Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Nanggroe

Warga di Banda Aceh Padati Kuburan Massal Tsunami untuk Berdoa

redaksi by redaksi
26/12/2024
in Nanggroe
0
Warga di Banda Aceh Padati Kuburan Massal Tsunami untuk Berdoa

Ribuan orang mendatangi kuburan massal para korban tsunami Aceh tiap 26 Desember, berharap keluarga mereka yang tak pernah kembali benar beristirahat di sana. (CNN Indonesia/Dani Randi)

Banda Aceh – Selama dua dekade terakhir, Triansyah Putra tak pernah absen satu tahun pun untuk mendatangi kuburan massal di Ulee Lheue Banda Aceh dan Siron, Kabupaten Aceh Besar, setiap 26 Desember.

Di sana, puluhan ribu jenazah korban tsunami 2004 yang tidak diketahui identitasnya dimakamkan secara bersamaan. Para peziarah yang datang pun berharap keluarga mereka ada dalam liang kubur tersebut.

Triansyah, yang kini berusia 53 tahun, kehilangan seluruh keluarga intinya akibat tsunami 26 Desember 2004. Bahkan sampai sekarang, ia tak tahu di mana jenazah mereka, termasuk kedua orang tuanya.

Tempat tinggal Triansyah di Punge Ujong, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, adalah salah satu daerah terparah disapu tsunami karena hanya berjarak dua kilometer dari bibir laut.

“Keluarga inti saya hilang semua, kedua orang tua saya, abang saya dan keponakan,” kata Triansyah saat ditemui di kuburan massal Ulee Lheue, Kamis (26/12).

“Sekitar 12 orang hilang pada saat itu. Jenazah keluarga saya tidak ketemu sampai saat ini,” katanya.

“Kalau memperingati tsunami, saya ke kuburan massal Ulee Lheue yang saya merasa… Batin saya menyatakan orang tua saya di sini,” ucapnya.

Triansyah mengenang, ia dan keluarganya berada di rumah pada Minggu pagi 26 Desember 2004, sama seperti kebanyakan keluarga dan korban tsunami Aceh lainnya. Momen hari libur itu tiba-tiba jadi duka hanya dalam hitungan menit saat tsunami menerjang pukul 07.58 WIB.

Ia mengakui sempat terbawa arus tsunami yang menghantam daratan Aceh dengan kecepatan dua kali kereta cepat dan setinggi 30 meter itu. Namun takdir manusia memang hanya Tuhan yang tahu.

“Mungkin belum saatnya saya dipanggil. Saya masih diberi kesempatan hidup oleh Allah,” katanya.

Takdir yang serupa tapi tak sama dialami Evana yang kini berusia 43 tahun. Tepat 20 tahun lalu, ia berusaha pulang ke Banda Aceh dari Medan, Sumatera Utara, dengan pesawat.

Namun saat itu, ia melewatkan perubahan jadwal penerbangan yang membuat dirinya ketinggalan pesawat. Padahal harusnya ia sudah bersama keluarga di Keudah, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

“Pesawatnya itu harusnya Minggu pagi pukul 06:00 WIB, saat tiba di Bandara Polonia, Medan, ternyata saya ketinggalan. Pesawatnya sudah berangkat,” kata Evana.

Kawasan tempat tinggal keluarga Evana di Keudah, Kecamatan Kuta Raja, yang berada di tepi pantai pun dilahap tsunami. Gempa dan gelombang tsunami meratakan dua lantai rumah keluarganya dan warga lainnya dengan tanah.

Orang tua dan adik Evana hilang. Sampai saat ini.

“Semenjak habis tsunami itu, saya dan keluarga lainnya memilih untuk tinggal di Jakarta,” kata Evana. “Pulang ke sini [Aceh] untuk ziarah, ya cuma bisa di dua kuburan. Kalau tidak di Ulee Lheue, ya di Siron, karena jenazahnya tidak ditemukan sama sekali,”

Kawasan tempat tinggal keluarga Evana di Keudah, Kecamatan Kuta Raja, yang berada di tepi pantai pun dilahap tsunami. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Kuburan massal Ulee Lheue menjadi peristirahatan terakhir 14 ribu lebih korban tsunami Aceh yang tidak memiliki identitas. Sementara di Siron, terdapat 46 ribu lebih jenazah yang dikebumikan.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi berkekuatan 9,1 skala Richter pecah di ujung barat Sumatera yang menghasilkan serangkaian gelombang besar di Samudera Hindia dan menghantam pesisir pantai 14 negara, dari Indonesia hingga Somalia.

Gelombang itu bahkan mencapai ketinggian 30 meter, menyapu nyaris bersih pemukiman, penduduk, hingga wisatawan yang sedang merayakan momen libur natal dan akhir pekan sekaligus.

Tsunami tersebut menerjang tanpa didahului peringatan tsunami. Namun meskipun sebagian negara memiliki teknologi tersebut dan berfungsi, jeda waktu untuk menyelamatkan diri sangatlah sempit.

Tercatat, sebanyak 226.408 orang meninggal dunia akibat tsunami tersebut di seluruh negara. Indonesia menjadi negara paling terdampak, yakni setidaknya 160 ribu orang meninggal dunia. Kala itu, Aceh tak memiliki sistem peringatan dini.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

Muzakir Manaf Bentuk Tim Kerja Terjemahan Visi-Misi 2025-2030

Next Post

BireunKut; Komunitas Anak Muda Peduli Lingkungan

Next Post
BireunKut; Komunitas Anak Muda Peduli Lingkungan

BireunKut; Komunitas Anak Muda Peduli Lingkungan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Coffee Morning LPPM IAIN Takengon: Exploring Emotional and Psychological Healing in The Qur’an

Coffee Morning LPPM IAIN Takengon: Exploring Emotional and Psychological Healing in The Qur’an

23/04/2026
Komisi III DPR RI Kunjungi NTB, H.T. Ibrahim: KUHP Baru Paradigma Berbasis Keadilan Restoratif

Komisi III DPR RI Kunjungi NTB, H.T. Ibrahim: KUHP Baru Paradigma Berbasis Keadilan Restoratif

23/04/2026
Kejari Banda Aceh Tahan Tersangka Penistaan Agama di Media Sosial

Kejari Banda Aceh Tahan Tersangka Penistaan Agama di Media Sosial

23/04/2026
Putra-Putri Terbaik Sabang Siap Harumkan Aceh di MTQ Nasional 2026

Putra-Putri Terbaik Sabang Siap Harumkan Aceh di MTQ Nasional 2026

23/04/2026
Pasar Hewan Sibreh Aceh Besar Dipadati Pembeli Jelang Idul Adha

Pasar Hewan Sibreh Aceh Besar Dipadati Pembeli Jelang Idul Adha

23/04/2026

Terpopuler

Dana Desa Rp.450 Juta Digerus, Keuchik Lancang Pidie Jaya Berakhir di Rutan

Dana Desa Rp.450 Juta Digerus, Keuchik Lancang Pidie Jaya Berakhir di Rutan

22/04/2026

Ratoh Jaroe Disebut “Industri”, Budayawan Aceh: Tradisi Asli Justru Tergeser

TMMD Gandeng Disdukcapil Abdya Layani Pembuatan Adminduk Masyarakat

Ajudan Dir Narkoba Aceh dilaporkan ke Div Propam Polri

JPU Tuntut Dua Terdakwa Korupsi SPPD Tiga Tahun Penjara

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com