Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Bisa Ngopi Adalah Rezeki

redaksi by redaksi
12/08/2026
in Kolom
0
Bisa Ngopi Adalah Rezeki

Oleh Hafizhuddin Islamy. Penulis adalah pecinta ngopi.

Setiap datang dan menjajakkan kaki di Aceh, mata selalu akan dimanjakan dengan pemandangan Warung Kopi di sepanjang jalan. Warung Kopi di Aceh tidak hanya memenuhi jalan-jalan protokol, namun juga jalan-jalan kecil hingga gang-gang yang ada di daerah tersebut.

Aceh yang merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, menjadi alasan sebagian besar masyarakatnya menjadikan kopi sebagai komoditas utama dalam mengembangkan ekonomi mereka. Adanya kekayaan kopi yang melimpah melahirkan para petani yang senantiasa memanen kopi untuk keberlangsungan hidupnya melalui hasil ataupun pendapatan yang di dapat dari hasil panen kopi tersebut.

Dari hasil kopi yang melimpah pula menjadi sebab banyaknya Warung Kopi di setiap kota yang ada di provinsi Aceh. Banyaknya Warung Kopi memperlihatkan bagaimana antusiasnya masyarakat dalam mengelola kopi menjadi sumber pendapatan mereka.

Banyaknya Warung Kopi di Aceh pula menjadikan masyarakat Aceh sangat dekat dengan kopi. Sebagai orang Aceh, kita pasti tahu bahwa di Aceh terdapat budaya ngopi yang menjadi kebiasaan masyarakat Aceh di semua kalangan. Kebiasaan ngopi masyarakat Aceh sejak dulu hingga kini terus dinikmati oleh kalangan muda maupun tua, tradisi atau budaya ngopi tidak mengenal usia, mulai dari gen z, milenial hingga orang-orang yang telah lanjut usia pun masih menikmati kopi setiap harinya. Sebagian pecinta kopi membuka pagi hari mereka setelah subuh dengan secangkir kopi, sebagian yang lain memilih nongkrong di warung kopi disaat pulang kerja atau di malam hari.

Ngopi bukanlah hal yang dengan mudah bisa didapatkan di tempat lain. Akan susah rasanya mencari suasana atau nuansa ngopi seperti di Aceh. Warung kopi yang dulunya hanya berperan sebagai tempat bertukar informasi antar sesama masyarakat kini berubah dan memiliki peran yang jauh lebih luas. Kini warung kopi menjadi tempat dimana ide-ide baru muncul, gagasan-gagasan hebat lahir dan tempat dimana diskusi terus hidup dengan berbagai narasi.

Tak hanya itu, warung kopi juga menjadi tempat orang-orang mengadakan rapat atau musyawarah, kemudian menjadi tempat orang-orang dalam membuat sebuah kesepakatan. Sebenarnya hal-hal seperti musyawarah dan membuat kesepakatan bisa saja dilakukan ditempat yang lebih ideal atau sedikit tertutup, namun dalam filosofi masyarakat Aceh, setiap hal akan lebih mudah jika dibicarakan di warung kopi. Kalau sudah duduk di warung kopi, semua hal bisa dibicarakan secara kekeluargaan dan bisa diselesaikan secara adat, begitulah kira-kira kata para pecinta warung kopi di Aceh.

Tidak cukup sampai disitu, warung kopi juga kerap kali menjadi pilihan para pelajar hingga mahasiswa sebagai tempat mereka menyelesaikan tugas tugasnya. Hanya dengan memesan secangkir minuman, mereka sudah bisa mengakses wifi sepuasnya untuk menunjang kelancaran pengerjaan tugas-tugas mereka.

Bisa duduk sejenak bersantai dan bersua dengan teman, guru ataupun saudara yang sudah lama tidak berjumpa sambil mengobrol atau berbicara hal-hal ringan serta tertawa bersama merupakan nikmat yang tidak bisa dinilai dengan materi. Banyak individu di belahan dunia yang lain saat ini mungkin sangat ingin untuk duduk bersantai di warung kopi sambil tertawa melepas beban hari-hari yang datang silih berganti. Namun apalah daya, jam kerja yang padat, kesibukan yang seakan tiada henti dan sulitnya mendapat nuansa ngopi seperti di Aceh menyebabkan sebagian orang tidak bisa merasakan nikmatnya duduk dengan mencicipi secangkir kopi.

Tentu saja tradisi ngopi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat Aceh ini harus terus berjalan, ia tidak hanya menjadi penunjang ekonomi, namun juga menjadi sarana tempat dimana masyarakat bersilaturahmi satu sama lain. Untuk tetap bisa eksis dan tidak tergurus usia, warung kopi haruslah selalu tampil dengan mengikuti perkembangan zaman. Tampil dengan wajah baru, melihat dan memperhatikan kebutuhan serta apa yang disukai konsumen. Jika tidak demikian, maka kemungkinan perlahan lahan warung kopi bisa kehilangan para penikmat setianya.

