TAKENGON – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, telah menewaskan 15 orang dan memaksa 3.213 keluarga untuk mengungsi. Bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan daerah tersebut terisolasi dan lumpuh total.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengatakan intensitas hujan tinggi tidak hanya memicu banjir bandang dan longsor, tetapi juga merusak infrastruktur vital, sehingga mengisolasi wilayah Aceh Tengah dari akses keluar masuk.
“Tercatat sebanyak 15 jiwa meninggal dunia akibat bencana ini, dan sebanyak 3.213 keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman,” kata Haili, Kamis, 27 November 2025.
Akibat kerusakan infrastruktur, semua akses transportasi darat menuju daerah tetangga seperti Bireuen, Aceh Utara, dan Nagan Raya terputus. Kondisi ini disebabkan oleh longsor yang menutup jalan serta jembatan yang rusak atau hanyut.
“Akibatnya, pasokan kebutuhan makanan pokok dan logistik lainnya tidak dapat masuk ke Takengon, menimbulkan kekhawatiran akan ketersediaan pangan,” ujar Haili.
Haili menerangkan, layanan dasar masyarakat juga ikut terdampak, dengan laporan pemadaman listrik total dan terputusnya jaringan komunikasi internet di seluruh wilayah, menambah kesulitan dalam upaya koordinasi dan penyaluran informasi.
Merespons bencana ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menetapkan status Darurat Bencana sesuai dengan instruksi Gubernur Aceh. Salah satu kebijakan langsung yang dikeluarkan adalah meliburkan seluruh aktivitas belajar mengajar di sekolah untuk menjaga keselamatan siswa dan guru serta memfokuskan upaya evakuasi.
“Langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan para siswa dan guru, serta memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk fokus penuh pada upaya evakuasi dan penanganan darurat,” jelas Haili.










