Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature Sastra

“Kurông”, Monolog tentang Tubuh, Ruang, dan Kebebasan yang Mengundang Refleksi

redaksi by redaksi
21/06/2026
in Sastra
0
“Kurông”, Monolog tentang Tubuh, Ruang, dan Kebebasan yang Mengundang Refleksi

BANDA ACEH – Meski penuh sesak, ruangan Arifa Safura Studio tetap sunyi dan gelap, Sabtu (20/6/2026) kemarin. Di tengah temaram cahaya merah, penonton diarahkan duduk berjejal. Seorang perempuan membawa cemeti perlahan muncul dari belakang penonton.

Tak banyak properti yang digunakan. Namun, melalui gerak tubuh, suara, dan ekspresi yang intens, monolog “Kurông” berhasil menghadirkan pengalaman yang mengusik sekaligus mengajak penonton merenung.

Pertunjukan yang dipersembahkan Cut Nyak Institute itu dimainkan oleh Zikrayanti. Melalui bahasa tubuh dan simbol-simbol visual, “Kurông” berbicara tentang pengalaman keterbatasan, pengawasan, serta upaya manusia mempertahankan ruang kebebasannya.

Sepanjang pertunjukan, penonton diajak menyelami berbagai lapisan emosi. Mulai dari rasa takut, tertekan, hingga kemarahan yang muncul ketika seseorang merasa hak atas tubuh dan dirinya sendiri dibatasi oleh berbagai aturan maupun norma sosial.

Tidak hanya sebagai pertunjukan seni, “Kurông” kemudian berlanjut menjadi ruang dialog. Usai pementasan, penonton, seniman, dan pegiat komunitas terlibat dalam diskusi yang berlangsung hangat dan penuh refleksi.

Zikrayanti mengungkapkan bahwa karya tersebut lahir dari kegelisahan yang ia rasakan terhadap berbagai pengalaman sosial yang terjadi di sekitar masyarakat.

Menurutnya, seni menjadi medium untuk menyampaikan keresahan sekaligus membuka percakapan yang sering kali sulit dibahas dalam ruang formal.

“Seni memberi ruang untuk bertanya dan merefleksikan banyak hal yang mungkin selama ini kita anggap biasa,” ujarnya.

Diskusi semakin berkembang ketika Arifa Safura yang memandu forum mengangkat persoalan relasi tubuh, gender, dan kekuasaan. Ia menilai tubuh perempuan kerap menjadi objek pengawasan sekaligus perdebatan dalam berbagai konteks sosial.

Menurut Arifa, pertunjukan “Kurông” tidak hanya kuat dari sisi pesan, tetapi juga berhasil membangun pengalaman emosional melalui pendekatan artistik yang cermat. Permainan cahaya merah, bunyi logam, hingga elemen tangga yang menyerupai jeruji menciptakan suasana yang membuat penonton ikut merasakan keterbatasan yang ingin disampaikan.

“Penataan ruangnya membuat penonton tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga merasakan pengalaman yang dibangun di dalamnya,” kata Arifa.

Sejumlah penonton turut membagikan pengalaman dan pandangan mereka. Beberapa di antaranya mengaku menemukan kedekatan dengan tema yang diangkat, terutama terkait tekanan sosial, stereotip gender, dan ruang kebebasan berekspresi.

Penata artistik pertunjukan, Rozhatul Valica, menyoroti dampak stereotip gender yang tidak hanya dirasakan perempuan, tetapi juga laki-laki. Ia menilai berbagai konstruksi sosial yang membatasi ekspresi emosi maupun perilaku seseorang perlu terus dikritisi.

“Sering kali masyarakat memberikan penilaian yang berbeda terhadap tindakan yang sama hanya karena dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Stereotip yang dialami secara masif, orang menganggapnya sebagai norma,” ujarnya.

Diskusi juga menyinggung sejarah Aceh yang memiliki banyak tokoh perempuan berpengaruh. Para peserta melihat warisan sejarah tersebut sebagai pengingat bahwa ruang partisipasi perempuan sejatinya telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Aceh sejak lama.

Sementara itu, unsur musikal dalam pertunjukan mendapat perhatian tersendiri. Penata musik Farhan Ali menghadirkan komposisi yang memperkuat suasana batin sepanjang pementasan. Bunyi-bunyian yang muncul tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut membangun ketegangan dan emosi yang mengiringi setiap gerak pemain.

Melalui “Kurông”, Cut Nyak Institute menghadirkan seni pertunjukan sebagai ruang refleksi bersama. Karya ini menunjukkan bagaimana seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk mengangkat berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini[]

Previous Post

Rafly: Rakyat Memilih Mualem, Bukan Lingkaran Kekuasaan

Next Post

5.535 KK Terdampak Bencana di Pidie Jaya Mulai Terima Bantuan Jadup dan Stimulan Ekonomi

Next Post
5.535 KK Terdampak Bencana di Pidie Jaya Mulai Terima Bantuan Jadup dan Stimulan Ekonomi

5.535 KK Terdampak Bencana di Pidie Jaya Mulai Terima Bantuan Jadup dan Stimulan Ekonomi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Azhari Cage Gelar 4 Pilar di Paloh Dayah Lhokseumawe

Azhari Cage Gelar 4 Pilar di Paloh Dayah Lhokseumawe

21/06/2026
Nasir Djamil Desak Pelaku Pemotongan Tangan Warga Aceh Besar Diproses Hukum

Nasir Djamil Desak Pelaku Pemotongan Tangan Warga Aceh Besar Diproses Hukum

21/06/2026
5.535 KK Terdampak Bencana di Pidie Jaya Mulai Terima Bantuan Jadup dan Stimulan Ekonomi

5.535 KK Terdampak Bencana di Pidie Jaya Mulai Terima Bantuan Jadup dan Stimulan Ekonomi

21/06/2026
“Kurông”, Monolog tentang Tubuh, Ruang, dan Kebebasan yang Mengundang Refleksi

“Kurông”, Monolog tentang Tubuh, Ruang, dan Kebebasan yang Mengundang Refleksi

21/06/2026
Rafly: Rakyat Memilih Mualem, Bukan Lingkaran Kekuasaan

Rafly: Rakyat Memilih Mualem, Bukan Lingkaran Kekuasaan

21/06/2026

Terpopuler

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

Komisi III DPRA Apresiasi PT Samira Karena Serap Tenaga Kerja Lokal

19/06/2026

Rp1,4 Triliun Modal Daerah Dipertanyakan, IDeAS Desak Audit Total Tiga BUMA Aceh

Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

Haji Kamaruddin Terpilih sebagai Ketua Komite Percepatan Pemekaran Provinsi ABAS

ASDP Prioritaskan Pemulihan Korban dan Evaluasi Menyeluruh Pasca Insiden KMP Aceh Hebat 2

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com