Selain itu para penikmat kopi juga harus memahami bahwa duduk di warung kopi tidak boleh sampai menganggu aktivitas lainnya. Sudah seharusnya pecinta ngopi memanajemen waktunya dalam hal duduk di warung kopi. Jangan sampai waktu berlalu hingga larut malam, sedangkan kewajiban yang lain malah terbengkalai. Kelalaian demi kelalaian sering kali di temukan pada kalangan anak muda yang nongkrong di warung kopi. Banyak dari mereka yang lalai dengan gadget dan sibuk bermain game online hingga lupa waktu. Hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang disayangkan terjadi pada diri anak anak muda hari ini. Di usia muda yang masih terbilang produktif, harusnya masih banyak hal lain yang bisa diekspor daripada menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Di sisi yang lain, sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan Syari’at Islam dalam kehidupan muamalah sehari-hari masyarakatnya, sudah semestinya para pelaku usaha warung kopi menanamkan pula nilai-nilai syari’at dalam proses bisnis warung kopi yang digelutinya. Kita bersyukur, hampir di seluruh warung kopi yang ada, sudah tersedia fasilitas mushalla bagi orang-orang yang hendak melaksanakan shalat. Namun sayangnya fasilitas yang sudah ada itu hanya dipergunakan oleh sedikit orang. Kebanyakan yang lain masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing dan bahkan sampai melupakan shalat yang merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Kenapa tidak dari pihak pengelola warung kopi agar setidaknya menghimbau dan mengingatkan para pengunjung ketika waktu shalat tiba? Atau mengumandangkan azan ketika masuk waktu shalat dan melanjutkan shalat berjamaah. Jika hal semacam ini dijalankan, maka syiar Islam akan semakin terlihat dan terpancar dari setiap sudut tempat yang ada di Aceh ini terutama dari warung kopi.

Selain dalam hal upaya mengingatkan para pengunjung agar shalat, warung kopi juga hendaknya menjadi benteng terdepan dalam menjaga nilai-nilai syari’at agar terus berjalan dengan memperhatikan dan menegur pasangan pasangan bukan mahram yang duduk di tempat tersebut. Belum lagi melihat meningkatnya kasus LGBT sekarang ini, sudah saatnya warung Kopi untuk ikut ambil bagian untuk menjaga pergaulan anak muda Aceh agar lebih sehat dan terarah ke hal yang positif.

Kemudian, sebagai tempat berkumpulnya banyak orang, sudah saatnya warung kopi bertransformasi menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan dengan memperbanyak diskusi diskusi publik baik tentang hal umum maupun perihal agama. Mengundang pemateri untuk menyampaikan paparan penjelasan keilmuannya, hingga nantinya warung kopi bukan hanya sekedar menjadi tempat bertukar informasi, namun ia hadir sebagai tempat silaturahmi yang mengedepankan nilai-nilai Islam serta menjadi tempat dimana khazanah ilmu pengetahuan bisa tumbuh dan tersebar secara lebih masif.

Previous Post

Pulang dari Cut Langien, Mahasiswa KKN USK Tinggalkan 170 Publikasi dan Beragam Program

Next Post

Tunaikan Janji Pascabencana, Menag Letakkan Batu Pertama Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya

Next Post
Tunaikan Janji Pascabencana, Menag Letakkan Batu Pertama Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya

Tunaikan Janji Pascabencana, Menag Letakkan Batu Pertama Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ratusan Warga Abdya Semarakkan Pawai Obor Tulak Bala

Ratusan Warga Abdya Semarakkan Pawai Obor Tulak Bala

12/08/2026
Tunaikan Janji Pascabencana, Menag Letakkan Batu Pertama Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya

Tunaikan Janji Pascabencana, Menag Letakkan Batu Pertama Pembangunan MIN 5 Pidie Jaya

12/08/2026
Bisa Ngopi Adalah Rezeki

Bisa Ngopi Adalah Rezeki

12/08/2026
Pulang dari Cut Langien, Mahasiswa KKN USK Tinggalkan 170 Publikasi dan Beragam Program

Pulang dari Cut Langien, Mahasiswa KKN USK Tinggalkan 170 Publikasi dan Beragam Program

12/08/2026
Netanyahu Ogah Ikut Trump, Seberapa Kuat Israel Serang Iran Sendirian?

Netanyahu Ogah Ikut Trump, Seberapa Kuat Israel Serang Iran Sendirian?

12/08/2026

Terpopuler

Bisa Ngopi Adalah Rezeki

Bisa Ngopi Adalah Rezeki

12/08/2026

Dua Kali Diperiksa Polda, Wabup Pidie Jaya Pilih Jalan Damai: Delapan Saksi Sudah Dipanggil

Di Balik Semarak HUT RI ke-81 Pidie Jaya, Ada Anggaran Rp905 Juta

Akun TikTok Seret Nama Kapolsek Tangse, Propam Polda Aceh Turun Periksa

Ohku, Pertambangan Emas Di Tangse Digerebek, Operator Jadi Tersangka: Siapa Dibalik Alat Berat?

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com