Oleh Muhammad Firdaus. Penulis adalah santri dan warga Bireuen. Alamat dan mail penulis ada di redaksi.
Tusop tak mungkin gagal menjadi Cawagub Mualem karena factor tidak bisa mengaji. Tok, beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang dimiliki oleh Aceh saat ini. Ia juga ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh. Diakui atau tidak, Tusop memiliki peran yang sangat penting di awal-awal pembentukan Partai Adil Sejahtera (PAS) di Aceh.
Namun tersirat kabar, salah satu factor tersingkirnya Tusop dari bursa Cawagub Mualem karena lemahnya dukungan dari PAS Aceh yang berbasis agamis dari dayah salafi itu sendiri. Konon, Abu Mudi selaku orang berpengaruh paling besar di PAS Aceh, lebih cenderung mendukung HRD daripada Tusop. Hal ini, bisa jadi, membuat bargaining Tusop di mata Partai Aceh menjadi turun sebagai Cawagub.
Tersingkirnya nama Teungku Muhammad Yusuf atau Tusop dari Bacawagub Mualem pada fase fit and proper test cukup menyita perhatian masyarakat di Aceh. Fase fit and proper test sendiri meliputi pemaparan visi misi dan tes baca Alquran.
Sekitar dua tahun lalu, nama Tusop merupakan salah satu kandidat Cagub Aceh yang santer diperbincangkan oleh masyarakat Aceh. Nama Tusop digadang-gadang sebagai pesaing Mualem dan Haji Uma di pilkada Aceh.
Gerak Tusop dari beberapa muzakarah ulama hingga terbentuknya PAS Aceh mendapat atensi dari berbagai kalangan di Aceh. Masyarakat berharap gerak Tusop ini mampu berbuah hasil dengan bersatunya basis agamis di Aceh dibidang politik dan mampu merebut pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat.
Gerak Tusop dari mimbar ke mimbar dan beberapa ulama, bisa dikatakan cukup berhasil. PAS sebagai Parlok berbasis agamis akhirnya hadir dan menjadi salah satu partai peserta pemilu legislative di Pileg 2024 lalu. PAS juga meraih 4 kursi di DPR Aceh hasil Pileg 2024 lalu.
Inilah yang membuat nilai tawar basis agamis cukup bernilai jelang pilkada 2024 di Aceh.
Beberapa bulan lalu, Mualem dalam sejumlah pertemuan di Jakarta, konon selalu menyebutkan bahwa Tusop adalah Cawagub yang akan mendampinginya di pilkada Aceh. Ini karena PA ingin menyatukan basis ideologis dan agamis sebagai pemilik suara mayoritas di Aceh, agar bisa menang. Namun rencana tersebut, sepertinya berubah di tengah jalan. Konon salah satu alasannya, karena adanya bocoran pertemuan Abu Mudi sebagai orang yang paling berpengaruh di PAS Aceh dengan sejumlah pimpinan PAS kabupaten kota. Dalam pertemuan tadi, Abu Mudi mengarahkan agar PAS mendukung Haji Ruslan Daud dari PKB sebagai Cagub Aceh.
Berubahnya haluan PAS, diduga menjadi salah satu penyebab runtuhnya bargaining Tusop untuk menjadi Cagub maupun Cawagub di pilkada Aceh 2024, mewakili basis agamis di Aceh. Hal ini juga diduga kuat menjadi alasan Partai Aceh ‘menghapus’ nama Tusop dari daftar Cawagub Mualem.
Memori Pilkada Bireuen 2017
Perkembangan politik terbaru tadi cukup membangkitkan memori pilkada 2017 lalu di Bireuen. Dimana, Tusop dan HRD juga sama-sama kontestan calon bupati Bireuen saat itu.
Dukungan kuat ulama dan dayah di Bireuen awalnya mengarah ke Tusop dan hal inilah yang akhirnya membuat sosok tersebut mendaftar di Pilkada Bireuen. Namun di tengah perjalanan, ‘jaringan Samalanga’ beralih dukungan ke HRD yang merupakan kandidat petahana saat itu. Walhasil, seperti yang diketahui bersama, bukan Tusop dan HRD yang akhirnya tampil sebagai pemenang di Bireuen, melainkan pengusaha yang juga politisi Parnas.
Salah satu alasan beralihnya dukungan ‘jaringan Samalanga’ di Pilkada Bireuen yang berkembang saat itu adalah karena, “bandet harus talawan dengoe bandet.”
Alasan lainnya yang berkembang saat itu adalah ‘Tusop ta siapkan keu gubernur Aceh.’
Namun setelah 7 tahun berlalu, kini pergeseran tujuan dan alasan juga kembali terjadi. Pencalonan Tusop kembali terhadang dengan masalah tak solidnya pimpinan partai basis dayah untuk mendukung kalangan politisi yang muncul dari orang dayah itu sendiri. Pahit tapi inilah realita yang sedang terjadi. []










