BANDA ACEH – PT Pembangunan Aceh (PEMA) bersiap melakukan ekspor tahap kedua kopi arabika Gayo ke Amerika Serikat (AS) pada awal Mei 2026. Langkah ini strategis untuk menjaga reputasi dan keberlanjutan pangsa pasar komoditas unggulan Aceh di tingkat global.
Direktur Utama PT PEMA Mawardi Nur menyebut pengiriman lanjutan ini menunjukkan posisi perusahaan yang mulai diperhitungkan dalam industri kopi internasional. Sebelumnya, PEMA telah mengekspor 19 ton kopi Gayo melalui kolaborasi dengan Sumatera Noble Coffee KSO, mitra lokal dan petani.
“Capaian ini merupakan bagian dari proses transformasi organisasi perusahaan. Keberlanjutan ekspor ini bukan semata soal peningkatan volume, tetapi lebih pada menjaga konsistensi kualitas, reputasi, dan akses pasar jangka panjang,” tegas Mawardi di Banda Aceh, Rabu (29/04).
Sementara itu, Direktur Komersial PT PEMA, Faisal Ilyas, menjelaskan bahwa ekspansi ini memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi Aceh, mulai dari petani hingga sektor logistik.
“Yang kita bangun bukan sekadar transaksi perdagangan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang memberikan nilai tambah secara berkelanjutan bagi Aceh,” ujar Faisal.
Selain mendongkrak devisa dan Pendapatan Asli Daerah (PAD), strategi ini, kata Faisal juga makin memperkuat identitas kopi Gayo sebagai produk premium.
Sejalan dengan itu, Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA, Naufal, menilai penguatan ekosistem dari hulu ke hilir akan meningkatkan kapasitas produksi dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Ia menargetkan Aceh menjadi salah satu pusat kopi specialty dunia.
“Kami melihat potensi besar untuk mengangkat seluruh rantai ekonomi masyarakat, mulai dari petani di tingkat hulu hingga pelaku industri dan eksportir di hilir,” kata Naufal.
Untuk menjamin kepercayaan pasar global, PT PEMA memastikan seluruh rantai pasok telah memenuhi standar kontrol kualitas (quality control) yang ketat serta prinsip-prinsip keberlanjutan sebelum diberangkatkan.










