Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Opini

[Opini] Longsor, Banjir, dan Hati Nurani yang Ikut Tertimbun

redaksi by redaksi
03/12/2025
in Opini
1
Banjir di Sumatera Melumpuhkan Aktivitas PTS di Aceh, Beberapa Kampus Masih Terisolir

Oleh Makbul. Penulis adalah mahasiswa UIN Ar-Raniry serta anggota komunitas peduli masyarakat.

Kalau kita lihat apa yang terjadi di Sumatera,khususnya (Aceh)dari tanggal 25-28 November 2025, rasanya cuma satu kata yang muncul di kepala: hancur. Hujan yang turun tanpa jeda bikin tanah nggak kuat nahan beban, sungai jebol, pohon tumbang, dan akhirnya semua nyatu jadi bencana besar yang nyapu rumah dan harapan masyarakat.

Yang bikin makin perih itu bukan cuma kerusakan fisiknya, tapi kenyataan bahwa bantuan dari pemerintah makin lama makin seret, kayak nggak sebanding sama penderitaan orang-orang yang lagi berjuang bertahan hidup.

Dimana hati nurani pemerintah saat rakyatnya ditimpa bencana sebesar ini? Rumah longsor, rumah roboh dan amblas, sekolah dan masjid kebanjiran, warga meninggal, jalan putus, listrik padam, air bersih hilang.semuanya seolah jadi daftar panjang yang nggak ada ujungnya.

Yang bikin sedih, bencana kayak gini itu bukan hal baru. Tiap tahun ada, dan tiap tahun kita kayak cuma nonton ulang tragedi yang sama. Tapi kenapa antisipasi masih lemah,Kenapa kesiapsiagaan masih bolong,Kenapa bantuan lambat, seakan-akan masalah ini hal yang biasa.

Rakyat bukan cuma butuh bantuan nasi bungkus atau selimut. Mereka butuh rasa aman. Mereka butuh ditemani, bukan dibiarkan. Mereka butuh kebijakan yang nyata, bukan sekadar janji di depan kamera.

Kalau pemerintah benar-benar hadir, bencana boleh datang, tapi korban nggak harus sebanyak ini. Kalau pemerintah benar-benar punya hati nurani, masyarakat nggak akan merasa sendirian di tengah derita sebesar ini.

Bencana memang takdir, tapi ketidaksiapan dan ketidakpedulian bukan takdir,itu pilihan.

Sulit rasanya untuk nggak bertanya: Di mana hati nurani pemerintah saat rakyatnya diuji sedahsyat ini? Karena kalau kita bicara realita di lapangan, warga bukan cuma kehilangan harta benda. Mereka kehilangan tanah tempat berpijak, kehilangan mata pencaharian, kehilangan anggota keluarga, bahkan kehilangan harapan. Ada ibu-ibu yang duduk di sisa tembok rumahnya sambil peluk pakaian basah yang tersisa.

Ada anak-anak yang gemetar di tenda pengungsian sembari tanya kapan bisa tidur di kasur lagi. Ada bapak-bapak yang berdiri bengong lihat sawahnya berubah jadi lautan lumpur.

Dan ketika mereka menoleh ke pemerintah, yang datang cuma sedikit bantuan yang bahkan tidak cukup untuk hitungan hari,kenapa selalu begitu? Atau memang sejak awal, penderitaan rakyat nggak pernah jadi prioritas.

Padahal, kalau pemerintah benar-benar siap, dampaknya nggak akan separah ini. Kalau pemerintah benar-benar peduli, warga nggak harus berjuang sendirian.

Yang lebih nyakitin lagi, setelah bencana berlalu, biasanya yang muncul cuma deretan kunjungan formal buat foto-foto, janji perbaikan, dan rencana panjang yang akhirnya menguap begitu saja. Sementara rakyat harus membangun hidup dari nol-dengan tenaga sendiri, air mata sendiri, dan uang yang bahkan mereka nggak punya.

Bencana memang takdir. Hujan deras mungkin nggak bisa dihentikan. Tapi ketidaksiapan, kelambatan, dan minimnya empati itu bukan takdir,itu kesalahan manusia.

Kesalahan yang terus berulang karena tidak ada yang mau benar-benar memperbaikinya.Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan cuma bantuan sembako atau tenda pengungsian. Mereka butuh kehadiran nyata pemerintah, bukan cuma nomor hotline yang tak terangkat. Mereka butuh perbaikan jangka panjang, bukan sekadar kunjungan yang diiringi kamera.

Mereka butuh pemimpin yang peduli, bukan pemimpin yang hanya muncul saat kamera menyala.Rakyat sudah terlalu sering jadi korban,Korban bencana alam, korban kelalaian, dan korban ketidakpedulian.Dan selama pemerintah terus menunda tindakan nyata, selama itu pula masyarakat akan terus menahan rasa sakit sendirian.Bumi memang menangis.

Tapi lebih sedih lagi ketika rakyat ikut menangis sementara pemerintah masih sibuk pura-pura tidak tau apa yang sedang terjadi.

Kementerian PU Terjunkan Alat Berat-Tim Teknis Tangani Bencana di Aceh-Sumut (Dok. Kementerian PU)

 

Previous Post

Muhammad Syuhada ‘DPRK Aceh Timur’ Salurkan Bantuan Banjir ke Peunaron dan Serbajadi

Next Post

Ketua Umum Gerakan Aktivis Muda Aceh Desak Pemerintah Aceh Evaluasi Kinerja Pertamina

Next Post
Ohku, Belum Ada Data Fix Posko Pengungsian di Pidie Jaya Paska Bencana Alam

Ketua Umum Gerakan Aktivis Muda Aceh Desak Pemerintah Aceh Evaluasi Kinerja Pertamina

Comments 1

  1. dedi says:
    1 bulan ago

    doa terbaik untuk saudara-saudara di Sumatra yang terdampak banjir. semoga diberi ketabahan dan kelapangan dalam menghadapi cobaan ini

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

IGPKhI Provinsi Aceh Gelar Kegiatan Psikososial di Pidie Jaya

IGPKhI Provinsi Aceh Gelar Kegiatan Psikososial di Pidie Jaya

14/01/2026
Mendagri Salurkan Gerobak Dorong dan Bantuan Pangan ke Aceh Tamiang

Mendagri: Satgas Fokus Bersihkan Lumpur Aceh Tamiang

14/01/2026
Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

Kemenag Serahkan Bantuan untuk Masyarakat dan Masjid di Aceh Utara

14/01/2026
Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

Korban TPPO Asal Aceh Utara Diminta Tebusan Rp40 Juta, Haji Uma Koordinasi dengan KBRI

14/01/2026
Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026

Terpopuler

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

Nyan, Bupati Pidie Jaya Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat

14/01/2026

Banjir Aceh Diduga Akibat Hilangnya 1.100 Hektar Hutan di DAS Jambo Aye

Krak, Harga Emas di Banda Aceh Capai Rp8 Juta per Mayam

Bandara SIM Aceh Gagalkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu ke Jakarta

Pemkab Pijay Salurkan Beras CPP Bagi Korban Banjir

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com