Saat rapat selesai, sejumlah pasukan tak langsung bubar. Mereka masih sibuk bernostagia sesama. Hanya Dekjoel yang disuruh pulang.
“Kau pulang cepat. Anak-anak tak baik jika tidur terlalu telat,” ujar Marzuki, seorang anggota yang cukup senior. Ia kerap memegang Minimi semasa konflik.
Dekjoel sendiri bergabung dengan Tentara Nanggroe sekitar tahun 2002. Saat itu, ia baru lulus SMP. Ia datang sendiri ke kantor wilayah di Alue Dua, Nisam, untuk daftar. Agar niatnya tercapai, ia mengaku sudah berumur 18 tahun. Sosoknya yang kurus dan tinggi membuat klaimnya tak lagi dipertanyakan. Apalagi, kami di kantor wilayah, tak pernah meminta ijazah atau akte kelahiran untuk setiap rekrutmen.
Ia kemudian diajarkan memegang senjata oleh almarhum Rambo dan Rambo sekarang, secara bergantian. Belakangan, ia ketahuan memalsukan umur dan dipindahkan ke bagian logistic. Tapi saat saat kritis atau pengepungan oleh Tentara Republik, ia sudah piawai memegang senjata serta bela diri.
Sedangkan Marzuki adalah pasukan hasil seleksi dari tingkat daerah. Dia ditarik ke kantor wilayah Pase, beberapa bulan, sebelum darurat militer.
Statemen dari Marzuki atau Uki ini, tentu saja menimbulkan ledakan tawa dari yang hadir. Sementara Dekjoel membalas dengan wajah sewot.
“Bercanda dengan senior itu tak baik. Siap-siap dihukum berguling-guling dari Warung Bang Lah hingga ke Simpang Krueng Geukuh,” ujar Dekjoel. Ia mengklaim dirinya senior karena lebih dulu bergabung dengan kantor wilayah dibanding Marzuki.
Marzuki tiba-tiba berdiri tegak usai mendengar balasan Dekjoel. “Siap salah senior,” ujarnya kemudian dengan mimik tertawa.
Aku hanya menanggapi usilan Marzuki terhadap Dekjoel dengan Senyum. Bercanda dengan rekan seperjuangan, terkadang bisa mengurangi beban psikologis, untuk takdir yang tak pernah disangka ini.
Usai rapat, Rambo dan Rusli menarik kursi untuk duduk di dekatku. Begitu juga dengan Ridwan. Saat itu tiba-tiba Bang Yan menelpon.
“Terimakasih Musa. Terimakasih atas putusan kalian mendukung-ku malam ini. Kalian menjaga marwahku. Keputusan kalian sangat penting bagi kami saat ini,” ujarnya dari seberang. Dari seberang, aku mendengar suara sedikit riuh. Artinya, Bang Yan sedang tidak sendiri.
Bang Yan kemudian bercerita panjang lebar soal persiapan calon independent. Termasuk upaya lobi ke Jakarta agar Jalur Independent diakui.
Usai Bang Yan, giliran Dani yang menelponku. Ia juga mengungkapkan hal yang sama. Katanya, pasca kami (aku, Rambo dan Rusli-red) kembali ke Lhokseumawe, banyak eks Tripoli yang menelponnya dan meminta mereka segera mundur dari pengawalan Bang Yan dan paket Independent. Ia tertekan dan tak bisa mengambil keputusan. Pasalnya, ada belasan anggota bersamanya. Dani juga mengaku, sempat kecewa dengan keputusanku pulang, belakangan Bang Yan memberitahu alasan sebenarnya.
Dani juga mengaku, pasca menerima pesan dari Rambo, ia sedikit khawatir jika keputusan kami justru berbeda sehingga keberadaannya di Kutaradja akan menjadi lelucon. Terakhir, ia bertanya apa aku akan segera kembali ke Kutradja untuk bergabung.
“Sepertinya, dalam waktu dekat, aku tak ke Kutaradja dulu. Aku perlu menyiapkan markas baru dulu bagi kita semua di Lhokseumawe,” balasku melalui telepon.
“Bisa. Tapi jangan jauh-jauh dari Warkop Bang Lah,” pintanya sambil tertawa.
[Bersambung]
Baca juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)



![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)




