PRIA berperut buncit di samping-ku tertawa lepas. Demikian juga dengan dua pria lainnya yang duduk di depanku. Aku melihat ke arah perutnya sambil tersenyum.
Kami berempat dalam satu mobil. Ketiga rekan dalam perjalanan ini merupakan mantan se-kamp saat masih bergerilya dulu.
Pria buncit tadi biasa dipanggil Rusli. Ia adik dari almarhum Rahmad, kawan seangkatan yang masuk GAM bersama-ku. Setelah Rahmad meninggal dalam kontak tembak dengan Tentara Republic pertengahan tahun 2001, Rusli bergabung untuk meneruskan ‘perjuangan’ sang almarhum.
Saat bergabung dengan Tentara Nanggroe, Rusli masih berumur 18 tahun dan badannya agak kekar. Namun kini setelah hampir 25 tahun berlalu, tubuhnya malah melebar ke samping.
“Aku tak pernah latihan lagi. Masakan istriku juga lumayan enak,” ujar Rusli seperti mengerti apa yang aku pikirkan.
Rusli menikah dengan anak kepala desa usai damai. Konon, mereka sama sama jatuh cinta saat di masa sekolah. Begitu damai, Rusli datang melamar dan langsung diterima. Kini mereka memiliki tiga anak yang sudah berusia sekolah.
Istri Rusli juga seorang bidan kampung.
“Terus terang aku sedikit cemburu dengan kehidupan sekarang. Semoga selalu bahagia,” ujarku pada Rusli. Ia terlihat tersenyum lebar mendengar ucapanku.
Sedangkan di bagian depan, ada Iwan dan Mustafa. Mustafa menjadi sopir kami dalam perjalanan ini. Sedangkan Iwan duduk di sisi kiri Mustafa.
Mereka bertiga hampir seangkatan saat jadi Tentara Nanggroe. Dalam hal daftar dan umur, aku mungkin lebih senior beberapa tahun dari mereka. Namun dalam hal jabatan dalam structural komando setelah damai, aku kini harus memanggil mereka ‘Pang.’
“Pakwa. Apa komunikasi dengan Mualem masih selancar dulu?” tanya Mustafa dari arah depan tiba-tiba. Ia bertanya tanpa menatap ke arahku dan focus melihat jalan yang mulai gelap.
Aku terdiam mendengar pertanyaan ini.
“Tidak,” ujarku singkat.
Suasana sedikit berubah seusai mereka mendengar jawabanku.
“Bisa dimaklumi. Sekarang beliau kepala daerah,” kata Mustafa mencoba mencair suasana.
“Ya,” jawabanku lagi kemudian. Iwan dan Rusli terlihat mengangguk bareng. Sedangkan aku kembali terdiam.
“Kalau Kak Muti ngimana kabarnya sekarang?” tiba-tiba pertanyaan itu terdengar dari arah Iwan.
Aku sedikit tersentak. Tapi kemudian mencoba menguasai keadaan. “Baik,” kataku singkat tanpa menoleh. Jawaban ini lagi-lagi membuat suasana terasa canggung. Entah mereka bertiga mengetahui sesuatu tentangku yang negatif.
[Bersambung]
Baca Juga:
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)