BANDA ACEH — Aceh akan menjadi tuan rumah International Conference on Natural and Human Disasters 2026 (DR3 Aceh 2026), sebuah konferensi internasional kebencanaan yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia.
Kegiatan berskala global ini dijadwalkan berlangsung pada 17–19 April 2026 di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh.
Konferensi ini diselenggarakan oleh International Union of Architects melalui program Natural and Human Disasters, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Arcasia Emergency Architects, serta didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Ketua IAI Aceh, Ar. Said Husain, selaku koordinator acara, menyebutkan bahwa penyelenggaraan konferensi ini menjadi momentum penting bagi Aceh untuk kembali tampil di panggung internasional sebagai pusat pembelajaran kebencanaan.
“Ini menjadi kebanggaan bagi Aceh karena komunitas arsitek melalui kolaborasi internasional mampu menghadirkan konferensi kebencanaan berskala global yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, dengan Aceh sebagai tuan rumah,” ujar Said, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, DR3 merupakan singkatan dari Disaster Risk Reduction, Resilience, and Recovery, yakni konsep penanggulangan bencana yang menekankan pengurangan risiko, penguatan ketahanan masyarakat, serta pemulihan pascabencana secara berkelanjutan.
Melalui forum ini, para panelis dari dalam dan luar negeri akan berbagi pengalaman serta membahas strategi dan praktik terbaik dalam membangun ketahanan dan mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
Said menambahkan, penyelenggaraan DR3 Aceh 2026 juga menjadi refleksi perjalanan Aceh selama lebih dari dua dekade pascatsunami. Pengalaman tersebut menjadikan Aceh sebagai “laboratorium hidup” dalam membangun ketangguhan masyarakat dengan prinsip build back better.
Di tengah meningkatnya kompleksitas bencana global, mulai dari badai siklon hingga krisis kemanusiaan dan ketegangan geopolitik, konferensi ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Selain sesi konferensi, rangkaian kegiatan juga mencakup lokakarya, pameran, serta kunjungan lapangan ke lokasi terdampak bencana di Aceh. Kegiatan ini diharapkan mendorong dialog kritis, kolaborasi lintas negara, serta aksi nyata menuju masa depan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.[Mul]










