Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memanfaatkan momentum puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 untuk menguji fungsi dan efektivitas lima sensor sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) banjir yang terpasang di sejumlah sungai di Kota Banda Aceh.
Kepala BNPB, Suharyanto dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pengujian teknologi ini bertujuan untuk memastikan alat berfungsi optimal dan dapat memberikan tanda bahaya yang akurat kepada masyarakat.
“Uji coba ini dilakukan untuk menguji sejauh mana alat EWS ini berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat. Kita harus pastikan alat peringatan dini ini benar-benar terhubung dengan pusat kendali di BPBD,” kata dia.
Suharyanto menjelaskan bahwa teknologi EWS pemberian BNPB tersebut bekerja dengan mendeteksi kenaikan debit air sungai secara real-time, saat tinggi muka air mencapai level waspada, sensor akan mengirimkan data ke dasbor BPBD Kota Banda Aceh yang kemudian memicu aktivasi sirine evakuasi bagi warga.
Dalam simulasi yang digelar dari Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Minggu (26/4) tersebut, sirine yang terpasang di Kantor Kecamatan Baiturrahman berhasil diaktifkan tepat pukul 10.00 WIB sebagai tanda warga harus segera menuju ke Tempat Evakuasi Sementara (TES).
Selain di titik pemukiman, pengujian juga dilakukan di area publik, seperti kawasan car free day (CFD) untuk membiasakan warga merespons informasi bencana saat berada di luar rumah.
“Kesiapsiagaan bencana bukan hanya sekadar memiliki alat, namun memastikan alat itu berfungsi. Selain itu, masyarakat juga harus paham peran dan cara menyelamatkan diri saat mendengar sinyal dari alat tersebut,” kata dia.
Sekretariat HKB 2026 mencatat simulasi pengujian alat peringatan dini ini diikuti oleh sedikitnya 291.000 peserta yang tersebar di 34 provinsi, dengan menyesuaikan jenis kerawanan bencana di wilayah masing-masing.
“Peningkatan kesadaran ini harus dipelihara, karena bencana bisa datang setiap saat. HKB bukan seremoni, tapi pengingat agar alat dan perilaku masyarakat selalu siap,” kata Suharyanto.
Suharyanto berharap risiko jatuhnya korban jiwa dapat diminimalisasi melalui pemberian waktu evakuasi yang lebih cepat bagi masyarakat di daerah aliran sungai dari hadirnya infrastruktur EWS Banda Aceh.











