Banda Aceh -Tim peneliti dari Universitas Syiah Kuala (USK) resmi terlibat dalam riset kolaboratif internasional bersama akademisi Australian National University (ANU), Edward Aspinall, untuk mengkaji dinamika perdamaian di Aceh (Indonesia) dan Bangsamoro (Filipina).
Penelitian ini merupakan bagian dari skema International Collaborative Research-Equity (ICR-E) yang didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui LPPM USK.
Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi riset global sekaligus menghasilkan kontribusi akademik yang signifikan dalam kajian perdamaian dan transformasi politik pascakonflik.
Ketua pelaksana riset, Rusli Yusuf, menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperdalam pemahaman akademik mengenai proses perdamaian di dua kawasan pascakonflik yang memiliki karakteristik unik namun relevan untuk dibandingkan.
“Penelitian ini bukan hanya membandingkan Aceh dan Bangsamoro dari sisi institusi politik, tetapi juga bagaimana eks-kombatan bertransformasi menjadi aktor politik yang berkontribusi terhadap stabilitas jangka panjang. Kami berharap hasilnya dapat memperkaya literatur global tentang peacebuilding berbasis pengalaman lokal,” ujar Prof. Rusli Yusuf.
Riset yang akan berlangsung pada Januari hingga Juli 2026 ini berfokus pada transformasi politik eks-kombatan, konsolidasi perdamaian, serta relasi antara aktor pascakonflik dengan institusi negara di kedua wilayah studi.
Sementara itu, Prof. Edward Aspinall menyambut baik kerja sama ini dan menilai bahwa Aceh dan Bangsamoro merupakan dua kasus penting dalam studi perdamaian kontemporer di Asia Tenggara.
“Kolaborasi ini memberikan kesempatan penting untuk memahami secara lebih komprehensif bagaimana proses perdamaian berkelanjutan dibangun di dua wilayah yang memiliki sejarah konflik panjang namun berhasil melakukan transisi politik yang signifikan. Saya berharap riset ini menghasilkan analisis yang mendalam dan komparatif,” ungkap Prof. Aspinall.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, tetapi juga memperkuat posisi akademik Indonesia dalam diskursus global mengenai transformasi politik pascakonflik, demokratisasi, dan pembangunan perdamaian berkelanjutan.










