Banda Aceh – Berdasarkan Informasi yang tayang pada SiRUP LPSE Aceh, setidaknya terdapat 9 Paket pekerjaan berupa Pembangunan dan Rehab Gedung instansi Vertikal yang dibantu melalui Anggaran APBA tahun 2025.
Adapun paket paket yang akan dibangun sebagai berikut :
1. Lanjutan Pembangunan Aula Kodam Rp.4.750.000.000
2. Lanjutan Pembangunan Gedung Diklat Kajati Rp.9.600.000.000
3. Lanjutan Pembangunan BINDA Rp.825.000.000
4. Lanjutan Pembangunan Gedung Propam Polda Rp.6.685.000.000
5. Lanjutan Pembangunan Rumah Dinas Pengadilan Tinggi Rp.900.000.000
6. Lanjutan Pembangunan Rumah dinas Wakajati Aceh Rp.1.355.000.000
7. Rehab Gedung intelkam Polda Aceh Rp.6.864.000.000
8. Rehab Pagar Kantor Bais Nesu Kota Banda Aceh Rp.640.000.000
9. Rehab ruangan Forkopinda (Asdatun Aceh) Rp.560.000.000
Koordinator Transparansi Tender Indonesia (TTI) Nasruddin Bahar mengatakan, meskipun ada larangan dari Kemendagri untuk bantuan hibah pada Instansi Vertikal sebagaimana disebutkan pada Pasal 54 Peraturan Presiden nomor 12 Tahun 2019 pasal 93 dan 97, tapi tetap saja Pemerintah Aceh mengalokasikan nya pada APBA 2025 sebagaimana data yang diumumkan pada Sistem Rencana Umum Pengadaan SiRUP dan Rencana Umum Pengadaan RUP.
“Terlepas dari pro dan kontra serta motif dari pemberian bantuan hibah dari Pemerintah Aceh kepada instansi vertikal. Namun, kita harapkan bantuan hibah tersebut tidak mempengaruhi independensi para penegak hukum sehingga tidak termasuk konflik interest dikemudian hari,”ungkap Koordinator TTI, Nasruddin Bahar, Kamis 3 April 2025.
Dia juga meminta agar semua instansi vertikal tidak ikut campur mempengaruhi keputusan Pokja Pemilihan dalam menetapkan pemenang tender bantuan hibah tersebut. “APH diminta bersikap netral, sehingga para rekanan mempunyai kebebasan dalam ikut tender. Jangan sampai terjadi rekanan yang akan dimenangkan “Wajib” meminta persetujuan penerima manfaat,” ujarnya.
TTI juga meminta semua pihak untuk sama sama mematuhi aturan aturan yang sudah ditentukan. “Tugas eksekutif melalui dinas masing-masing perlu diberikan kewenangan sesuai dengan tanggung jawab masing-masing dalam pelaksanaan kegiatan tersebut,” pungkasnya. []












Pungeo pemerintah….kepeu Kreo glee di Jak tambak laot. Keu ureung gasien dan dhuafa sampe ureo nyeoo Hana dibei rumoh siapa yg lebih membutuhkan kan soalnya…..utamakan yg lebih berhak…
Sudah ada larangan dari mendagri tertuang dalam perpres harusnya dipertimbangkan kembali ,, dan jika anggaran sebanyak itu sebaiknya dialikan aja ke yang lain..
Nyan di daerah gubernur rmh duafa ka lagee umpung manok hn ji bangun pada hal cuma 50 Juta ka mumada saboh rumoh . Kepey utk awaknyan meploh milyar ka bantu pada hai nyan pusat po tangging jaweb. . peu KA takot di ruge watee Ka pantak korupsi dan pajoh Pi proyek. Polisi usut jg bila mereka korupsi Mangat Strok Han di ilab Lom penyaket DM
Hal hal seperti ini tidak perlu lagi di lakukan, pemberi adalah penakut dan penerima kehilangan etika malu, aceh daerah miskin, seharusnya dana yang masuk fokus untuk kebutuhan masyarakat agar terdongkrak ke arah lebih baik
Pu ka beutoi lage nyan ?
Yg hana perle di anggar peng ,lage ikreh janeng dum..
Nyan hna alasan laen mnyo ken inek peukaya biek haramjadah dum..
Beukatupe le awak kah,,jaln2 lam gampong ile ka peubereh nak maju ekonomi.
Tlg ptg 10 ℅ dari semua judul proyek yg di anggarkan, utk tapeugeut rumh 2 yg ka brat rusak syg kpd kaum yg sgt bth rmh, peungeut himbauan kpd kontraktor yg akn jdi pmng tender , jeu keu sdekh neu Hai ureung2 yg eek moto mewah, syg that dum hamba na yg 4 boh aneuk mit mntg duk bak rmh sewa,, tlg cerna dg hati yg penuh nurani,, slm dari bireun.. Bek le that laba si goe thonnyoe kon jeut,, kaleuh tacok dum barokon2.. lake meuah meunyena le upah bahasa..
Keujeut ka Feodal Nanggroe Aceh nyoe,,