Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Mengenal Beberapa Syndrom of Power

redaksi by redaksi
14/06/2024
in Kolom
0
Mengenal Beberapa Syndrom of Power

Situasi politik akhir-akhir ini sepertinya jauh sekali dari cita-cita reformasi atau idealis. Mereka yang dulu kelihatan bak pahlawan perubahan, dan sekarang malah ikut-ikutan berburu kursi kekuasaan.

Gawat, fenomena seperti ini, dalam dunia politik bisa dibilang sebagai sindrom kekuasaan. Kalau dicermati, setidaknya ada tiga jenis sindrom yang bikin pusing kepala.

Pertama, ada yang namanya Post-Power Syndrome, penyakit yang bikin orang jadi aneh-aneh setelah tidak lagi memegang jabatan kekuasaan. Mereka jadi hobi sekali mengkritik pemerintah, kadang malah terlalu lebay dan sok-sok reformis begitu.

Terus, ada lagi yang namanya Pre-Power Syndrome. Nah, kalau yang ini penyakit orang yang sebelum berkuasa, rajin banget promosiin diri sendiri supaya bisa meraih kekuasaan. Kayak lagi kampanye pemilu gitu deh, tapi kampanyenya 24 jam non-stop!

Nah, yang terakhir namanya In-Power Syndrome, itu gambaran buat orang yang sebelum berkuasa kelakuan dan omongannya kayak ‘orang bener’ sekali, tapi begitu sudah duduk di kursi kekuasaan, lalu mulai lupa diri dan mati-matian mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Wah, bahaya nih!

Ini juga gawat, Syndrome of Junior. Penyakit ini merupakan penyakit umum, yang muda belum boleh berbicara atau yang muda menurut yang mengindap Syndrome of Junior ini yang lebih muda belum boleh memimpin.

Apapun jenis sindromnya, tujuannya sama aja, yaitu menggerogoti individu dengan iming-iming kekuasaan. Ujung-ujungnya, orang itu jadi kayak ‘budak’ atau tawanan kekuasaan. Nggak peduli mau jadi apa, yang penting kuasa!

Nah, pakar-pakar dan filosof punya pandangan yang lumayan sick tentang hal ini. Contohnya si Plato, filosof Yunani kuno itu bilang ‘kalo kekuasaan itu ibarat racun yang bisa membuat orang-orang yang tadinya baik jadi corrupt dan serakah.’ Waduh, bener juga ya?

Terus ada juga Lord Acton, seorang sejarawan Inggris yang menyatakan ‘Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.’ Artinya, kekuasaan itu cenderung membuat orang jadi korup, dan kekuasaan absolut bikin orang jadi korup total. Gimana, keren kan quotes-nya?

Tidak ketinggalan juga, ada pakar psikologi seperti Dacher Keltner yang meneliti efek samping dari kekuasaan. Dia bilang kalo orang-orang yang berkuasa sering kali jadi kurang peka terhadap orang lain, dan lebih fokus pada diri sendiri. Mereka juga cenderung underestimate resiko dan terlalu percaya diri. Wah, bahaya juga ya kalo gitu.

Eh, ada contoh menarik nih dari negeri seberang. Jadi, ada tuh seorang profesor sejarah dari Harvard University, namanya Henry Kissinger. Dulu, sebelum diangkat sama Presiden Richard Nixon jadi penasehat pemerintah dan ketua NSC (National Security Council), dia itu sosok yang selalu mengkritik pemerintah abis-abisan. Ternyata, begitu dia duduk di kursi jabatan itu, mendadak dia jadi pembela pemerintah nomor wahid.

Setelah itu, Nixon malah mempromosikan dia jadi Menteri Luar Negeri. Wah, makin banyak deh kerjaan dia buat membela setiap kebijakan pemerintah. Tapi, begitu dia turun jabatan dan tidak lagi jadi orang pemerintahan, eh dia mulai lagi deh mengkritik pemerintah. Labil banget nggak sih?

Penyakit atau sindrom kekuasaan ini bisa terjadi di mana aja, guys. Nggak peduli di negara maju atau berkembang, semua orang punya potensi buat kena sindrom ini. Kalau udah kerasukan, susah deh buat jujur dan bener. Soalnya, dasar perbuatannya cuma subyektifitas doang buat cari atau pertahanin kekuasaan pribadi.

