Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyinggung komunisme masih menjadi ancaman terbesar Negeri Paman Sam dalam pidatonya merayakan HUT kemerdekaan AS ke-250 atau Fourth of July pada Sabtu (4/7).
Dalam perayaan ‘Salute to America 250’ di National Mall di Washington DC, Trump menyinggung ancaman komunisme saat ini banyak muncul dari para pendatang baru “yang memeluk ide-ide yang sepenuhnya bertentangan dengan cara hidup” bangsa AS.
Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan paham-paham yang bertentangan menurutnya itu meluas dan AS tidak akan pernah menjadi negara komunis.
“Amerika tidak akan pernah menjadi negara komunis. Tidak akan terjadi. Komunisme adalah pecundang (loser) dan akan selalu begitu,” ujar Trump dilansir CNN.
“Sistem komunis adalah kebalikan dari sistem Amerika dan sistem komunis tidak pernah berhasil,” lanjutnya.
Menurut Trump, para pejuang AS telah melawan komunisme. Dia mengatakan hal itu dilakukan agar komunisme tidak muncul di AS.
“Pejuang kita tidak melawan komunisme di medan perang di seluruh dunia hanya untuk membiarkan ancaman itu muncul kembali di sini, di Amerika,” katanya.
Trump mengibaratkan komunisme seperti kanker. Oleh karena itu, katanya, ‘kanker’ ini harus dipotong.
“Ini seperti kanker. Anda harus memotongnya. Anda harus memotongnya dengan cepat,” katanya.
Pidato itu menjadi pernyataan paling keras Trump soal isu komunisme dalam beberapa pekan terakhir. Ia telah berulang kali menyebut kemenangan sejumlah kandidat progresif dari Partai Demokrat sebagai ancaman serius bagi Amerika Serikat.
Trump mengaitkan isu tersebut dengan pemilu paruh waktu (midterm) yang akan digelar November mendatang. Menurut dia, Partai Republik hanya akan kalah jika gagal mempertahankan dukungan pemilih.
Retorika Trump menguat setelah empat kandidat progresif, termasuk tiga politikus berhaluan democratic socialist, memenangi pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York City dan Colorado.
Kandidat progresif juga meraih kemenangan di Kentucky, New Jersey, Ohio, Pennsylvania, dan Texas.
Pekan lalu, Trump bahkan menyebut kemenangan kubu progresif itu sebagai ancaman terbesar bagi Amerika sejak negara ini berdiri.
Pidato tersebut disampaikan ketika warga AS masih menghadapi tekanan inflasi dan tingginya harga bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran.










