Oleh Makbul. Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry serta anggota komunitas peduli masyarakat.
Kalau kita lihat apa yang terjadi di Sumatera,khususnya (Aceh)dari tanggal 25-28 November 2025, rasanya cuma satu kata yang muncul di kepala: hancur. Hujan yang turun tanpa jeda bikin tanah nggak kuat nahan beban, sungai jebol, pohon tumbang, dan akhirnya semua nyatu jadi bencana besar yang nyapu rumah dan harapan masyarakat.
Yang bikin makin perih itu bukan cuma kerusakan fisiknya, tapi kenyataan bahwa bantuan dari pemerintah makin lama makin seret, kayak nggak sebanding sama penderitaan orang-orang yang lagi berjuang bertahan hidup.
Dimana hati nurani pemerintah saat rakyatnya ditimpa bencana sebesar ini? Rumah longsor, rumah roboh dan amblas, sekolah dan masjid kebanjiran, warga meninggal, jalan putus, listrik padam, air bersih hilang.semuanya seolah jadi daftar panjang yang nggak ada ujungnya.
Yang bikin sedih, bencana kayak gini itu bukan hal baru. Tiap tahun ada, dan tiap tahun kita kayak cuma nonton ulang tragedi yang sama. Tapi kenapa antisipasi masih lemah,Kenapa kesiapsiagaan masih bolong,Kenapa bantuan lambat, seakan-akan masalah ini hal yang biasa.
Rakyat bukan cuma butuh bantuan nasi bungkus atau selimut. Mereka butuh rasa aman. Mereka butuh ditemani, bukan dibiarkan. Mereka butuh kebijakan yang nyata, bukan sekadar janji di depan kamera.
Kalau pemerintah benar-benar hadir, bencana boleh datang, tapi korban nggak harus sebanyak ini. Kalau pemerintah benar-benar punya hati nurani, masyarakat nggak akan merasa sendirian di tengah derita sebesar ini.
Bencana memang takdir, tapi ketidaksiapan dan ketidakpedulian bukan takdir,itu pilihan.
Sulit rasanya untuk nggak bertanya: Di mana hati nurani pemerintah saat rakyatnya diuji sedahsyat ini? Karena kalau kita bicara realita di lapangan, warga bukan cuma kehilangan harta benda. Mereka kehilangan tanah tempat berpijak, kehilangan mata pencaharian, kehilangan anggota keluarga, bahkan kehilangan harapan. Ada ibu-ibu yang duduk di sisa tembok rumahnya sambil peluk pakaian basah yang tersisa.
Ada anak-anak yang gemetar di tenda pengungsian sembari tanya kapan bisa tidur di kasur lagi. Ada bapak-bapak yang berdiri bengong lihat sawahnya berubah jadi lautan lumpur.
Dan ketika mereka menoleh ke pemerintah, yang datang cuma sedikit bantuan yang bahkan tidak cukup untuk hitungan hari,kenapa selalu begitu? Atau memang sejak awal, penderitaan rakyat nggak pernah jadi prioritas.
Padahal, kalau pemerintah benar-benar siap, dampaknya nggak akan separah ini. Kalau pemerintah benar-benar peduli, warga nggak harus berjuang sendirian.
Yang lebih nyakitin lagi, setelah bencana berlalu, biasanya yang muncul cuma deretan kunjungan formal buat foto-foto, janji perbaikan, dan rencana panjang yang akhirnya menguap begitu saja. Sementara rakyat harus membangun hidup dari nol-dengan tenaga sendiri, air mata sendiri, dan uang yang bahkan mereka nggak punya.
Bencana memang takdir. Hujan deras mungkin nggak bisa dihentikan. Tapi ketidaksiapan, kelambatan, dan minimnya empati itu bukan takdir,itu kesalahan manusia.
Kesalahan yang terus berulang karena tidak ada yang mau benar-benar memperbaikinya.Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan cuma bantuan sembako atau tenda pengungsian. Mereka butuh kehadiran nyata pemerintah, bukan cuma nomor hotline yang tak terangkat. Mereka butuh perbaikan jangka panjang, bukan sekadar kunjungan yang diiringi kamera.
Mereka butuh pemimpin yang peduli, bukan pemimpin yang hanya muncul saat kamera menyala.Rakyat sudah terlalu sering jadi korban,Korban bencana alam, korban kelalaian, dan korban ketidakpedulian.Dan selama pemerintah terus menunda tindakan nyata, selama itu pula masyarakat akan terus menahan rasa sakit sendirian.Bumi memang menangis.
Tapi lebih sedih lagi ketika rakyat ikut menangis sementara pemerintah masih sibuk pura-pura tidak tau apa yang sedang terjadi.










doa terbaik untuk saudara-saudara di Sumatra yang terdampak banjir. semoga diberi ketabahan dan kelapangan dalam menghadapi cobaan ini