Jadi intinya, power syndrome itu kayak virus yang ngancam siapa aja yang punya kekuasaan. Para pakar dan filosof mewanti-wanti kita untuk selalu waspada dan jangan tergoda dengan kekuasaan yang berlebihan. Tetap rendah hati dan gunakan kekuasaan itu untuk kebaikan bersama lah pokoknya. Klean paham kan sampe sini gaes? semoga paham ya!

Makanya, kita harus senantiasa waspada nih. Ada baiknya kalau kita mengamalkan uzlah-nya Imam Ghazali. Uzlah di sini bukan berarti menyepi atau bertapa ya, tapi lebih ke mengambil jarak dari masalah yang ada, supaya bisa melihat keadaan yang sesungguhnya secara obyektif. Kayak pas shalat gitu deh, dimulai dengan takbiratul ihram dan pas ngucap “Allahu Akbar“, kita harus fokus dan konsentrasi cuma kepada Allah SWT, yang berarti meninggalkan segala hal di sekeliling kita. Nah, di situlah kita uzlah, melupakan semua hal yang mengandung kepentingan pribadi atau golongan, menuju ke satu titik mutlak, kebenaran sejati, supaya dari sana kita bisa dapat petunjuk yang lurus. Mirip kayak salah satu doa dalam bacaan shalat, “Ihdina al-shirat al mustaqim (Tunjukanlah kami (Ya Allah) ke jalan yang lurus)”.

So, gimana nih gaes? Udah siap belum buat uzlah dari sindrom-sindrom kekuasaan yang bikin pusing kepala itu? Yuk, kita sama-sama jaga diri dan jaga daerah dan negara kita dari penyakit politik yang berbahaya ini.

Previous Post

Sambut Hari Bhayangkara ke-78 Polres Pidie Gelar Donor Darah

Next Post

Dr. Safaruddin Gagas Barsela Cup, Atlet dan Pedagang: Dapat Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Next Post
Dr. Safaruddin Gagas Barsela Cup, Atlet dan Pedagang: Dapat Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Dr. Safaruddin Gagas Barsela Cup, Atlet dan Pedagang: Dapat Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ohku, Empat PKS di Aceh Barat Masih Beli Sawit Petani di Bawah Harga Pemerintah

Ohku, Empat PKS di Aceh Barat Masih Beli Sawit Petani di Bawah Harga Pemerintah

12/07/2026
Kemenag Aceh Perkuat Pesantren dan Madrasah Ramah Anak

Kemenag Aceh Perkuat Pesantren dan Madrasah Ramah Anak

12/07/2026
Bupati Pidie Jaya Minta Pendataan BSPS 2026 Tanpa Titipan, Akurasi Data Jadi Penentu Bantuan Bedah Rumah

Bupati Pidie Jaya Minta Pendataan BSPS 2026 Tanpa Titipan, Akurasi Data Jadi Penentu Bantuan Bedah Rumah

12/07/2026
40 Peternak Itik di Aceh Barat Raih Manfaat Program Pemberdayaan Berbasis Teknologi dari UTU-UNCM

40 Peternak Itik di Aceh Barat Raih Manfaat Program Pemberdayaan Berbasis Teknologi dari UTU-UNCM

12/07/2026
Kemenkum Aceh Harmonisasi Empat Regulasi Pemkot Banda Aceh

Kemenkum Aceh Harmonisasi Empat Regulasi Pemkot Banda Aceh

12/07/2026

Terpopuler

Bupati Pidie Jaya Minta Pendataan BSPS 2026 Tanpa Titipan, Akurasi Data Jadi Penentu Bantuan Bedah Rumah

Bupati Pidie Jaya Minta Pendataan BSPS 2026 Tanpa Titipan, Akurasi Data Jadi Penentu Bantuan Bedah Rumah

12/07/2026

DEMA FSH UIN Ar-Raniry: Rakyat Aceh Belum Selesai Menghadapi Bencana, Mengapa Pemerintah Sibuk Menerbitkan Izin Tambang

Ohku, ASN Pidie Jaya Wajib Gunakan Akun Pribadi untuk Publikasi Pemerintah

‘Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah’ Harinya Anak Yatim Mengenang Sosok Ayah

Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah: Langkah Sederhana yang Menentukan Masa Depan Generasi Pidie Jaya

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com