Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Lintas Tengah

Geolog Sarankan Pengalihan Aliran Air dari Longsoran Raksasa di Aceh

redaksi by redaksi
04/02/2026
in Lintas Tengah
0
Lubang Raksasa di Aceh Tengah Makin Meluas, Pemkab Cari Cara Antisipasi

Foto: Foto udara suasana perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Selasa (14/1/2026). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Banda Aceh – Ahli Geologi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Bambang Setiawan menyarankan agar dilakukan pengalihan aliran air dari wilayah pergerakan tanah atau longsoran di Desa Bah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah agar tanahnya tidak bergerak cepat.

“Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan untuk mengalihkan aliran air permukaan yang ada agar tidak melewati lokasi kejadian,” kata Bambang Setiawan di Banda Aceh, Rabu terkait fenomena pergerakan tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Tetapi, kata Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK ini, pengalihan aliran air termasuk penentuan lintasan alirannya juga harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan.

Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir ini, Aceh dihebohkan dengan terjadinya longsoran tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah hingga membentuk lubang raksasa. Lubang itu mulanya berbentuk kecil pada awal tahun 2000-an, dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.

Berdasarkan perhitungan tim Geologi Dinas ESDM Aceh, lubang tersebut terus membesar hingga hari ini sudah melebihi 30 ribu meter persegi (m²). Jika dibandingkan pada 2021 lalu sekitar 20.199 m², artinya terjadi pergerakan 10.000 m² dalam lima tahun terakhir.

Menurut Bambang, fenomena alam (lubang raksasa) di kawasan Ketol Aceh Tengah ini masih menjadi misteri, dan perlu dilakukan penelitian geologi lebih lanjut. Karena secara geologi, kondisi ini berpotensi atau mengarah pada fenomena sinkhole sebagai pemicu munculnya lubang besar tersebut.

Dirinya menjelaskan, menurut Cameron dkk 1983 (penyusun peta geologi lembar Takengon, Aceh Tengah), terdapat formasi Sembuang (MPs) berupa batu gamping (limestone) yang mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan (Qvl) di permukaan.

Di sisi lain, batuan vulkanik penyusun dari satuan Lampahan juga memiliki potensi longsor tinggi, khususnya pada lereng-lereng yang curam.

“Permasalahan akan menjadi rumit jika memang fenomena sinkhole yang memicu munculnya lubang raksasa tersebut. Karena, pekerjaan teknis untuk menangani dampak sinkhole ini memerlukan effort dan membutuhkan sumber daya lebih besar dari longsor biasa,” ujarnya.

Secara harfiah, lanjut Bambang, sinkhole dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi bawah permukaan yang dihasilkan dari pelarutan batu gamping atau lebih umum dikenal sebagai batu kapur selama periode geologis.

Atau dengan kata lain, sinkhole adalah cekungan, disebabkan oleh tanah dan material lain yang amblas ke dalam lubang terbuka atau rongga di bawah permukaan tanah.

“Sinkhole biasanya dapat dibedakan dalam dua buah model, yaitu runtuhan (collapse) lapisan penutup atau penurunan (subsidence) lapisan penutup. Hasil penelitian itu diharapkan dapat menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa” tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan data citra satelit pada 2015, 2021 dan 2025, terdapat peluang untuk terus meluasnya lubang raksasa tersebut. “Karena citra satelit itu memperlihatkan adanya perluasan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten,” ujarnya.

Maka dari dari itu, selain solusi jangka pendek dengan pengalihan aliran air, dan pemasangan rambu-rambu jalan, untuk penanganan jangka panjangnya, juga harus dilakukan kajian geologi lebih lanjut untuk menyimpulkan mekanisme terbentuknya “lubang raksasa” tersebut.

“Upaya-upaya mitigasi teknis untuk penanganan jangka panjang sebaiknya mengacu pada hasil dari penelitian geologi lebih lanjut tersebut,” demikian Bambang Setiawan.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil kajian sementara Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah di sana disebabkan materialnya tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong (batuan gunung api) yang bersifat lepas, berpori sehingga mudah menyerap air dan jenuh air.

Kemudian, terdapat rembesan atau aliran air bawah tanah yang mengerosi secara lateral. Saluran drainase dapat meluap dan membebani tanah disana, terutama saat datangnya musim penghujan.

Lalu, kondisi tebing yang curam hampir tegak menambah ketidakstabilan lereng. Serta dapat dipicu oleh hujan dan juga dapat gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil.

Sumber: antara

Previous Post

Satgas Yonzipur 17/AD Perbaiki Jalan Lintas Dewantara Pasca Bencana di Aceh Utara

Next Post

Satpol PP Banda Aceh Evakuasi ODGJ di Sekitar Sekolah

Next Post
Satpol PP Banda Aceh Evakuasi ODGJ di Sekitar Sekolah

Satpol PP Banda Aceh Evakuasi ODGJ di Sekitar Sekolah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

Dana Desa Dipangkas, HBDC Ingatkan Warisan Kebijakan Era Mantan Kombatan GAM

12/02/2026
Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

Jelang Ramadhan 1447 H, OSIS SMAN 1 Simeulue Barat Laksanakan Baksos

12/02/2026
UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

UNIMAL Adakan Sosialisasi Masuk Perguruan Tinggi di MA Ruhul Qur’ani Meulaboh

12/02/2026
Krak, Desa Terdampak Bencana Aceh Dapat Rp50 Juta untuk Meugang

Pemkab Pijay Terima Rp4,9 Miliar Bantuan Presiden untuk Meugang Korban Terdampak Bencana

12/02/2026
Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

Warga Temukan Mayat Mengapung di Kreung Babahrot

12/02/2026

Terpopuler

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

Wabup Pijay Mundur dari Satgas Bencana Alam, Ada Apa?

11/02/2026

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas Akibat Hujan

Pengurus KONI Abdya Dilantik, Zulkarnaini Sebagai Ketua Umum

Isu Nikah Pejabat Aceh Mengemuka, Muadi Buloh: Jangan Alihkan Fokus dari Akuntabilitas Publik

Di Pelantikan KONI Abdya, Dr. Safaruddin: Terimakasih Kepada Rusman dan Jufri Yusuf

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com