Banda Aceh — Ketua Umum Gerakan Aktivis Muda Aceh, Rijal Fandika, yang akrab disapa Dekjal, mendesak Pemerintah Aceh untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Pertamina di wilayah Aceh, khususnya Banda Aceh.
Dekjal menjelaskan bahwa sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh saat ini mengalami krisis atau kelangkaan bahan bakar yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut terlihat jelas dari panjangnya antrean kendaraan di beberapa SPBU.
Ia mencontohkan, antrean di SPBU Lamnyong mencapai kawasan Jembatan Krueng Cut. Sementara SPBU Jeulingke mengalami antrean kendaraan hingga mendekati Kantor Gubernur Aceh. Selain itu, SPBU Lampaseh juga dilaporkan memiliki antrean panjang yang diperkirakan mencapai lebih dari 400 kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
“Situasi ini sangat meresahkan masyarakat. Kami melihat adanya dugaan ketidaksiapan dan lemahnya pengelolaan distribusi BBM yang berdampak langsung kepada masyarakat,” tegas Dekjal.
Ia juga mendesak pemerintah untuk turun tangan secara langsung guna memastikan penyebab utama terjadinya kelangkaan serta meminta Pertamina memberikan penjelasan terbuka kepada publik.
Dekjal berharap kondisi ini tidak berlarut-larut. Menurutnya, kelangkaan bahan bakar bukan hanya menyulitkan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi melumpuhkan roda perekonomian di Kota Banda Aceh.
“Kami berharap pemerintah bertindak cepat. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut stabilitas aktivitas masyarakat dan ekonomi daerah,” tambahnya.








