Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Alam (BPBA) Provinsi Aceh menyebut ada empat daerah yang dilanda banjir yakni Kota Subulussalam, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Jaya, dan Kabupaten Aceh Jaya menjadi wilayah yang paling parah terdampak.
Berdasarkan data yang dihimpun, Selasa (19/11/2024), sebanyak 571 kepala keluarga (KK) atau 1.729 jiwa di Aceh Jaya terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, 143 KK (511 jiwa) terpaksa mengungsi. Dua kecamatan, yakni Teunom dan Pasie Raya, terendam banjir.
Di Kecamatan Teunom, 310 KK (865 jiwa) terdampak, dengan lima desa yang terendam. Desa Bang Baro menjadi desa yang paling parah, dengan 70 KK (207 jiwa) terdampak.
Sementara itu, di Kecamatan Pasie Raya, 261 KK terdampak dan 143 KK (511 jiwa) mengungsi. Desa Pulo Tinggi menjadi desa dengan jumlah pengungsi terbanyak di kecamatan ini, yakni 115 KK (350 jiwa).
Kota Subulussalam melaporkan 175 KK terdampak banjir, namun tidak ada warga yang mengungsi. Banjir melanda dua kecamatan, yaitu Sultan Daulat dan Simpang Kiri.
Di Kecamatan Sultan Daulat, 145 KK di lima desa terdampak, dengan Desa Namo Buaya menjadi desa yang paling parah, yaitu 65 KK. Sementara itu, di Kecamatan Simpang Kiri, 30 KK di Desa Dah juga terdampak.
Di Kabupaten Aceh Tenggara, 57 KK (209 jiwa) di Kecamatan Babussalam dan Lawe Alas terdampak banjir, namun tidak ada warga yang mengungsi.
Di Kabupaten Aceh Singkil, beberapa kecamatan seperti Suro Makmur, Simpang Kanan, dan Gunung Meriah juga melaporkan adanya banjir, namun data rinci mengenai dampaknya masih terbatas.
Banjir yang melanda Aceh diduga disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berupaya melakukan penanganan.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa akibat banjir. Namun, kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, dan tempat pengungsian yang layak sangat diperlukan, terutama di Kabupaten Aceh Jaya yang memiliki jumlah pengungsi paling banyak.










