Jakarta – Israel dilaporkan sedang mempersiapkan kemungkinan melakukan serangan sepihak ke Iran jika perang Washington vs Teheran berakhir.
Laporan ini muncul kala Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berselisih paham dalam menetapkan langkah memerangi Iran yang sudah berlangsung hampir setengah tahun.
Di satu sisi, Trump berupaya menyeret Iran manut dalam negosiasi mengakhiri perang. Namun, di sisi lain, Netanyahu ogah mengikuti kehendak Trump untuk berdamai dengan Teheran.
Media lokal Israel, Channel 13 Israel, melaporkan Tel Aviv terus membuka opsi melancarkan serangan ke Iran tanpa keterlibatan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, militer Israel juga tengah mempersiapkan serangan saat AS berusaha mencari “jalan keluar” untuk menghentikan perang dengan Iran.
Terpisah, PM Netanyahu mengeklaim Iran bermaksud terus mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang mengancam dan dianggap sangat berbahaya bagi Israel.
“Sebagai Perdana Menteri Israel, saya bertekad mencegah Iran dari senjata nuklir,” kata Netanyahu pekan lalu, dikutip Al Jazeera.
Seberapa kuat Israel hingga bisa menyerang Iran sendirian?
Sejumlah pakar memang sudah menduga Israel merencanakan serangan unilateral ke Iran. Mereka juga menilai tindakan itu satu-satunya yang Tel Aviv punya untuk mencegah apa yang selama ini mereka takutkan dan gembor-gemborkan.
“Israel hanya punya satu strategi menyerang langsung ancaman yang mengancam global dan melakukannya sendiri, jika perlu,” kata peneliti senior di Institut Keamanan Nasional Misgav Israel, Kobi Michael, dikutip Al Jazeera.
Pakar lain menganggap rencana Israel semacam itu jadi upaya Netanyahu mengalihkan kekacauan politik di dalam negeri. Dia tengah diselidiki karena tuduhan korupsi hingga didesak mundur dari kursi PM.
Mantan diplomat AS Aaron David punya pandangan berbeda. Dia menilai Israel tak mungkin melancarkan tindakan ke Iran sendiri.
“Hal seperti itu mungkin terjadi jika Iran atau Hizbullah menyerang Israel secara langsung,” kata David.
Dia lalu berujar, “Tetapi pembicaraan soal Israel menyerang Iran sekarang, ketika negosiasi Amerika Serikat sudah sangat dekat dengan kesimpulan adalah hal yang mustahil.”
David menyoroti hubungan panas dingin antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Netanyahu. Politikus Republik itu pernah murka ke PM Israel karena sejumlah hal.
Salah satunya saat Netanyahu memberi tahu Trump soal uranium Iran yang sudah diperkaya dan dituduh disembunyikan di Pickaxe Mountain.
“Saya tak butuh Bibi memberi tahu saya soal itu. Bibi memberi tahu karena dia ingin saya terlibat,” kata Trump merujuk ke sapaan akrab Netanyahu.
Di luar itu, AS sedang mengupayakan penghentian perang dengan Iran tanpa melibatkan Israel dan melanjutkan fase kedua gencatan senjata Israel-Hamas menunjukkan perubahan hubungan.
Meski demikian, AS akan terus menggelontorkan bantuan militer ke Israel dan ini harus betul-betul diperhatikan.
“Izinkan saya memperjelas. Netanyahu punya peran besar dalam bagaimana perang ini dimulai. Dia tidak akan memiliki peran dalam bagaimana perang ini beralih ke fase berikutnya,” ungkap David.
Kekuatan militer Israel
Setelah agresi di Palestina selama lebih dari dua tahun, perang rudal dengan Iran berkali-kali, kekuatan militer Israel tentu tak setangguh dulu.
Hal yang paling kentara yakni anggota militer yang berkurang dan personel yang banyak mengalami kekalahan mental atau burn out.
Para pemimpin militer Israel dan tokoh-tokoh oposisi juga sudah memperingatkan bahwa militer hampir runtuh di bawah tekanan perang multi-front, karena kekurangan pasukan dan strategi yang tak jelas.
Kekhawatiran juga semakin meningkat mengenai keberlanjutan pertahanan Israel.
Menurut laporan, rudal pencegat Arrow 2 dan Arrow 3 Israel mengalami penurunan paling tajam, dengan hanya 122 dari 150 unit yang digunakan. Artinya 81 persen rudal mereka sudah habis, demikian dikutip Anadolu Agency.
Di sisi ofensif, Israel menggunakan 56 persen rudal Blue Sparrow dan 49 persen rudal Rampage.
Desakan internal
Di luar itu, popularitas Netanyahu juga menurun. Para analis politik mencatat jika perang betul-betul berakhir dan situasi stabil, tekanan publik menggelar pemilu dini akan sangat masif.
Pakar urusan Israel, Adel Sheded, mengatakan penolakan Netanyahu soal upaya AS termasuk perihal Gaza dan Iran sangat terkait dengan kelangsungan politik domestiknya menjelang pemilihan Oktober.
“Netanyahu sedang menunggu kesempatan ini untuk mengatakan ‘tidak’ besar-besaran kepada Presiden Trump agar bisa mengendalikan debat, propaganda, dan kampanye pemilihan,” ujar Sheded, dikutip Al Jazeera.
Sementara itu, menurut jajak pendapat, banyak warga Israel yang tak lagi percaya ke pemerintahan Netanyahu.
Pada Juli lalu, media Israel Chanel 12 merilis jajak pendapat yang menunjukkan partai baru bentukan Eisenkot, Yashar, lebih unggul dari partai Netanyahu, Likud, dengan perolehan 23 kursi dibanding 22 kursi.
Survei itu juga mengungkapkan 43 persen responden menganggap Eisenkot sebagai kandidat yang paling cocok untuk menjadi perdana menteri. Sementara itu, sebanyak 34 persen meyakini Netanyahu tetap di kursi PM.










