah Israel sejak Sabtu (7/10) pagi, dengan target ibu kota Tel Aviv dan wilayah pinggiran Yerusalem.
Dua wilayah itu sebenarnya jarang menjadi target sasaran langsung, karena adanya sistem pertahanan rudal canggih milik Israel bernama Iron Dome. Namun kegagalan intelijen disebut-sebut menjadi penyebab Israel “kecolongan” dalam serangan ini.
Dilansir New York Times, hanya satu jam setelah serangan roket pertama, militan Hamas mulai menyusup ke wilayah-wilayah Israel lewat darat, laut, dan udara.
Pasukan Hamas diketahui menyusup ke 22 kota dan pangkalan militer Israel, di mana mereka menyandera warga sipil dan tentara.
Tak lama usai serangan itu, sejumlah negara di Barat melontarkan kecaman atas Hamas dan menyerukan agar perang dihentikan.
Uni Eropa misalnya, mengutuk serangan yang dilakukan Hamas sebagai aksi terorisme terhadap Israel.
“Ini adalah terorisme dalam bentuknya yang paling keji. Israel mempunyai hak untuk membela diri terhadap serangan keji itu,” kata Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen.
Prancis dan Jerman juga turut mengeluarkan pernyataan senada. Kedua negara itu menegaskan penolakan mutlak terhadap terorisme, serta menyebut Israel punya hak yang dijamin oleh hukum internasional untuk mempertahankan diri dari terorisme.
Namun jika ditarik ke belakang, serangan Hamas ke Israel ini bak pepatah “tidak ada asap kalau tidak ada api”.
Kenapa Hamas Serang Israel?
Komandan militer Hamas, Muhammad Deif, mengatakan pertempuran ini dilakukan demi mengakhiri penjajahan terakhir di muka Bumi.
“Ini adalah hari pertempuran terbesar untuk mengakhiri penjajagan terakhir di Bumi. Setiap orang yang mempunyai senjata harus mengeluarkannya. Waktunya telah tiba,” kata Deif, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sementara itu juru bicara Hamas, Khaled Qadomi, menyebut serangan itu adalah respons terhadap semua kekejaman yang dihadapi warga Palestina selama beberapa dekade.
“Kami ingin masyarakat internasional menghentikan kekejaman di Gaza, terhadap rakyat Palestina, tempat suci kami seperti Al Aqsa. Semua hal ini lah yang menjadi alasan di balik dimulainya pertempuran ini,” ungkap Qadomi.
Selama beberapa bulan terakhir situasi di situs suci umat Islam Masjid Al Aqsa, memang kian memburuk. Bentrokan kian meningkat antara pasukan Israel dan warga Palestina, khususnya di Tepi Barat.
Menurut Washington Post, pada Januari sampai September 2023 ini Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat ada 277 warga Palestina yang dibunuh oleh pasukan atau pemukim Israel. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Selama bulan suci Ramadan lalu, pasukan Israel juga secara brutal menyerbu Masjid Al Aqsa di Yerusalem dan menggunakan kekerasan terhadap jemaah, termasuk perempuan dan orang tua.
Kemarahan warga Palestina juga sempat mencapai titik didih pada Mei 2021, atas usulan penggusuran keluarga-keluarga dari lingkungan warga Palestina di Yerusalem Timur.
Di tahun 2018, setidaknya 170 warga Palestina tewas setelah Israel menanggapi aksi protes di sepanjang pagar pembatas yang memisahkan Gaza dan Israel.
Bahkan di tahun 2014, roket Israel ke Gaza menewaskan lebih dari 1.881 warga Palestina usai Hamas menculik dan membunuh tiga remaja Israel.
Palestina Ingin Didengar
Ketua Kajian Islam dan Timur Tengah di Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengakui sejak awal perang ini pecah sejumlah negara Barat langsung mengutuk serangan itu dan menyebut Israel punya hak membela diri, seolah memberi legitimasi untuk melakukan serangan balasan.
Namun, Yon menyebut, aksi Hamas kali ini adalah sebuah proses yang panjang.
Dia merunut bagaimana warga Palestina yang tak ingin adanya kehadiran militer Israel di wilayah Gaza, ratusan warga Palestina yang tewas setiap tahunnya, hingga kondisi “isolasi” di Gaza yang sangat memprihatinkan.
“Ini menjadi suatu eskalasi setelah semakin tidak terbendung proyek pendudukan baru yang merampas tanah-tanah Palestina dan mengorbankan rakyat sipil secara tidak manusiawi,” kata Yon kepada CNNIndonesia, Senin (9/10).
Dia menambahkan, “Ini menjadi suatu langkah balasan, Hamas ingin memberi peringatan, ditambah juga peristiwa-peristiwa di Masjid Al Aqsa yang banyak memakan korban. Itu menjadi pemicu.”
Dalam kondisi seperti ini, ditambah posisi Israel yang tetap bergeming soal nasib negara Palestina, seolah menutup harapan bagi warga Palestina untuk punya tanah yang merdeka.
“Saya lihat Palestina, melalui Hamas, ingin mengubah posisi agar mendapatkan perhatian dunia internasional dengan cara melakukan serangan kepada Israel. Mereka ingin kebebasan atau kemerdekaan itu,” ungkap Yon.
Israel Balas Dendam
“Kesuksesan” serangan Hamas ke Israel sejak akhir pekan lalu juga sempat membuat heran sejumlah pihak, lantaran negara Zionis itu dikenal punya badan intelijen canggih.
Mantan kepala Badan Intelijen Israel Mossad, Efrain Halevy, turut mengakui bahwa negaranya kecolongan diserang Hamas.
“Kami tidak mendapat peringatan apa pun, dan sungguh mengejutkan bahwa perang pecah hari ini,” kata Halevy, dikutip CNN.
Halevy mengakui jumlah roket yang ditembakkan oleh militan Palestina berada pada skala yang “belum pernah terjadi sebelumnya”.
Bahkan dia menyebut ini adalah kali pertama pasukan dari Gaza mampu menembus jauh ke dalam wilayah Israel, dan menguasai desa-desa di sana. Sebab sangat jarang militan Palestina bisa masuk ke Israel dari Gaza, yang ditutup dan diawasi ketat oleh militer.
Menanggapi hal ini, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah mengatakan Israel belakangan ini sedang “di atas awan” dan terlalu percaya diri dengan kepemimpinan di dalam negeri, kawasan, dan di dunia.
“Hal ini membuat dia [Israel] terbutakan matanya dari realitas di wilayah sendiri. Dia tidak bisa membaca gejolak di kalangan masyarakat Palestina yang kian susah,” kata Rezasyah kepada CNNIndonesia.com.
Dia menambahkan, “Tapi yang dia [Israel] tidak bisa baca adalah dalamnya hati manusia, yang sudah sekian puluh tahun tercabik harga diri dan masa depannya. Jangan kita menyepelekan masyarakat yang sedang tertindas.”
Israel yang sudah “babak belur” digempur militan Hamas, langsung mendeklarasikan perang dan menyiapkan ratusan ribu tentara cadangan dalam jumlah signifikan untuk ditempatkan ke perbatasan Gaza.
Roket-roket Israel juga tak henti membombardir berbagai titik di Palestina, yang menyebabkan kehancuran pada rumah-rumah warga hingga masjid terkemuka.
Dalam pernyataannya, PM Israel Netanyahu mengatakan tujuan deklarasi perang ini adalah untuk menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, sehingga tidak bisa mengancam Israel selama bertahun-tahun.










