Sedangkan Dani dan Nyak Har merapat sekitar 30 menit kemudian. Hampir 25 orang berkumpul.
Saat itu, Bang Yan tiba-tiba menelponku. Tanpa sengaja aku menekan pengeras suara. Pembicaraan kami didengar oleh semua yang hadir.
“Kamu dimana?”ujarnya di seberang telepon.
“Di tempat biasa. Krueng Geukuh,” jawabku kemudian.
Sosok di seberang kemudian terdiam beberapa saja.
“Aku butuh kalian di Kutaradja. Kumpulkan segera semua pasukan yang ada. Aku ingin kalian tiba sebelum magrib,” ujarnya.
“Seberapa banyak anggota yang harus saya kumpulkan?”tanyaku lagi.
“Sebanyak dan secepat mungkin,” ujar dia sambil menutup telepon. Singkat dan padat.
Aku sempat terdiam beberapa saat usai panggilan tadi. Meskipun Bang Yan tidak menjelaskan tujuan keberadaan kami di Kutaradja, tapi aku bisa menebak arah keperluan mendesak tersebut.
Namun untuk mengangkut seluruh eks pasukan pengawal kantor wilayah Pase ke sana memerlukan kendaraan dan logistic yang besar. Aku mulai kalkulasi biaya yang diperlukan, termasuk kemungkinan bermalam di Kutaradja dalam waktu yang lama.
Pasalnya, meminta logistic sama Bang Yan, mungkin justru aku yang kena semprot. Tapi di sisi lain, yang disampaikan Bang Yan adalah peunutoh.
“Rambo, kamu hubungi beberapa saudagar di Pase bahwa kita perlu mobil. Minimal 3 unit. Sekitar satu jam lagi kita perlu berangkat ke Kutaradja,” ujarku. Sosok itu mengangguk dan kemudian terlihat sibuk dengan telepon.
Tidak ada anggota pasukan yang berani bertanya. Wajah mereka justru terlihat cerah seolah hendak bertamasya ke ibukota. Mereka terlihat sangat berharap diajak ke Kutaradja.
“Pakwa. Sudah ada 3 mobil seperti permintaan. Sebentar lagi di antar ke sini plus sudah diisi bensinnya. Kita cuma pakai dan terserah mau digunakan berapa hari,” ujar Rambo sambil tersenyum bangga. Kemampuannya untuk mengeksekusi perintah memang tak ada duanya.
Aku kemudian mulai menghitung jumlah pasukan yang hadir. “3 Mobil tak muat untuk menampung semuanya. Tapi semakin sedikit yang berangkat, logistic yang diperlukan juga bisa ditangani,” gumamku dalam hati.
“Aku cuma perlu 13 orang berangkat ke Kutaradja. Di luar aku dan Rambo. Yang lain tinggal,” ujarku kemudian.
Perkataanku ini membuat sejumlah anggota pasukan terlihat lesu. Tiba-tiba muncul ide di kepala dan ini juga sesuai harapan dari Bang Yan.
“Kalau kalian tetap ingin berangkat, mobil dan keperluan dalam perjalanan, cari sendiri. Aku tunggu di Kutaradja,” ujarku kemudian memancing.
Dani tersenyum puas. Demikian juga dengan beberapa anggota yang lain. Mereka kemudian mengambil telepon dan menepi. Dalam hati, aku tersenyum penuh kemenangan.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 16
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


