BLANGPIDIE – Dalam rangka memperkuat Syariat Islam di Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Barat Daya, Bupati Dr. Safaruddin, S. Sos MSP didampingi Wabup Zaman Akli, S. Sos serta Ketua MPU Tgk. Abu Dahlan menggelar Focus Gruop Discussion (FGD) bersama elemen masyarakat setempat.
Acara yang dilaksanakan di Gor Sigupai Blangpidie tersebut dihadiri ribuan elemen masyarakat, yang terdiri dari para Camat, Imuem Mukim, Keuchik dan Aparatur Gampong dalam wilayah Kabupaten Abdya. Para SKPK, eselon III. Disdik dan Dinkes yang diikutsertakan Kepala Sekolah, Kepala Puskesmas dalam lingkup Kabupaten Abdya. Pada FGD itu juga hadir seluruh unsur Ulama, LSM, Ormas hingga seluruh tokoh masyarakat dalam Kabupaten Abdya, Rabu (09/05/2025).
Pada kesempatan tersebut, Bupati Abdya, Dr. Safaruddin menyampaikan instruksi Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem yang telah resmi menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Aceh Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Syariat Islam, Shalat Fardhu Berjamaah bagi setiap elemen masyarakat serta tentang penguatan- penguatan bidang Agama.
“Dengan diterbitkannya Ingub tersebut oleh Mualem, maka setiap institusi pemerintahan di Abdya, kedai dan warung-warung dan semua aktivitas masyarakat dihentikan dengan diwajibkan shalat berjamaah dan meninggalkan segala aktivitas saat adzan berkumandang,” kata Dr Safaruddin.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Safaruddin juga menyinggung para Kepala SKPK di Abdya yang tidak melaksanakan instruksi tersebut akan dievakuasi.
“Ingat, bagi kepala Dinas atau Badan di lingkungan pemerintah Kabupaten Abdya yang berturut-turut tiga kali tidak ikut jamaah subuh akan digeser,” kata Safaruddin.
Ia juga berharap agar instruksi ini sampai kepada semua masyarakat Abdya, Keuchik sampaikan kepada warganya dengan cara mensosialisasikan.
“Mohon agar semua Keuchik, para Camat serta seluruh tokoh masyarakat menyampaikan Ingub ini agar tidak terputus dan salah pemahamannya ditengah masyarakat,” ucap Safaruddin.
Tak hanya bicara soal ibadah, Bupati Safaruddin juga menyampaikan program bantuan rumah untuk kaum dhuafa dan anak yatim. Menariknya, data penerima bantuan kini tidak lagi berasal dari dinas sosial, tapi langsung dari Keuchik.
“Baru-baru ini, sudah dua rumah kita bantu. Datanya valid, langsung dari kepala kampung,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa proses bantuan rumah tersebut dilakukan setelah ia turun langsung ke lapangan, usai melaksanakan shalat berjamaah.
“Setelah melaksanakan shalat berjamaah, saya langsung bertanya kepada Keuchik tentang rumah warga yang paling layak dibantu, lalu saya mendatangi rumah tersebut. Ada rumah yang kita bantu rehab, dan ada juga rumah yang akan kita bangun baru jika kondisinya memang tidak layak untuk direhab,” jelasnya.
Di akhir penyampaiannya, Bupati Dr. Safaruddin menegaskan bahwa gerakan shalat berjamaah ini bukan untuk pencitraan politik, tetapi merupakan tanggungjawab moral dan spiritual sebagai pemimpin.
“Shalat berjamaah bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal kedamaian dan silaturahmi. Kalau kita sering bertemu di masjid, rasa benci akan hilang. Hidup kita akan lebih tenteram dan harmonis,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli, menyatakan dukungan penuh terhadap pernyataan Bupati Safaruddin.
“Alhamdulillah apa yang disampaikan oleh pak Bupati, ini menunjukkan untuk kemajuan kita bersama,” ujarnya.
Zaman juga mengajak seluruh masyarakat Abdya untuk memulai dari kesadaran pribadi dalam menjalankan imbauan tersebut.
“Meskipun beragam konseskuensi yang diberikan, hal ini tentunya diawali dari kesadaran pribadi masing-masing,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa ini adalah kewajiban sebagai pemimpin, sebagaimana tuntunan dalam ajaran Islam.
“Kami sebagai pemimpin Abdya yang telah diamanahkan oleh masyarakat Abdya selama 5 tahun ke depan, ini merupakan tugas dan kewajiban kami sebagai pemimpin,” katanya.
Zaman juga menyebut ajakan ini sejalan dengan instruksi Gubernur Aceh dan menegaskan pentingnya aksi nyata di lapangan.
“Hal ini tidak cukup dengan slogan-slogan dan aturan, akan tetapi harus dipraktek langsung dan tegas demi memakmurkan masjid yang ada di Bumoe Breuh Sigupai, umumnya Aceh,” tutupnya.
Ia juga mengenang masa lalu ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mengajak masyarakat memperkuat syariat Islam dan masjid-masjid selalu ramai oleh jamaah salat lima waktu. Komitmen ini, katanya, akan terus mereka bawa untuk membangun Abdya yang religius dan damai.











