Aku menutup mata dan pura pura tidur tanpa menunggu jawaban dari Rambo. “Ini peunutoh.”
Pikiranku tiba-tiba melayang untuk mencari siapa sosok yang belakangan ini kerap datang ke rumah. Meski kata Muti, mereka bukan pasukan Pase, tapi aku yakin kedatangan mereka pasti secara tidak langsung berhubungan atau beririsan dengan Pase. Pasalnya, dalam struktur komando wilayah Pase, sangat sedikit yang mengetahui rumah milik orangtua Muti, tempat tinggalku saat ini.
Hanya beberapa anggota pasukan, seperti Rambo dan Dani, yang pernah datang ke sana. selebihnya adalah kerabatku dan kerabat Muti.
Dalam struktur Pase, yang berani cari gara-gara denganku juga dapat dihitung dengan jari. Orang yang bisa dan berani memerintahku saat ini juga cuma tiga orang. Pertama Mualem, kedua Bang Yan dan terakhir adalah Teungku Ni.
Untuk Mualem, aku memiliki komunikasi langsung dengan panglima tertinggi Tentara Nanggroe itu. Kalau dia tidak setuju dengan apa yang kami lakukan di Kutaradja, harusnya dia bisa langsung menelponku untuk mundur teratur. Namun hingga saat ini, Mualem tak melakukan hal tersebut, sehingga dengan kata lain, ada restu terselubung darinya terkait rangkaian kegiatan di Kutaradja.
Bagi Mualem, sosok Bang Wandi dan Bang Yan juga memiliki peran yang sangat penting baginya selama masa konflik. Keduanya juga ahli propaganda yang mengorbit serta menutup kekurangan Mualem dibalik layar.
Tanpa Bang Wandi dan Bang Yan, gelar panglima yang dimiliki Mualem, hanyalah cangkang kosong.
Jadi tak mungkin Mualem bermain siasat denganku. Demikian juga dengan Bang Yan. Aku melaksanakan perintahnya dan tak mungkin dibalas dengan pura-pura meneror keluargaku.
Terakhir, adalah Teungku Ni, yang juga Mualimin eks Tripoly. Ia ideolog yang cukup disegani oleh para Mualimin Eks Tripoli lintas generasi lainnya di seluruh Aceh. Sosok ini cukup disegani dan digadang-gadang sebagai calon panglima tertinggi selanjutnya. Berbeda dengan sosok Mualem yang perlu ada Bang Wandi dan Bang Yan untuk membungkus karakternya, Teungku Ni justru berkarakter keras serta teguh pendirian.
Teungku Ni juga memiliki komunikasi dengan para elit di Swedia. Kekurangannya, ia berada se-zaman dengan Bang Yan yang ahli siasat serta paham dengan dinamika. Teungku Ni dan Bang Yan sama-sama berasal dari Pase.
Bagi kami Tentara Pase, jika ingin meluluhkan hati Mualem, cukup komunikasi dengan Bang Yan. Sedangkan jika ingin memperoleh info dan peunutoh terbaru dari elit di Swedia, cukup datang dan bertanya pada Teungku Ni.
Dua-duanya benar-benar matahari kembar dari Pase.
Memikirkan hal ini, mataku tiba-tiba terbelalak. Responku yang tiba-tiba membuat Rambo tersentak. Ia mengerem mobil tiba-tiba. Saat itu, mobil yang kami tumpangi sudah memasuki kawasan Laweung, Kabupaten Pidie.
Aku mengambil handphone dan menghubungi salah satu nomor di sana. Ia seorang pengawal Mualem.
“Bleh. Apa Mualem ada di Lhokseumawe,” tanyaku.
“Ada. Di tempat biasa,” jawab dia.
“Baik. Mohon disampaikan bahwa nanti malam aku datang. Ada keperluan penting,” ujarku lagi.
“Baik,” balasnya singkat.
[Bersambung]
Baca juga:
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 21
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 22
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 23
Sang Kombatan [Jilid 2] Bagian 24
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)







![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)

